34.5 C
Jakarta
Senin, 12 Oktober, 2026

AS Dikabarkan Bakal Pangkas Obligasi Jangka Panjang, Apa Dampaknya bagi Harga Bitcoin?

AS dikabarkan bakal pangkas obligasi jangka panjang. Apakah ini akan berdampak bagi harga Bitcoin?

Pasar keuangan global tengah mencermati kemungkinan perubahan strategi pembiayaan utang pemerintah Amerika Serikat (AS). Departemen Keuangan AS diperkirakan akan mengurangi penerbitan obligasi jangka panjang dan meningkatkan penggunaan surat utang berjangka pendek untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan negara.

Perubahan tersebut berpotensi memengaruhi pasar obligasi, pergerakan suku bunga, serta sentimen investor terhadap aset berisiko seperti Bitcoin (BTC).

Berdasarkan analisis Citigroup yang dilaporkan BeInCrypto pada Senin, 12 Oktober 2026, Departemen Keuangan AS diperkirakan akan memangkas nilai lelang obligasi tenor 20 tahun dan 30 tahun masing-masing sebesar US$3 miliar.

Bahkan, Citigroup memperkirakan adanya kemungkinan pemerintah AS menghentikan penerbitan obligasi tenor 20 tahun.

Meski demikian, kebijakan tersebut belum diumumkan secara resmi.

Investor kini menunggu pengumuman strategi pembiayaan utang pemerintah AS yang dijadwalkan pada 4 November 2026.

Citigroup Prediksi AS Kurangi Obligasi Jangka Panjang

Citigroup memperkirakan pemerintah Amerika Serikat akan melakukan penyesuaian terhadap komposisi penerbitan surat utangnya.

Dalam skenario tersebut, Departemen Keuangan AS akan mengurangi penawaran obligasi dengan tenor panjang dan menggantinya dengan penerbitan surat utang jangka pendek.

Obligasi tenor 20 tahun dan 30 tahun diperkirakan menjadi instrumen yang paling terdampak.

Masing-masing lelang diprediksi mengalami pengurangan sebesar US$3 miliar.

Perubahan tersebut berpotensi menjadi langkah penting dalam pengelolaan utang pemerintah AS, terutama ketika biaya pinjaman jangka panjang berada pada level tinggi.

Namun, perlu ditegaskan bahwa perkiraan Citigroup merupakan analisis terhadap kemungkinan kebijakan, bukan keputusan resmi pemerintah.

Departemen Keuangan AS masih perlu mempertimbangkan kebutuhan pendanaan, kondisi permintaan investor, serta risiko pembiayaan dalam jangka panjang.

obligasi jangka panjang AS

Mengapa AS Ingin Mengurangi Obligasi Jangka Panjang?

Salah satu faktor utama yang mendorong munculnya perkiraan tersebut adalah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Berdasarkan data Departemen Keuangan AS, yield Treasury tenor 10 tahun ditutup pada level 5,24% pada 9 Oktober 2026.

Sementara itu, yield obligasi tenor 30 tahun mencapai sekitar 5,60%.

Yield merupakan tingkat imbal hasil yang diterima investor apabila membeli obligasi pada harga tertentu dan memegangnya sesuai ketentuan.

Ketika yield meningkat, pemerintah umumnya harus menawarkan biaya pendanaan yang lebih tinggi untuk menerbitkan utang baru.

Kondisi tersebut dapat menjadi persoalan bagi pemerintah yang memiliki kebutuhan pembiayaan besar.

Dengan mengurangi penerbitan obligasi jangka panjang, Departemen Keuangan AS berpotensi mencoba membatasi tekanan terhadap biaya pinjaman pada tenor tersebut.

Namun, pengurangan pasokan obligasi tidak selalu menjamin yield akan turun.

Pergerakan yield juga dipengaruhi ekspektasi inflasi, kebijakan Federal Reserve, permintaan investor, dan kondisi fiskal pemerintah.

Yield Treasury AS Tertinggi dalam Puluhan Tahun

Tekanan di pasar obligasi AS semakin menjadi perhatian setelah yield Treasury tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak April 2002 pada awal Oktober.

Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang surat utang pemerintah AS.

Terdapat sejumlah faktor yang dapat memengaruhi kondisi ini.

Salah satunya adalah kekhawatiran bahwa inflasi akan bertahan lebih lama dari perkiraan.

Selain itu, besarnya kebutuhan pembiayaan pemerintah AS juga dapat memengaruhi keseimbangan antara penawaran dan permintaan obligasi.

Ketika pasokan surat utang meningkat sementara permintaan tidak tumbuh sebanding, harga obligasi dapat mengalami tekanan.

Dalam pasar obligasi, harga dan yield bergerak berlawanan arah.

Ketika harga obligasi turun, yield cenderung meningkat.

Situasi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah AS karena biaya pembiayaan utang dapat semakin mahal.

Treasury AS Sudah Membeli Kembali Obligasi US$6 Miliar

Pemerintah AS sebelumnya juga telah mengambil langkah untuk mengelola kondisi pasar obligasi.

Pada 1 Oktober 2026, Departemen Keuangan AS menggunakan batas maksimum program pembelian kembali obligasi sebesar US$6 miliar.

Langkah tersebut dilakukan terhadap surat utang jangka panjang yang telah diterbitkan sebelumnya.

Program pembelian kembali obligasi dapat membantu memperbaiki likuiditas pada segmen tertentu di pasar Treasury.

Melalui mekanisme tersebut, pemerintah membeli kembali sebagian obligasi yang beredar sesuai tujuan program.

Namun, pembelian kembali obligasi berbeda dengan keputusan mengurangi penerbitan utang baru.

Keduanya memiliki mekanisme dan tujuan operasional yang tidak sepenuhnya sama.

Karena itu, langkah pembelian kembali US$6 miliar tidak dapat dianggap sebagai konfirmasi bahwa pemerintah akan memangkas lelang obligasi tenor 20 tahun dan 30 tahun.

Surat Utang Jangka Pendek Jadi Alternatif

Jika penerbitan obligasi jangka panjang dikurangi, pemerintah AS masih membutuhkan sumber pembiayaan pengganti.

Salah satu alternatif yang diperkirakan Citigroup adalah meningkatkan penerbitan Treasury bills atau surat utang jangka pendek.

Instrumen tersebut memiliki tenor yang umumnya tidak lebih dari satu tahun.

Dari sisi biaya pendanaan saat ini, surat utang jangka pendek terlihat lebih murah dibandingkan obligasi jangka panjang.

Pada 9 Oktober 2026, yield Treasury tenor tiga bulan berada di sekitar 4,25%.

Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan yield obligasi tenor 30 tahun yang mencapai 5,60%.

Selisih sekitar 1,35 poin persentase tersebut menunjukkan perbedaan biaya pendanaan pada kondisi pasar saat itu.

Namun, memilih surat utang jangka pendek juga membawa risiko tersendiri.

Risiko Refinancing Utang AS Bisa Meningkat

Surat utang jangka pendek memiliki masa jatuh tempo yang lebih cepat.

Artinya, pemerintah harus lebih sering menerbitkan utang baru untuk menggantikan surat utang yang telah jatuh tempo.

Proses tersebut dikenal sebagai refinancing.

Apabila suku bunga meningkat pada masa mendatang, pemerintah dapat menghadapi biaya pembiayaan yang lebih tinggi ketika melakukan refinancing.

Sebaliknya, jika suku bunga turun, penggunaan surat utang jangka pendek dapat memberikan keuntungan karena pemerintah bisa memperoleh pendanaan baru dengan biaya lebih rendah.

Dengan demikian, strategi memperbesar porsi utang jangka pendek memiliki konsekuensi yang berbeda dibandingkan mengunci biaya pendanaan melalui obligasi jangka panjang.

Strategi tersebut dapat mengurangi beban bunga dalam jangka pendek, tetapi meningkatkan sensitivitas pembiayaan terhadap perubahan suku bunga.

obligasi jangka panjang AS 3

Utang Pemerintah AS Tembus US$40 Triliun

Perdebatan mengenai strategi penerbitan obligasi menjadi semakin penting karena besarnya utang pemerintah Amerika Serikat.

Menurut data yang dikutip BeInCrypto, utang nasional AS telah melampaui US$40 triliun pada Agustus 2026.

Sementara itu, biaya bunga utang pemerintah mencapai sekitar US$1,1 triliun per tahun.

Angka tersebut memperlihatkan besarnya beban yang harus dikelola pemerintah dalam membiayai kewajiban utangnya.

Ketika jumlah utang sangat besar, perubahan kecil pada rata-rata biaya pinjaman dapat memiliki dampak signifikan terhadap pengeluaran bunga.

Karena itu, keputusan mengenai tenor surat utang menjadi bagian penting dari strategi pengelolaan fiskal.

Namun, pengurangan obligasi jangka panjang bukan solusi otomatis terhadap persoalan utang.

Pemerintah tetap perlu memperoleh pembiayaan yang cukup untuk memenuhi kewajiban dan kebutuhan anggarannya.

Analis Ragukan Efektivitas Strategi Treasury

Rencana yang diperkirakan Citigroup tersebut juga mendapat perhatian dari sejumlah analis pasar obligasi.

Strategis BNP Paribas mempertanyakan apakah pengurangan penerbitan obligasi jangka panjang benar-benar mampu menekan biaya pinjaman pemerintah secara keseluruhan.

Pandangan serupa juga disampaikan Kevin Flanagan, Head of Fixed Income Strategy di WisdomTree.

Flanagan mempertanyakan kemampuan pemerintah menggantikan kebutuhan pembiayaan jangka panjang dengan instrumen lain tanpa menimbulkan konsekuensi tambahan.

Persoalan utamanya terletak pada keseimbangan antara penghematan bunga jangka pendek dan risiko refinancing.

Jika pemerintah semakin bergantung pada surat utang berjangka pendek, kebutuhan penerbitan ulang dapat meningkat.

Pada saat yang sama, permintaan terhadap Treasury bills juga perlu tetap kuat agar pemerintah dapat memperoleh pendanaan dengan biaya yang kompetitif.

Apa Hubungan Obligasi AS dengan Bitcoin?

Perubahan strategi penerbitan obligasi AS berpotensi memengaruhi Bitcoin melalui kondisi likuiditas dan tingkat imbal hasil pasar keuangan.

Bitcoin merupakan aset yang tidak memberikan bunga secara langsung kepada pemegangnya.

Sebaliknya, obligasi pemerintah AS menawarkan pembayaran bunga atau imbal hasil sesuai karakteristik instrumennya.

Ketika yield Treasury meningkat, sebagian investor dapat menilai bahwa obligasi menjadi lebih menarik dibandingkan aset berisiko.

Kondisi tersebut berpotensi mengurangi minat terhadap Bitcoin dan aset kripto lainnya.

Selain itu, kenaikan yield dapat mencerminkan kondisi keuangan yang lebih ketat.

Hal tersebut dapat memengaruhi biaya pendanaan dan selera risiko investor global.

Namun, hubungan antara Bitcoin dan yield Treasury tidak selalu konsisten.

Harga BTC juga dipengaruhi permintaan institusional, aktivitas ETF, pasar derivatif, serta perkembangan industri kripto itu sendiri.

Apakah Pemangkasan Obligasi Bisa Membuat Bitcoin Naik?

Jika Departemen Keuangan AS benar-benar mengurangi penerbitan obligasi jangka panjang, salah satu kemungkinan dampaknya adalah berkurangnya tekanan pasokan pada pasar obligasi tenor panjang.

Apabila permintaan investor tetap kuat, kondisi tersebut berpotensi membantu menahan kenaikan yield atau bahkan mendorongnya turun.

Yield yang lebih rendah dapat memperbaiki sentimen terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.

Namun, skenario tersebut tidak otomatis terjadi.

Pasar juga dapat menafsirkan peningkatan penerbitan surat utang jangka pendek sebagai bertambahnya kebutuhan refinancing pemerintah.

Selain itu, pergerakan inflasi dan kebijakan The Fed tetap dapat mendominasi arah yield.

Karena itu, investor sebaiknya tidak langsung menganggap pengurangan penerbitan obligasi jangka panjang sebagai sinyal bullish bagi Bitcoin.

Dampak sebenarnya akan bergantung pada reaksi pasar obligasi dan kondisi likuiditas setelah kebijakan diumumkan.

Harga Bitcoin Bergerak di Sekitar US$84.000

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap pasar Treasury, Bitcoin masih mengalami volatilitas.

Dalam laporan BeInCrypto pada 12 Oktober 2026, BTC diperdagangkan di sekitar US$84.030, menguat sekitar 1,2% dalam 24 jam.

Penguatan tersebut terjadi setelah Bitcoin sebelumnya mengalami tekanan ketika yield Treasury AS meningkat.

Kondisi ini memperlihatkan bagaimana perubahan sentimen pasar obligasi dapat berlangsung bersamaan dengan pergerakan aset kripto.

Namun, kenaikan harian Bitcoin belum cukup untuk memastikan bahwa tekanan makroekonomi telah berakhir.

Investor masih perlu mencermati apakah yield Treasury kembali meningkat atau mulai menunjukkan stabilisasi.

Scott Bessent Jadi Sorotan Pasar Obligasi

Menteri Keuangan AS Scott Bessent turut menjadi perhatian dalam perkembangan pasar Treasury.

Pada September 2026, Bessent menyampaikan pernyataan yang menunjukkan keyakinannya terhadap kemampuan pemerintah mengelola pasar obligasi.

Namun, yield Treasury tetap mengalami kenaikan setelah pernyataan tersebut.

Kondisi ini menunjukkan bahwa komunikasi pemerintah saja belum tentu mampu mengubah arah pasar.

Investor obligasi tetap mempertimbangkan faktor fundamental seperti inflasi, kebutuhan pembiayaan pemerintah, dan prospek suku bunga.

Karena itu, langkah konkret Departemen Keuangan AS pada November mendatang akan menjadi perhatian lebih besar dibandingkan spekulasi pasar.

Keputusan 4 November Bisa Menentukan Arah Pasar

Perhatian investor kini tertuju pada 4 November 2026.

Pada tanggal tersebut, Departemen Keuangan AS diperkirakan akan menyampaikan pernyataan mengenai strategi pembiayaan utang atau quarterly refunding.

Pengumuman tersebut dapat memberikan kepastian apakah pemerintah benar-benar akan mengurangi penerbitan obligasi tenor 20 tahun dan 30 tahun.

Sebelum itu, Departemen Keuangan juga dijadwalkan melakukan survei terhadap dealer obligasi untuk memperoleh pandangan mengenai kondisi pasar dan kebutuhan penerbitan.

Terdapat beberapa kemungkinan yang perlu diperhatikan.

Jika penerbitan obligasi jangka panjang dikurangi, investor akan mencermati respons yield dan permintaan terhadap Treasury bills.

Jika struktur penerbitan tidak berubah, pasar perlu mengevaluasi kembali ekspektasi yang sebelumnya dibangun berdasarkan prediksi Citigroup.

Dalam kedua skenario, dampak terhadap Bitcoin akan bergantung pada perubahan kondisi pasar keuangan secara keseluruhan.

Kesimpulan

Departemen Keuangan Amerika Serikat diperkirakan akan mempertimbangkan perubahan strategi pembiayaan utang dengan mengurangi penerbitan obligasi jangka panjang.

Citigroup memprediksi pengurangan lelang obligasi tenor 20 tahun dan 30 tahun masing-masing sebesar US$3 miliar.

Pemerintah AS diperkirakan akan lebih banyak menggunakan surat utang jangka pendek yang saat ini menawarkan biaya pendanaan lebih rendah.

Namun, strategi tersebut juga meningkatkan risiko refinancing karena surat utang harus lebih sering diperbarui.

Perkiraan tersebut muncul ketika yield Treasury tenor 10 tahun mencapai 5,24% dan tenor 30 tahun berada di sekitar 5,60% pada 9 Oktober 2026.

Bagi Bitcoin, perubahan penerbitan obligasi dapat memengaruhi kondisi likuiditas dan sentimen terhadap aset berisiko.

Apabila yield jangka panjang turun, Bitcoin berpotensi memperoleh dukungan sentimen. Namun, dampaknya tidak dapat dipastikan karena pasar juga dipengaruhi inflasi, kebijakan The Fed, dan faktor lainnya.

Keputusan resmi Departemen Keuangan AS yang diperkirakan diumumkan pada 4 November 2026 akan menjadi penentu apakah skenario Citigroup benar-benar terwujud.

Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Harga aset kripto memiliki risiko dan volatilitas tinggi.

CEK SELENGKAPNYA ARTIKEL BERITA KRIPTO TERBARU DI SINI >>

Iklan

mau tayang di media lain juga

ARTIKEL TERBARU