Bitcoin jatuh di bawah US$84.000 dan likuidasi kripto melonjak US$547 juta. Jika US$83.000 jebol, BTC berisiko menuju US$80.000
Pasar kripto kembali mengalami tekanan tajam pada Rabu, 7 Oktober 2026. Harga Bitcoin (BTC) sempat jatuh ke bawah US$84.000 ketika kenaikan harga minyak, yield Treasury dan dolar Amerika Serikat memicu aksi jual aset berisiko.
Bitcoin sebelumnya sempat berada di sekitar US$86.600 pada Selasa.
Namun, tekanan jual yang terjadi pada awal perdagangan Asia membawa BTC turun hingga sekitar US$83.840.
Penurunan tersebut kemudian memicu gelombang likuidasi di pasar derivatif kripto.
Total likuidasi melonjak hingga sekitar US$547 juta, menunjukkan betapa besarnya posisi leverage yang terdampak oleh perubahan harga dalam waktu singkat.
Bitcoin Anjlok dari US$86.600 ke US$83.840
Pergerakan Bitcoin berubah drastis hanya dalam hitungan jam.
BTC sempat berada di kisaran US$86.600 pada Selasa sebelum aksi jual membawa harganya turun menuju US$83.840 pada Rabu.
Bitcoin kemudian bergerak kembali sedikit di atas US$84.000.
Secara keseluruhan, BTC mengalami penurunan sekitar 1,5% pada perdagangan Asia.
Namun, besarnya dampak di pasar derivatif menunjukkan bahwa koreksi harga yang relatif terbatas dapat memiliki konsekuensi besar ketika trader menggunakan leverage tinggi.
Ketika harga bergerak berlawanan dengan posisi trader dan margin tidak lagi mencukupi, exchange dapat menutup posisi tersebut secara otomatis.
Proses inilah yang menghasilkan likuidasi besar.
Likuidasi Pasar Kripto Tembus US$547 Juta
Gelombang penurunan Bitcoin dan altcoin menyebabkan total likuidasi pasar meningkat menjadi sekitar US$547 juta.
Mayoritas tekanan datang dari trader yang sebelumnya memasang posisi dengan ekspektasi harga akan terus meningkat.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa posisi long mulai terlalu padat menjelang koreksi.
Ketika Bitcoin kehilangan level teknikal penting, likuidasi posisi long menciptakan tekanan jual tambahan.
Fenomena tersebut dapat mempercepat penurunan.
Posisi yang dilikuidasi menghasilkan penjualan, penjualan menekan harga, dan harga yang semakin rendah kemudian dapat memicu likuidasi posisi lainnya.
Harga Minyak Kembali Tekan Pasar Kripto
Salah satu pemicu utama tekanan kali ini datang dari pasar minyak.
Harga Brent naik hampir 1% menjadi sekitar US$101,50 per barel.
Kenaikan terjadi ketika serangan terhadap kapal tanker di kawasan Selat Hormuz kembali meningkat.
Ketegangan tersebut membuat investor khawatir terhadap risiko pasokan energi global.
Harga minyak yang tinggi memiliki konsekuensi makro yang cukup besar.
Jika energi menjadi lebih mahal, tekanan inflasi dapat meningkat.
Dan apabila inflasi tetap tinggi, Federal Reserve memiliki ruang lebih kecil untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Bagi Bitcoin, kondisi tersebut menjadi sentimen negatif karena pasar kripto cenderung mendapatkan dukungan ketika likuiditas global meningkat.
Yield Treasury AS Naik ke 5,31%
Tekanan terhadap Bitcoin juga datang dari pasar obligasi.
Yield Treasury AS tenor 10 tahun naik sekitar tiga basis poin menjadi 5,31%.
Kenaikan yield berarti obligasi pemerintah menawarkan imbal hasil yang semakin tinggi.
Bagi investor global, kondisi tersebut membuat aset berisiko menghadapi kompetisi yang lebih besar untuk mendapatkan modal.
Bitcoin tidak menghasilkan bunga secara langsung.
Karena itu, ketika investor dapat memperoleh yield lebih dari 5% dari obligasi pemerintah AS, sebagian modal dapat berpindah menuju instrumen yang dianggap memiliki risiko lebih rendah.
Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa pergerakan Treasury semakin penting bagi pasar Bitcoin.
Dolar AS Menguat
Dolar Amerika Serikat juga ikut menguat.
Mata uang AS naik terhadap seluruh mata uang negara Group of Ten (G10).
Penguatan dolar biasanya memberikan tantangan tambahan terhadap Bitcoin dan aset berisiko global.
Ketika dolar semakin kuat, kondisi keuangan global dapat menjadi lebih ketat.
Investor internasional juga membutuhkan biaya lebih besar untuk membeli aset yang diperdagangkan dalam denominasi dolar.
Kombinasi antara minyak naik, yield Treasury meningkat dan dolar menguat akhirnya menciptakan lingkungan yang kurang ideal bagi Bitcoin.
Altcoin Turun Lebih Dalam dari Bitcoin
Tekanan pasar tidak berhenti pada BTC.
Sejumlah altcoin utama mengalami penurunan lebih besar.
Dogecoin (DOGE) menjadi salah satu aset dengan koreksi terbesar di antara kripto utama dengan penurunan sekitar 5%.
Hyperliquid (HYPE) turun hampir 4%.
Ethereum (ETH) terkoreksi sekitar 3,5% menjadi US$2.610, sedangkan XRP turun hampir 3% menjadi sekitar US$1,46.
BNB, Solana (SOL), Zcash (ZEC) dan TRON (TRX) masing-masing turun sekitar 1%-2,5%.
Kondisi tersebut kembali memperlihatkan pola umum pasar kripto.
Ketika Bitcoin terkoreksi, altcoin dengan likuiditas dan kapitalisasi lebih kecil sering mengalami penurunan yang lebih besar.
US$84.000 Sebelumnya Sudah Diperingatkan
Menariknya, level US$84.000 sudah menjadi perhatian analis sebelum penurunan terjadi.
FxPro sebelumnya menyebut bahwa penembusan Bitcoin ke bawah US$84.000 dapat menjadi kemenangan bagi kubu bearish.
Skenario tersebut kemudian benar-benar terjadi ketika BTC turun menuju US$83.840.
Namun, terdapat level lain yang lebih penting.
Menurut FxPro, area US$83.000 dapat menjadi konfirmasi bahwa seller telah benar-benar mengambil kendali atas pergerakan jangka pendek Bitcoin.
Jika level tersebut ditembus secara meyakinkan, risiko koreksi berikutnya dapat meningkat.
Jika US$83.000 Jebol, Bitcoin Bisa Menuju US$80.000
Level US$83.000 kini menjadi salah satu support terpenting Bitcoin.
BTC masih berada sekitar US$1.200 di atas area tersebut ketika analisis CoinDesk diterbitkan.
FxPro menilai apabila Bitcoin jatuh melewati US$83.000, jalur menuju US$80.000 dapat terbuka dengan cepat.
Skenario tersebut bukan berarti Bitcoin pasti akan jatuh ke US$80.000.
Namun, level US$83.000 menjadi area teknikal yang penting untuk menentukan apakah koreksi hanya bersifat sementara atau berkembang menjadi tekanan jual lebih besar.
Sebaliknya, apabila Bitcoin mampu kembali merebut US$84.000 dan bergerak menuju US$86.000, tekanan bearish dapat mulai berkurang.
Pasar Menunggu Risalah The Fed
Selain minyak dan yield Treasury, perhatian investor juga tertuju pada Federal Reserve.
The Fed dijadwalkan merilis risalah pertemuan September pada Rabu.
Dalam pertemuan tersebut, bank sentral AS menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Namun, data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah belakangan ini membuat pasar mulai menilai kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya pada Oktober semakin kecil.
Persoalannya sekarang bukan hanya apakah The Fed kembali menaikkan suku bunga.
Investor ingin mengetahui seberapa hawkish pandangan pejabat The Fed terhadap inflasi dan kebijakan hingga akhir tahun.
Jika risalah menunjukkan pejabat bank sentral masih mempertimbangkan pengetatan tambahan, tekanan terhadap aset berisiko dapat berlanjut.
Sebaliknya, sikap yang lebih sabar dapat membantu meredakan kekhawatiran pasar.
Saham Asia Ikut Melemah
Tekanan bukan hanya terjadi pada kripto.
Indeks MSCI Asia Pacific turun sekitar 0,6% ketika saham teknologi Korea Selatan dan Hong Kong mengalami tekanan.
Futures saham AS juga berbalik melemah setelah sebelumnya sempat menguat.
Kondisi tersebut terjadi meskipun S&P 500 dan Nasdaq 100 sebelumnya mencetak rekor penutupan di Wall Street.
Hal ini menunjukkan bahwa penurunan Bitcoin bukan sepenuhnya peristiwa internal pasar kripto.
Investor global secara umum sedang merespons perubahan kondisi makro, terutama kenaikan minyak, obligasi dan dolar AS.
Likuidasi Bisa Menjadi Reset Pasar?
Gelombang likuidasi besar tidak selalu berarti tren bearish jangka panjang.
Dalam beberapa kondisi, likuidasi justru dapat membersihkan posisi leverage yang terlalu tinggi dari pasar.
Ketika terlalu banyak trader mengambil posisi long, struktur pasar menjadi rentan.
Koreksi kecil dapat memicu likuidasi besar.
Setelah posisi leverage tersebut terhapus, pasar terkadang menjadi lebih sehat karena tekanan likuidasi tambahan berkurang.
Namun, apakah kondisi saat ini merupakan reset sehat atau awal koreksi lebih dalam akan sangat bergantung pada kemampuan Bitcoin mempertahankan US$83.000.
Kesimpulan
Bitcoin sempat jatuh dari sekitar US$86.600 menjadi US$83.840 pada Rabu, 7 Oktober 2026, ketika pasar menghadapi tekanan dari kenaikan harga minyak, yield Treasury dan dolar AS.
Koreksi tersebut ikut memicu lonjakan likuidasi pasar kripto hingga sekitar US$547 juta.
Harga Brent naik hampir 1% menuju US$101,50 per barel, sementara yield Treasury AS tenor 10 tahun mencapai sekitar 5,31%.
Altcoin juga mengalami tekanan lebih besar. Dogecoin turun sekitar 5%, Ethereum melemah 3,5%, sedangkan XRP terkoreksi hampir 3%.
Kini perhatian trader tertuju pada US$83.000.
FxPro menilai penembusan level tersebut dapat membuka jalur Bitcoin menuju US$80.000 dengan relatif cepat.
Namun, pasar juga menunggu risalah pertemuan The Fed September untuk mencari petunjuk mengenai kebijakan suku bunga selanjutnya.
Dengan demikian, arah Bitcoin dalam jangka pendek kemungkinan akan ditentukan oleh kombinasi antara level US$83.000, perkembangan harga minyak, yield Treasury, dolar AS dan sikap The Fed.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi.
BACA ARTIKEL BERITA KRIPTO TERBARU SELENGKAPNYA, DI SINI>>








