Langkah pemerintah Bhutan menjual sebagian cadangan Bitcoin-nya mulai memicu perhatian. Dalam beberapa bulan terakhir, negara kecil di kawasan Himalaya itu telah melepas aset kripto dalam jumlah besar. Di balik aksi ini, muncul pertanyaan penting: apakah ini sekadar strategi pengelolaan aset atau sinyal menuju likuidasi total?
Penjualan Bitcoin Bhutan Makin Agresif di 2026
Pemerintah Kerajaan Bhutan dilaporkan telah menjual sekitar US$120 juta BTC sejak awal tahun 2026. Langkah ini mempercepat tren divestasi yang membuat cadangan mereka menyusut lebih dari 60 persen dari titik tertinggi sebelumnya.
Data dari platform analitik blockchain Arkham Intelligence mengungkap bahwa transaksi terbaru terjadi pada 27 Maret, saat Bhutan dilaporkan memindahkan Bitcoin ke alamat baru yang sebelumnya tidak aktif.
“Bhutan baru saja memindahkan Bitcoin senilai US$8,5 juta dari alamat penyimpanan utamanya,” tulis Arkham di X, Sabtu (28/03/2026).
Transaksi tersebut bukan yang terbesar. Hanya dua hari sebelumnya, Bhutan juga diketahui melepas 519,7 BTC dengan nilai sekitar US$36,75 juta. Pola ini menunjukkan penjualan dilakukan secara bertahap, namun tetap konsisten.
Menariknya, Bhutan menggunakan jalur OTC dan market maker seperti QCP Capital untuk mengeksekusi transaksi. Strategi ini memungkinkan mereka menjual dalam jumlah besar tanpa memberikan tekanan langsung pada harga Bitcoin.
Strategi Penjualan Bitcoin Bertahap ala Bhutan
Aksi penjualan Bitcoin yang dilakukan Bhutan sepanjang 2026 mencerminkan perubahan strategi yang cukup besar. Jika sebelumnya penjualan berlangsung sporadis, kini pola yang terlihat jauh lebih terstruktur dan terprogram.
Sejak 1 Januari, tercatat sekitar US$158,57 juta telah keluar dari dompet Bitcoin utama, sementara hanya US$38,84 juta yang kembali masuk. Hal ini menunjukkan arus keluar yang jauh lebih dominan dibandingkan dengan akumulasi.
Bhutan menjual sebagian Bitcoin-nya dalam kisaran sekitar US$5–US$10 juta per transaksi, dan menjual 3.500 BTC pada pertengahan hingga akhir September 2025. Volume transfer keluar juga mulai meningkat dalam beberapa pekan terakhir,” ungkap pihak Arkham Intelligence.
Data tersebut juga mengindikasikan bahwa sejak awal tahun, Bhutan telah mengurangi sekitar 1.700 BTC dari total kepemilikannya. Pola ini memperkuat dugaan bahwa negara tersebut tengah menjalankan program likuidasi secara bertahap.
Apa Rencana Bhutan Selanjutnya?
Berbeda dengan banyak negara lain, Bhutan tidak memperoleh Bitcoin dari penyitaan kriminal. Cadangan BTC milik negara tersebut dibangun melalui program mining berbasis negara sejak 2019.
Dengan memanfaatkan energi hidroelektrik, Bhutan sempat mengumpulkan hingga 13.000 BTC. Namun, penjualan konsisten dalam dua tahun terakhir membuat jumlahnya kini tersisa sekitar 4.300 BTC, dengan nilai sekitar US$288 juta.
Sejumlah pihak menilai dana hasil penjualan kemungkinan dialokasikan untuk proyek besar, salah satunya Gelephu Mindfulness City (GMC), sebuah kawasan administratif khusus yang tengah dikembangkan.
Pemerintah sebelumnya bahkan berencana mengalokasikan hingga 10.000 BTC untuk proyek tersebut. Melihat tren saat ini, ada indikasi bahwa sebagian cadangan mulai digunakan untuk mendanai tahap awal pembangunan.
Meski terus menjual, Bhutan masih menjadi salah satu pemegang Bitcoin terbesar di dunia di level negara. Namun, dengan laju penjualan saat ini, posisinya berpotensi berubah dalam waktu dekat.
Penutup
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula.





