32 C
Jakarta
Selasa, 21 April, 2026

Bitcoin Turun di Bawah US$74.000 setelah Serangan Angkatan Laut AS

Harga Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$73.996 pada sesi Asia hari Senin, turun sekitar 2,5% dalam 24 jam terakhir. Penurunan ini terjadi setelah eskalasi konflik di kawasan Teluk, ketika pasukan Amerika Serikat menaiki kapal Iran pada akhir pekan.

Aset berisiko secara umum ikut melemah menjelang tenggat gencatan senjata yang semakin dekat, sementara ketegangan militer baru mengurangi harapan pasar terhadap deeskalasi konflik.

Penyitaan Kapal Picu Ketakutan Eskalasi

bitcoin

Kapal perusak USS Spruance dilaporkan menonaktifkan mesin kapal kargo Iran bernama Touska setelah perintah berhenti diabaikan selama enam jam.

Pihak Teheran mengecam tindakan tersebut sebagai ilegal dan mengancam akan membalas langsung terhadap aset militer AS. Insiden ini menjadi penangkapan pertama sejak Washington mulai melakukan blokade pelabuhan sekitar sepekan sebelumnya.

Dampaknya langsung terasa di pasar energi. Harga minyak melonjak karena kekhawatiran bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz akan terganggu lebih lama. Jalur ini diketahui menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Bitcoin Tertekan, Tapi Tren Mingguan Masih Positif

bitcoin

Meskipun mengalami penurunan harian, Bitcoin masih mencatat kenaikan sekitar 4,3% dalam sepekan terakhir. Ini menunjukkan bahwa pasar kripto masih memiliki daya tahan di tengah tekanan geopolitik.

Pergerakan harga berada di rentang US$73.886 hingga US$76.165, dengan tekanan jual paling terasa pada awal sesi perdagangan Asia. Total kapitalisasi pasar kripto bertahan di sekitar US$1,48 triliun, dengan volume transaksi harian mencapai US$62 miliar.

Fokus Pasar: Tenggat Gencatan Senjata

Perhatian investor kini tertuju pada batas waktu gencatan senjata yang akan menjadi penentu arah pasar selanjutnya. Jika upaya diplomasi gagal, potensi eskalasi militer lanjutan dapat memperpanjang tekanan terhadap aset berisiko, termasuk kripto dan saham global.

Sebaliknya, jika ada tanda-tanda deeskalasi, Bitcoin berpotensi kembali menguat karena investor biasanya mencari aset alternatif di tengah ketidakpastian global.

Situasi ini menegaskan satu hal: pergerakan Bitcoin saat ini tidak hanya dipengaruhi faktor teknikal, tetapi juga sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik dunia.

Iklan

mau tayang di media lain juga

ARTIKEL TERBARU