31 C
Jakarta
Senin, 6 Desember, 2021

Bagaimana Asia Tenggara Dapat Membuat Lompatan Artificial Intelligence ?

Teknologi Artificial Intelligence atau AI menawarkan potensi keuntungan yang sangat besar bagi Asia Tenggara. Tetapi, jika kawasan tersebut dapat menutup beberapa kekurangan penting.

Artifical Intelligence di Asia Tenggara Masih Tertinggal

Terlepas dari kematangan digitalnya yang tidak merata, Asia Tenggara siap menjadi kekuatan ekonomi berbasis data yang muncul karena Artificial Intelligence. Dinamika saat ini seputar kemunculan AI mencontohkan minat yang meningkat di kawasan ini untuk menuai hasil dari revolusi industri keempat.

Namun, alih-alih hanya mengandalkan sensasi AI, Asia Tenggara pertama-tama harus memiliki penilaian yang jelas tentang kekuatan komparatif dan kelemahan yang melekat.

Ini perlu menjembatani kesenjangan yang ada dalam Litbang, tata kelola data, dan keamanan siber. Semua ini diperlukan sebelum wilayah tersebut dapat melakukan lompatan AI penuh.

Baca Juga : BRI Agro Tunjuk Dirut Baru, Kaspar Situmorang Siap untuk Digitalisasi

Baca Juga : Ini 3 Tren yang akan Mendorong Penggunaan Fintech Saat Pandemi 2021

Value Chain, atau rantai nilai pembelajaran mesin saat ini , salah satu subbidang AI, Asia Tenggara tertinggal. AS, Jepang, Cina, Inggris, Jerman, dan Korea Selatan menempati peringkat teratas.

Sementara itu, Singapura, Indonesia, dan Filipina terdegradasi di ujung bawah value chain. Ini tertanda dengan tugas pengumpulan data, penyimpanan data, dan persiapan data yang padat modal dan padat karya.

Solusi agar Artificcial Intelgence di Asia Tenggara Lebih Maju

1. Pengembagan SDM dan Kemitraan harus Prioritas

Agar Asia Tenggara meningkatkan daya saingnya dalam simpul pelatihan algoritmik ekonomi AI, mendorong investasi dalam penelitian AI, teknologi komputasi, dan pengembangan sumber daya manusia dalam konteks kemitraan publik-swasta harus menjadi prioritas nasional.

Kecuali Singapura yang sudah melakukan hal ini, Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Indonesia harus memprioritaskan investasi dalam penelitian AI dan infrastruktur komputasi. Pemerintah nasional harus berkoordinasi dengan sektor swasta, yang sangat memimpin Litbang AI, untuk mengurangi hambatan regulasi dan mengidentifikasi mekanisme insentif untuk inovasi.

Di bidang sumber daya manusia, departemen dan kementerian pendidikan tinggi harus mengembangkan kemitraan kerja dengan perusahaan digital asli.

Mendirikan laboratorium atau pusat AI di berbagai universitas, didukung oleh perusahaan teknologi. Ini lah yang merupakan jalan yang layak untuk menghasilkan bakat AI yang sangat berkualitas. Mendukung proyek percontohan di antara komunitas pemula juga dapat memicu inovasi dan kolaborasi lokal.

2. Asia Tenggara Perlu Lakukan Pendekatan Terfragmentasi

Asia Tenggara harus menghadapi pendekatan terfragmentasi terhadap tata kelola data jika ingin membangun ekosistem AI yang kuat. Karena penetrasi internet yang berkembang pesat melalui aplikasi media sosial dan platform e-commerce, negara-negara Asia Tenggara telah menghasilkan data dalam jumlah besar.

Namun, kesenjangan antara aliran data lintas batas versus lokalisasi data dapat memengaruhi kemajuan ASEAN. Ini perlu untuk mencapai cetak biru tata kelola data yang dapat dioperasikan.

Berbagai preferensi tata kelola data di Asia Tenggara akan berdampak pada harmonisasi, ekstraksi, dan aliran data. Akibatnya menimbulkan biaya tambahan untuk penyimpanan data, pemrosesan data, pengambilan data, dan analisis.

Jika ini terus berlanjut, maka akan menghambat kolaborasi dan integrasi AI di tingkat nasional dan regional, yang keduanya sangat penting dalam membangun ekosistem AI.

3. Keamanan Siber

Ada pertanyaan tentang keamanan siber. Negara-negara Asia Tenggara adalah target utama serangan dunia maya.

Saat Asia Tenggara mulai merangkul AI, memperkuat standar keamanan siber untuk lembaga dan departemen pemerintah, perusahaan teknologi, dan universitas sangatlah penting.

Mengadopsi mekanisme akuntabilitas dan rezim pertanggungjawaban juga penting untuk memastikan. Semua pihak yang terlibat dalam desain dan pengembangan AI perlu mematuhi standar audit dan pengujian yang ketat.

Penulis : Kontributor

Editor : Gemal A.N. Panggabean

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Ini Cara Memahami Sentimen Pasar bagi Investor di Dunia Trading dan Investasi

JAKARTA, duniafintech.com - Sentimen pasar atau market sentiment merupakan konsensus atau sikap secara keseluruhan dari pelaku pasar atau investor terhadap pergerakan harga suatu pasar....

Biaya Asuransi: Pengertian dan Jenis-jenisnya

JAKARTA, duniafintech.com – Biaya asuransi pada dasarnya terdiri dari berbagai macam. Umumnya, ketika memiliki asuransi, pemegang polis diwajibkan untuk tahu apa saja jenis biaya...

Dukung Produksi Susu Nasional, ADB pesan 19,4 Juta Lembar Saham Cimory

JAKARTA, duniafintech.com - Asian Development Bank (ADB) telah memesan sebanyak 19,4 juta lembar saham sebagai bagian dari rencana penawaran saham perdana (initial public offering/IPO)...

Turun 20% Hal Biasa di Dunia Kripto, Ini Momentum Tepat untuk Membeli

JAKARTA, duniafintech.com - Pasar aset kripto dalam beberapa hari terakhir sedang mengalami penurunan harga lebih dari 20% yang menyebabkan para investor pemula di kripto...

Ini Syarat Pihak Asuransi Mau Tanggung Kerusakan Kendaraan Akibat Bencana Alam

JAKARTA, duniafintech.com – Asuransi mobil bencana alam menjadi hal yang mesti dipersiapkan di tengah ketidakpastian bencana yang terjadi di tanah air. Misalnya saja dari...
LANGUAGE