24.7 C
Jakarta
Kamis, 5 Agustus, 2021

Bagaimana Asia Tenggara Dapat Membuat Lompatan Artificial Intelligence ?

Teknologi Artificial Intelligence atau AI menawarkan potensi keuntungan yang sangat besar bagi Asia Tenggara. Tetapi, jika kawasan tersebut dapat menutup beberapa kekurangan penting.

Artifical Intelligence di Asia Tenggara Masih Tertinggal

Terlepas dari kematangan digitalnya yang tidak merata, Asia Tenggara siap menjadi kekuatan ekonomi berbasis data yang muncul karena Artificial Intelligence. Dinamika saat ini seputar kemunculan AI mencontohkan minat yang meningkat di kawasan ini untuk menuai hasil dari revolusi industri keempat.

Namun, alih-alih hanya mengandalkan sensasi AI, Asia Tenggara pertama-tama harus memiliki penilaian yang jelas tentang kekuatan komparatif dan kelemahan yang melekat.

Ini perlu menjembatani kesenjangan yang ada dalam Litbang, tata kelola data, dan keamanan siber. Semua ini diperlukan sebelum wilayah tersebut dapat melakukan lompatan AI penuh.

Baca Juga : BRI Agro Tunjuk Dirut Baru, Kaspar Situmorang Siap untuk Digitalisasi

Baca Juga : Ini 3 Tren yang akan Mendorong Penggunaan Fintech Saat Pandemi 2021

Value Chain, atau rantai nilai pembelajaran mesin saat ini , salah satu subbidang AI, Asia Tenggara tertinggal. AS, Jepang, Cina, Inggris, Jerman, dan Korea Selatan menempati peringkat teratas.

Sementara itu, Singapura, Indonesia, dan Filipina terdegradasi di ujung bawah value chain. Ini tertanda dengan tugas pengumpulan data, penyimpanan data, dan persiapan data yang padat modal dan padat karya.

Solusi agar Artificcial Intelgence di Asia Tenggara Lebih Maju

1. Pengembagan SDM dan Kemitraan harus Prioritas

Agar Asia Tenggara meningkatkan daya saingnya dalam simpul pelatihan algoritmik ekonomi AI, mendorong investasi dalam penelitian AI, teknologi komputasi, dan pengembangan sumber daya manusia dalam konteks kemitraan publik-swasta harus menjadi prioritas nasional.

Kecuali Singapura yang sudah melakukan hal ini, Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Indonesia harus memprioritaskan investasi dalam penelitian AI dan infrastruktur komputasi. Pemerintah nasional harus berkoordinasi dengan sektor swasta, yang sangat memimpin Litbang AI, untuk mengurangi hambatan regulasi dan mengidentifikasi mekanisme insentif untuk inovasi.

Di bidang sumber daya manusia, departemen dan kementerian pendidikan tinggi harus mengembangkan kemitraan kerja dengan perusahaan digital asli.

Mendirikan laboratorium atau pusat AI di berbagai universitas, didukung oleh perusahaan teknologi. Ini lah yang merupakan jalan yang layak untuk menghasilkan bakat AI yang sangat berkualitas. Mendukung proyek percontohan di antara komunitas pemula juga dapat memicu inovasi dan kolaborasi lokal.

2. Asia Tenggara Perlu Lakukan Pendekatan Terfragmentasi

Asia Tenggara harus menghadapi pendekatan terfragmentasi terhadap tata kelola data jika ingin membangun ekosistem AI yang kuat. Karena penetrasi internet yang berkembang pesat melalui aplikasi media sosial dan platform e-commerce, negara-negara Asia Tenggara telah menghasilkan data dalam jumlah besar.

Namun, kesenjangan antara aliran data lintas batas versus lokalisasi data dapat memengaruhi kemajuan ASEAN. Ini perlu untuk mencapai cetak biru tata kelola data yang dapat dioperasikan.

Berbagai preferensi tata kelola data di Asia Tenggara akan berdampak pada harmonisasi, ekstraksi, dan aliran data. Akibatnya menimbulkan biaya tambahan untuk penyimpanan data, pemrosesan data, pengambilan data, dan analisis.

Jika ini terus berlanjut, maka akan menghambat kolaborasi dan integrasi AI di tingkat nasional dan regional, yang keduanya sangat penting dalam membangun ekosistem AI.

3. Keamanan Siber

Ada pertanyaan tentang keamanan siber. Negara-negara Asia Tenggara adalah target utama serangan dunia maya.

Saat Asia Tenggara mulai merangkul AI, memperkuat standar keamanan siber untuk lembaga dan departemen pemerintah, perusahaan teknologi, dan universitas sangatlah penting.

Mengadopsi mekanisme akuntabilitas dan rezim pertanggungjawaban juga penting untuk memastikan. Semua pihak yang terlibat dalam desain dan pengembangan AI perlu mematuhi standar audit dan pengujian yang ketat.

Penulis : Kontributor

Editor : Gemal A.N. Panggabean

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

DIREKTORI LIST

ARTIKEL TERBARU

Harga Bitcoin Hari Ini : Masih di Rp550 Jutaan, Uruguay Susun RUU Bitcoin

Harga Bitcoin hari ini masih menyentuh Rp550 juta. Ini adalah masa sideways dimana Bitcoin sempat rally selama lebih dari satu pekan di akhir Juli...

Like It, Dorong Literasi Keuangan Perkuat Ekonomi Nasional

Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bekerja sama dalam Forum Koordinasi Pembiayaan Pembangunan melalui Pasar...

Sebanyak 66% Konsumen di Asia Tenggara Tertarik dengan Bank Digital

Survey Visa menungkapkan bahwa 66% konsumen di Asia Tenggara tertarik pada bank digital. Dua negara tertinggi adalah Thailand 83% dan Filipina 81%. Laporan dari...

Survey Visa : 85% Konsumen di Asia Tenggara Cashless, Indonesia Bagaimana?

Survey Visa mengungkapkan bahwa sebanyak 85% konsumen di Asia Tenggara mengadopsi pembayaran tanpa uang tunai atau cashless. Dari hasil survey Singapura (98%), Malaysia (96%)...

FinAccel, Perusahaan Induk Kredivo Siap Melantai di Bursa Nasdaq

FinAccel, perusahaan induk dari platform fintect P2P Lending Kredivo, berencana untuk go public di bursa saham Nasdaq, Amerika Serikat. FinAccel akan akuisisi dengan...
LANGUAGE