31.4 C
Jakarta
Senin, 26 Oktober, 2026

Harga Bitcoin Anjlok ke US$79.518, ETF BTC Kehilangan US$773 Juta dan Support US$80.000 Jebol

Harga Bitcoin (BTC) kembali mengalami tekanan pada perdagangan Senin, 26 Oktober 2026. Aset kripto terbesar di dunia tersebut melemah 1,55% menjadi US$79.518 atau sekitar Rp1,43 miliar per koin, setelah arus dana investor institusional melalui exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot Amerika Serikat mengalami pembalikan tajam.

Pelemahan tersebut membuat Bitcoin turun di bawah level psikologis US$80.000, yang sebelumnya menjadi salah satu area support penting bagi pelaku pasar.

Berdasarkan data perdagangan hingga pukul 09.21 WIB, Bitcoin bergerak pada kisaran Rp1,434 miliar hingga Rp1,464 miliar per koin.

Sementara itu, kapitalisasi pasar Bitcoin tercatat sekitar Rp28,93 kuadriliun, dengan volume perdagangan dalam 24 jam mencapai Rp255,88 triliun.

Tekanan jual tidak hanya terjadi pada perdagangan harian. Dalam tujuh hari terakhir, Bitcoin telah terkoreksi 3,38%, sedangkan dalam 30 hari terakhir pelemahannya mencapai 5,37%.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar kripto masih menghadapi ketidakpastian, terutama setelah ETF Bitcoin spot AS mencatat penarikan dana bersih ratusan juta dolar dalam waktu singkat.

Harga Bitcoin Turun di Bawah US$80.000

Penurunan Bitcoin menuju US$79.518 menjadi perhatian karena harga telah bergerak melewati level psikologis US$80.000.

Dalam analisis teknikal, support merupakan area harga ketika permintaan beli berpotensi meningkat sehingga dapat memperlambat atau menghentikan penurunan.

Namun, support bukan batas yang pasti mampu menahan harga.

Ketika tekanan jual lebih besar dibandingkan permintaan, Bitcoin dapat bergerak di bawah area tersebut.

Pada perdagangan terbaru, harga BTC berada sekitar US$482 atau 0,6% di bawah level US$80.000.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pembeli belum mampu mempertahankan area psikologis tersebut pada saat data perdagangan dicatat.

Meski demikian, penurunan sementara di bawah support belum selalu mengonfirmasi tren bearish yang lebih panjang.

Pelaku pasar masih perlu memperhatikan apakah Bitcoin mampu kembali menembus US$80.000 atau justru bertahan di bawahnya.

ETF Bitcoin Spot AS Catat Arus Keluar US$773,5 Juta

Salah satu faktor yang membayangi harga Bitcoin adalah melemahnya arus dana pada ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat.

Berdasarkan data yang dilaporkan Warta Ekonomi, ETF Bitcoin spot AS mengalami arus keluar bersih sebesar US$773,5 juta selama dua hari perdagangan, yakni 22–23 Oktober 2026.

Jumlah tersebut menunjukkan perubahan sentimen yang cukup tajam setelah produk investasi tersebut sebelumnya menerima arus masuk dana.

ETF Bitcoin spot memungkinkan investor memperoleh eksposur terhadap Bitcoin melalui instrumen yang diperdagangkan di bursa efek.

Produk tersebut menjadi salah satu jalur investasi yang digunakan oleh investor institusional maupun investor lainnya.

Karena itu, perubahan arus dana ETF sering diperhatikan sebagai indikator permintaan terhadap Bitcoin.

Ketika arus keluar meningkat, pasar dapat menafsirkan kondisi tersebut sebagai tanda berkurangnya eksposur sebagian investor terhadap BTC.

Namun, arus keluar ETF tidak selalu dapat dianggap sebagai satu-satunya penyebab perubahan harga.

Perdagangan spot, pasar derivatif, kondisi makroekonomi, dan aktivitas investor besar juga dapat memengaruhi pergerakan Bitcoin.

Bitcoin diprediksi anjlok

ETF Bitcoin Kehilangan US$635,6 Juta dalam Sehari

Tekanan arus dana terbesar terjadi pada Kamis, 22 Oktober 2026.

Pada perdagangan tersebut, ETF Bitcoin spot AS mencatat arus keluar bersih sekitar US$635,6 juta.

Angka tersebut merupakan penarikan dana harian terbesar sejak Juni 2026, berdasarkan laporan yang dikutip Warta Ekonomi.

Perkembangan ini cukup mencolok karena pada sesi perdagangan sebelumnya ETF Bitcoin spot masih mencatat arus masuk bersih sebesar US$524,8 juta.

Dengan demikian, pasar mengalami pembalikan arus dana dari positif menjadi negatif dalam waktu singkat.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa permintaan terhadap produk investasi Bitcoin dapat bergerak cepat mengikuti kondisi pasar.

Investor institusional juga dapat menyesuaikan eksposur berdasarkan strategi pengelolaan risiko, perubahan harga, dan kondisi likuiditas.

Karena itu, arus masuk dana dalam satu sesi belum tentu berlanjut pada sesi perdagangan berikutnya.

Arus Keluar Berlanjut pada 23 Oktober

Tekanan terhadap ETF Bitcoin spot AS berlanjut pada Jumat, 23 Oktober 2026.

Pada hari tersebut, produk ETF Bitcoin spot kembali mencatat arus keluar bersih sebesar US$137,9 juta.

Jika digabungkan dengan arus keluar pada 22 Oktober, total penarikan dana mencapai US$773,5 juta.

Meski nilai arus keluar pada 23 Oktober lebih kecil dibandingkan hari sebelumnya, kelanjutan penarikan dana menunjukkan bahwa sentimen pasar belum sepenuhnya pulih.

Perkembangan tersebut menjadi perhatian karena ETF merupakan salah satu sumber permintaan Bitcoin yang penting dalam ekosistem investasi modern.

Namun, untuk mengetahui apakah tekanan institusional berlangsung secara berkelanjutan, investor perlu memperhatikan data beberapa sesi perdagangan berikutnya.

Arus keluar selama dua hari belum cukup untuk memastikan perubahan tren investasi jangka panjang.

Mengapa Arus Keluar ETF Bisa Menekan Harga Bitcoin?

ETF Bitcoin spot memiliki mekanisme yang berkaitan dengan kepemilikan Bitcoin sebagai aset dasar.

Dalam proses penciptaan dan penebusan unit ETF, pihak yang terlibat dapat melakukan transaksi atau penyesuaian eksposur terhadap Bitcoin.

Karena itu, perubahan permintaan terhadap unit ETF dapat memengaruhi aktivitas di pasar aset dasar, meskipun dampaknya bergantung pada mekanisme operasional masing-masing produk.

Ketika arus keluar bersih terjadi dalam jumlah besar, pasar dapat menghadapi tekanan tambahan apabila terdapat aktivitas penjualan Bitcoin atau penyesuaian lindung nilai.

Selain dampak transaksi, arus keluar ETF juga dapat memengaruhi psikologi investor.

Sebagian pelaku pasar menggunakan data ETF untuk menilai kekuatan permintaan institusional.

Jika data menunjukkan penarikan dana yang besar, trader dapat menjadi lebih berhati-hati dalam membuka posisi beli.

Namun, penting untuk membedakan antara hubungan dan sebab-akibat.

Harga Bitcoin dapat turun bersamaan dengan arus keluar ETF karena keduanya merespons faktor pasar yang sama.

Likuidasi Leverage Memperbesar Tekanan Pasar

Selain arus keluar ETF, pelemahan Bitcoin juga dikaitkan dengan likuidasi posisi perdagangan yang menggunakan leverage.

Dalam pasar derivatif kripto, leverage memungkinkan trader membuka posisi dengan nilai lebih besar dibandingkan modal awal.

Misalnya, trader yang menggunakan leverage 10 kali dapat memiliki eksposur senilai 10 kali modal yang ditempatkan.

Strategi tersebut dapat meningkatkan potensi keuntungan, tetapi sekaligus memperbesar risiko kerugian.

Ketika harga Bitcoin bergerak berlawanan dengan posisi trader dan margin tidak lagi mencukupi, posisi dapat dilikuidasi secara otomatis.

Apabila banyak posisi beli mengalami likuidasi ketika harga turun, aktivitas penutupan posisi dapat menambah tekanan pasar.

Fenomena ini sering disebut sebagai rangkaian likuidasi atau liquidation cascade.

Namun, besarnya dampak likuidasi terhadap pergerakan Bitcoin pada 26 Oktober perlu dikonfirmasi menggunakan data derivatif yang terperinci.

cara beli bitcoin Rp10,000 2

Mengapa US$80.000 Menjadi Level Penting?

Level US$80.000 memiliki arti psikologis karena merupakan angka bulat yang mudah digunakan sebagai acuan perdagangan.

Trader sering memperhatikan area seperti US$80.000, US$85.000, atau US$90.000 untuk menentukan strategi pembelian dan penjualan.

Namun, angka psikologis bukan satu-satunya dasar pembentukan support atau resistance.

Kekuatan suatu level juga dipengaruhi oleh aktivitas transaksi sebelumnya, konsentrasi order, volume perdagangan, dan struktur harga.

Ketika Bitcoin berada di bawah US$80.000, pasar akan memperhatikan apakah pembeli mampu mendorong harga kembali ke atas area tersebut.

Jika harga berhasil pulih dan bertahan di atasnya, penurunan sebelumnya dapat terbukti bersifat sementara.

Sebaliknya, apabila Bitcoin terus diperdagangkan di bawah level tersebut, sentimen bearish dapat bertahan lebih lama.

Apakah Bitcoin Bisa Kembali ke US$80.000?

Dari harga US$79.518, Bitcoin membutuhkan kenaikan sekitar 0,61% untuk kembali mencapai US$80.000.

Secara persentase, jarak tersebut relatif kecil dibandingkan volatilitas yang biasa terjadi di pasar kripto.

Namun, kemampuan Bitcoin kembali menembus US$80.000 tidak hanya bergantung pada besarnya kenaikan yang dibutuhkan.

Investor juga perlu memperhatikan apakah terdapat permintaan yang cukup kuat untuk mempertahankan harga setelah level tersebut tercapai.

Jika Bitcoin hanya bergerak sebentar di atas US$80.000 sebelum kembali turun, pemulihan tersebut belum tentu mencerminkan perubahan tren.

Sebaliknya, apabila harga mampu membangun struktur kenaikan yang lebih stabil, peluang pemulihan jangka pendek dapat meningkat.

Volume perdagangan dan arus dana ETF dapat menjadi indikator pendukung untuk menilai kekuatan pergerakan tersebut.

Koreksi Bitcoin Capai 3,38% dalam Sepekan

Tekanan harga Bitcoin tidak hanya terlihat dalam satu hari perdagangan.

Dalam tujuh hari terakhir, BTC dilaporkan turun 3,38%.

Sementara itu, dalam 30 hari terakhir, harga Bitcoin terkoreksi 5,37%.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pelemahan telah berlangsung dalam periode yang lebih panjang daripada satu sesi perdagangan.

Namun, penurunan dalam satu minggu atau satu bulan belum otomatis berarti Bitcoin memasuki pasar bearish jangka panjang.

Untuk menilai tren yang lebih luas, analis biasanya memperhatikan struktur harga pada beberapa kerangka waktu.

Indikator yang dapat digunakan mencakup rata-rata bergerak, titik tertinggi dan terendah harga, serta perubahan momentum.

Investor juga perlu membedakan koreksi jangka pendek dari perubahan fundamental terhadap permintaan Bitcoin.

Kapitalisasi Pasar Bitcoin Capai Rp28,93 Kuadriliun

Meskipun harga mengalami penurunan, Bitcoin masih memiliki kapitalisasi pasar yang sangat besar.

Berdasarkan data yang dikutip Warta Ekonomi, kapitalisasi pasar BTC mencapai sekitar Rp28,93 kuadriliun.

Kapitalisasi pasar aset kripto secara umum dihitung dengan mengalikan harga per koin dengan jumlah pasokan yang beredar.

Angka tersebut menggambarkan nilai pasar teoretis dari seluruh Bitcoin yang beredar, bukan jumlah uang tunai yang tersimpan di pasar.

Sementara itu, volume transaksi Bitcoin dalam 24 jam mencapai Rp255,88 triliun.

Volume perdagangan menggambarkan nilai aktivitas jual beli dalam periode tertentu.

Namun, volume besar tidak otomatis menunjukkan dominasi pembeli karena transaksi jual dan beli selalu terjadi secara berpasangan.

Karena itu, volume perlu dianalisis bersama perubahan harga dan indikator lain.

Ethereum Ikut Turun 2,45%

Tekanan pasar kripto juga terlihat pada Ethereum (ETH).

Aset kripto terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi pasar tersebut turun 2,45% menjadi sekitar Rp41,65 juta per koin.

Penurunan Ethereum lebih besar dibandingkan koreksi harian Bitcoin yang mencapai 1,55%.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa masing-masing aset kripto dapat merespons kondisi pasar dengan intensitas berbeda.

Ethereum memiliki ekosistem penggunaan yang mencakup kontrak pintar, aplikasi terdesentralisasi, dan berbagai aktivitas blockchain.

Namun, aktivitas ekosistem tidak membuat ETH kebal terhadap perubahan sentimen pasar global.

Ketika investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, tekanan jual dapat meluas ke berbagai kelompok aset kripto.

Solana, BNB, dan XRP Juga Melemah

Selain Bitcoin dan Ethereum, sejumlah altcoin utama juga mengalami penurunan.

Binance Coin (BNB) melemah 0,75% menjadi Rp13,33 juta per koin.

Solana (SOL) terkoreksi 1,23% menjadi Rp1,83 juta, sedangkan XRP turun 1,17% menjadi Rp23.323.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga terjadi secara lebih luas di pasar kripto.

Namun, besarnya penurunan setiap aset berbeda.

Perbedaan ini dapat dipengaruhi oleh likuiditas, aktivitas perdagangan, kondisi teknikal, serta perkembangan yang berkaitan dengan masing-masing proyek.

Investor perlu memahami bahwa pergerakan altcoin tidak selalu identik dengan Bitcoin.

Dalam beberapa periode, altcoin dapat mengalami volatilitas lebih tinggi dibandingkan BTC.

Apakah Penurunan Bitcoin Menjadi Peluang Akumulasi?

Ketika Bitcoin mengalami koreksi, sebagian investor jangka panjang dapat melihat penurunan harga sebagai kesempatan untuk mengevaluasi kembali strategi akumulasi.

Namun, harga yang lebih rendah dibandingkan beberapa hari sebelumnya tidak otomatis berarti Bitcoin sudah murah secara fundamental.

Nilai wajar Bitcoin sulit ditentukan menggunakan metode yang sama seperti saham atau obligasi karena BTC tidak menghasilkan arus kas kontraktual bagi pemegangnya.

Karena itu, keputusan investasi membutuhkan pendekatan yang mempertimbangkan kondisi pasar, risiko volatilitas, dan tujuan keuangan.

Investor juga perlu memperhatikan kemampuan menghadapi kemungkinan penurunan lebih lanjut.

Strategi pembelian bertahap atau dollar-cost averaging dapat membantu mengurangi ketergantungan pada satu harga pembelian, tetapi tidak menjamin keuntungan maupun mencegah kerugian.

Tiga Skenario Pergerakan Bitcoin Selanjutnya

Pergerakan Bitcoin setelah turun di bawah US$80.000 dapat dianalisis melalui beberapa skenario.

Skenario pertama, pemulihan jangka pendek. Bitcoin kembali bergerak di atas US$80.000 dan mampu mempertahankan kenaikan dengan dukungan permintaan.

Dalam kondisi tersebut, pasar dapat mulai menilai apakah tekanan jual sebelumnya telah mereda.

Skenario kedua, konsolidasi. Bitcoin bergerak naik dan turun di sekitar US$80.000 tanpa membentuk arah tren yang jelas.

Kondisi tersebut dapat terjadi ketika pembeli dan penjual masih mencari keseimbangan harga baru.

Skenario ketiga, koreksi lanjutan. Bitcoin gagal kembali ke atas US$80.000 dan tekanan jual tetap meningkat.

Dalam skenario ini, investor perlu memantau pembentukan zona support berikutnya berdasarkan aktivitas harga dan volume perdagangan.

Ketiga skenario tersebut merupakan kemungkinan teknikal, bukan kepastian mengenai arah harga Bitcoin.

harga bitcoin

Apa yang Perlu Dipantau Investor?

Dalam beberapa sesi perdagangan berikutnya, perhatian pasar dapat tertuju pada perkembangan arus dana ETF Bitcoin spot AS.

Jika arus keluar bersih terus berlanjut, kondisi tersebut dapat menunjukkan bahwa permintaan melalui instrumen ETF masih menghadapi tekanan.

Sebaliknya, apabila arus dana kembali positif, sentimen pasar dapat memperoleh dukungan.

Investor juga perlu memperhatikan perkembangan pasar derivatif, terutama posisi leverage dan aktivitas likuidasi.

Dari sisi teknikal, kemampuan Bitcoin kembali bergerak di atas US$80.000 menjadi salah satu indikator penting.

Selain itu, kondisi ekonomi global dan perubahan selera risiko investor tetap berpotensi memengaruhi pergerakan aset kripto.

Kesimpulan

Harga Bitcoin turun 1,55% menjadi US$79.518 atau sekitar Rp1,43 miliar per koin pada perdagangan Senin, 26 Oktober 2026.

Pelemahan tersebut terjadi bersamaan dengan arus keluar bersih ETF Bitcoin spot Amerika Serikat sebesar US$773,5 juta selama 22–23 Oktober.

Penarikan dana terbesar terjadi pada 22 Oktober sebesar US$635,6 juta, kemudian berlanjut pada 23 Oktober sebesar US$137,9 juta.

Dalam sepekan terakhir, Bitcoin telah terkoreksi 3,38%, sedangkan selama 30 hari turun 5,37%.

Penurunan BTC juga diikuti Ethereum, Solana, BNB, dan XRP, yang sama-sama mengalami tekanan harga.

Ke depan, kemampuan Bitcoin merebut kembali level US$80.000 serta perkembangan arus dana ETF akan menjadi dua indikator penting untuk menilai peluang pemulihan pasar.

Meski demikian, volatilitas dan risiko koreksi masih perlu diperhatikan karena penguatan dalam jangka pendek belum tentu menunjukkan perubahan tren secara berkelanjutan.

Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi investasi. Harga aset kripto dapat berubah secara cepat dan memiliki risiko kerugian yang tinggi.

Iklan

mau tayang di media lain juga

ARTIKEL TERBARU