25.9 C
Jakarta
Kamis, 22 Oktober, 2020

Dari Spotify Hingga Netflix, Tarif Platform Hiburan di Amerika Melonjak!

duniafintech.com – Bermacam platform hiburan digital seperti Netflix, Spotify hingga Hulu akan menaikkan tarif berlangganannya. Amerika Serikat memberlakukan kebijakan ini selepas bulan Februari berakhir, dengan lonjakan tarif senilai USD 1, atau berkisar Rp14.000.

Kenaikan tarif dari berbagai platform hiburan ini dipicu oleh penerapan pajak yang dibarengi dengan minat warga negeri Paman Sam. Lansiran CNBC Amerika Serikat mengklaim separuh negara bagian Amerika Serikat telah memberlakukan tarif baru ini dalam beberapa tahun terakhir.

Beberapa pemerintah negara bagian seperti Illinois, Utah dan Kansas juga telah mengambil langkah yang senada dengan kebijakan tarif hiburan ini. Salah satu negara bagian yang secara merinci memberlakukan kebijakan tarif ini ialah Connecticut.

Wilayah pesisir utara Amerika tersebut secara tegas memberlakukan tarif yang disertai pajak untuk semua aplikasi hiburan. Ned Lamont selaku gubernur Connecticut mengatakan kebijakan yang diambil otoritas sudah tepat. Ia pun tidak memungkiri adanya pergeseran warga untuk mencari hiburan.

“Kita memberikan pajak pada bioskop, dan Netflix harus diberi perlakuan yang sama,”

“Hari ini kita hidup di era perekonomian Amazon yang dikendalikan oleh e-commerce, unduhan dan layanan konsumen berbasis digital,”

Baca juga:

Peralihan Konsumen ke Platform Hiburan Berbasis Digital

Langkah sebagian negara bagian Amerika Serikat dalam menyesuaikan tarif serta pajak untuk semua platform hiburan didasari transformasi perilaku konsumen. Sejak 2018, rumah tangga di Amerika Serikat telah berlangganan layanan video dengan metode streaming dibanding layanan televisi berbayar.

Beberapa rumah tangga juga menjadi pangsa pasar layanan streaming musik, ketika para pelanggan televisi berbayar masih memiliki jumlah dominan. Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang audit perpajakan, Deloitte mengklaim pangsa pasar pelanggan musik daring ini menyentuh kisaran 58%.

Richard Auxier selaku praktisi kebijakan perpajakan mengungkapkan negara telah kehilangan sektor pemasukan. Menurutnya, saat ini pemberlakuan pajak hanya berlaku ke barang konkret atau berfisik.

Oleh sebab itu, Richard menilai perlunya rancangan undang-undang perpajakan yang menyertai barang dan jasa non-fisik sebagai barang dengan objek pajak. Ia menilai hal ini mampu mengurangi pemasukan pajak Amerika Serikat.

DuniaFintech/FauzanPerdana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Parkir Next Normal, DANA dan Parkee Beri Sistem Non-tunai & Nirsentuh

DuniaFintech.com - Penyelenggara sistem pembayaran elektronik, DANA bersama Parkee menggagas sistem parkir yang bersifat seamless tanpa menggunakan kontak fisik serta berbasis transaksi...

Pengertian Wasiat, Hibah dan Hadiah; Pahami Distribusi Kekayaan Anda

DuniaFintech.com - Mendengar kata wasiat, pernahkah terbesit di benak Anda, kemanakah harta Anda akan berpindah saat kematian datang? Lalu apa sebenarnya pengertian...

Firma Pembayaran Jepang JCB dan Mizuho Bank Uji Coba ID Berbasis Blockchain

DuniaFintech.com – Saat ini, institusi keuangan Jepang sedang bergerak cepat dengan mengadopsi teknologi Blockchain untuk merampingkan sistem identitas digital mereka. Bank terbesar ketiga...

Potensi Bisnis E-Commerce Mulai di Bidik Gojek Melalui GoStore

Duniafintech.com - Gojek kian melebarkan sayap bisnisnya dengan merambah potensi bisnis e-commerce. Dikabarkan, Gojek tengah menyiapkan produk baru bernama GoStore. Pengelolaan GoStore...

Ziliqa Meluncurkan Layanan Non-Custodial Staking di Mainnet

DuniaFintech.com - Platform blockchain yang memiliki kinerja dan keamanan tinggi Ziliqa meluncurkan layanan Non-Custodial Staking pada Mainnet. Diaktifkan melalui Zillion, Ziliqa...
LANGUAGE