31 C
Jakarta
Selasa, 12 Mei, 2026

Fintech Academy : OVO Tingkatkan Literasi Keuangan Digital Mahasiswa

OVO tingkatkan literasi keuangan digital mahasiswa Indonesia lewat Fintech Academy.

Generasi muda di Indonesia semakin terbiasa menggunakan layanan keuangan digital dalam kehidupan sehari-hari. Meski demikian, tingginya penggunaan teknologi finansial (fintech) ini belum sepenuhnya dibarengi dengan kemampuan pengelolaan uang yang sehat dan aman.

Berdasarkan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 dari OJK dan BPS, dikutip dari Money, indeks inklusi keuangan kelompok usia 18–25 tahun menyentuh angka 89,96 persen. Namun, tingkat literasi keuangan mereka baru mencapai level 73,22 persen.

Kesenjangan data tersebut menjadi indikasi bahwa kemudahan akses digital perlu diimbangi dengan pemahaman manajemen keuangan yang lebih baik. Menanggapi situasi ini, OVO berupaya memperluas edukasi finansial melalui program Fintech academy yang berkolaborasi dengan MoneyFestasi.

Inisiatif ini dijalankan melalui rangkaian roadshow ke berbagai perguruan tinggi untuk memperkuat literasi keuangan digital, terutama bagi mahasiswa di daerah. Universitas Jenderal Soedirman menjadi lokasi perdana kegiatan ini pada Rabu (6/5/2026).

Mengusung tema “Today’s Financial Habits, Tomorrow’s Financial Future”, diskusi ini mengarahkan mahasiswa untuk melihat fintech bukan sekadar alat pembayaran. Layanan teknologi finansial diposisikan sebagai sarana untuk membentuk disiplin serta perencanaan keuangan yang matang.

Head of Strategy Integrated Marketing Communication OVO, Asep Haekal menyatakan bahwa literasi keuangan menjadi aspek yang krusial seiring perkembangan ekosistem digital yang sangat masif saat ini.

“Fintech bukan hanya soal kemudahan transaksi, tetapi teknologi untuk membantu generasi muda membangun kebiasaan finansial yang kuat,” ujar Asep dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (12/5/2026).

Manajemen Pengeluaran dan Keamanan Data

Para mahasiswa didorong untuk mengelola keuangan secara bijaksana agar tidak terjebak dalam pola konsumsi berlebihan. Risiko ini sering muncul akibat kemudahan transaksi serta maraknya promo yang tersedia di berbagai platform digital.

Dalam program ini, peserta menerima materi mengenai teknik penyusunan anggaran, evaluasi pengeluaran harian, serta cara membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Selain urusan saldo, aspek keamanan digital juga menjadi poin edukasi yang ditekankan.

Mahasiswa diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman penipuan berbasis social engineering. Perlindungan data pribadi saat bertransaksi di layanan keuangan digital merupakan langkah preventif yang wajib dipahami oleh pengguna muda.

Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia, Tulus Abadi menekankan bahwa pemahaman mengenai perlindungan konsumen adalah elemen vital dalam ekosistem fintech.

“Kemudahan akses harus diimbangi pemahaman kuat mengenai keamanan data pribadi agar generasi muda mampu mengambil keputusan finansial yang tepat sesuai kebutuhan mereka,” kata Tulus.

Sepanjang tahun 2026, OVO memproyeksikan program Fintech Academy ini dapat menjangkau lebih dari 1.200 mahasiswa baru. Target tersebut akan menambah total kumulatif peserta program menjadi lebih dari 6.200 mahasiswa sejak awal peluncurannya.

Iklan

mau tayang di media lain juga

ARTIKEL TERBARU