31 C
Jakarta
Sabtu, 20 Agustus, 2022

Dari Spotify Hingga Netflix, Tarif Platform Hiburan di Amerika Melonjak!

duniafintech.com – Bermacam platform hiburan digital seperti Netflix, Spotify hingga Hulu akan menaikkan tarif berlangganannya. Amerika Serikat memberlakukan kebijakan ini selepas bulan Februari berakhir, dengan lonjakan tarif senilai USD 1, atau berkisar Rp14.000.

Kenaikan tarif dari berbagai platform hiburan ini dipicu oleh penerapan pajak yang dibarengi dengan minat warga negeri Paman Sam. Lansiran CNBC Amerika Serikat mengklaim separuh negara bagian Amerika Serikat telah memberlakukan tarif baru ini dalam beberapa tahun terakhir.

Beberapa pemerintah negara bagian seperti Illinois, Utah dan Kansas juga telah mengambil langkah yang senada dengan kebijakan tarif hiburan ini. Salah satu negara bagian yang secara merinci memberlakukan kebijakan tarif ini ialah Connecticut.

Wilayah pesisir utara Amerika tersebut secara tegas memberlakukan tarif yang disertai pajak untuk semua aplikasi hiburan. Ned Lamont selaku gubernur Connecticut mengatakan kebijakan yang diambil otoritas sudah tepat. Ia pun tidak memungkiri adanya pergeseran warga untuk mencari hiburan.

“Kita memberikan pajak pada bioskop, dan Netflix harus diberi perlakuan yang sama,”

“Hari ini kita hidup di era perekonomian Amazon yang dikendalikan oleh e-commerce, unduhan dan layanan konsumen berbasis digital,”

Baca juga:

Peralihan Konsumen ke Platform Hiburan Berbasis Digital

Langkah sebagian negara bagian Amerika Serikat dalam menyesuaikan tarif serta pajak untuk semua platform hiburan didasari transformasi perilaku konsumen. Sejak 2018, rumah tangga di Amerika Serikat telah berlangganan layanan video dengan metode streaming dibanding layanan televisi berbayar.

Beberapa rumah tangga juga menjadi pangsa pasar layanan streaming musik, ketika para pelanggan televisi berbayar masih memiliki jumlah dominan. Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang audit perpajakan, Deloitte mengklaim pangsa pasar pelanggan musik daring ini menyentuh kisaran 58%.

Richard Auxier selaku praktisi kebijakan perpajakan mengungkapkan negara telah kehilangan sektor pemasukan. Menurutnya, saat ini pemberlakuan pajak hanya berlaku ke barang konkret atau berfisik.

Oleh sebab itu, Richard menilai perlunya rancangan undang-undang perpajakan yang menyertai barang dan jasa non-fisik sebagai barang dengan objek pajak. Ia menilai hal ini mampu mengurangi pemasukan pajak Amerika Serikat.

DuniaFintech/FauzanPerdana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Sinyal BBM Naik Makin Kencang, Kata Luhut Minggu Depan Naik? 

JAKARTA, duniafintech.com - Sinyal mengenai Bahan Bakar Minyak atau BBM naik tampaknya berembus semakin kencang dalam beberapa waktu belakangan. Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar...

Berita Fintech Indonesia: 5 Keuntungan Investasi di Fintech

JAKARTA, duniafintech.com – Berita fintech Indonesia kali ini akan mengulas tentang berbagai keuntungan dan risiko investasi di fintech bagi milenial. Perlu diketahui, fintech Peer to...

Harga Anjlok Jangan Risau! Ini Strategi Trading Kripto yang Top

JAKARTA, duniafintech.com - Saat harga aset kripto sedang anjlok/mengalami penurunan, janganlah risau. Ada strategi trading kripto yang mesti Anda terapkan.  Trading kripto saat menjadi salah...

Harga BBM Pertalite Akan Naik, Dampaknya Mengerikan!

JAKARTA, duniafintech.com – Harga BBM Pertalite dan solar yang merupakan bahan bakar subsidi pemerintah akan dinaikkan pada minggu depan. Hal itu dilakukan karena subsidi yang...

Rekomended! Ini Aplikasi Faucet Bitcoin yang Terpercaya di Indonesia

JAKARTA, duniafintech.com - Pemain industri kripto tentu gak asing lagi dengan istilah faucet. Ada rekomendasi aplikasi faucet Bitcoin terpercaya dan bisa dicoba.  Faucet kripto atau...
LANGUAGE