Harga Bitcoin turun Januari 2026 seiring meningkatnya tekanan pasar akibat memanasnya hubungan geopolitik antara Amerika Serikat dan Uni Eropa setelah Presiden Trump mengumumkan kebijakan tarif baru. Kondisi ini menambah sentimen negatif bagi aset berisiko, termasuk kripto.
Dalam kurun 24 jam terakhir, Harga Bitcoin turun Januari 2026 sekitar 2,5% dan diperdagangkan di level US$92.663. Para analis menilai bahwa awal tahun 2026 ditandai dengan munculnya berbagai sinyal bearish yang patut diwaspadai oleh pelaku pasar.
1. Sinyal Bearish dari Kumo Twist di Grafik Mingguan
Analis kripto Titan of Crypto melalui platform X menyoroti kemunculan formasi “Kumo twist” pada chart mingguan Bitcoin. Fenomena ini terjadi ketika Senkou Span A dan Senkou Span B pada indikator Ichimoku Cloud saling berpotongan, yang menandakan perubahan arah tren di masa depan. Dalam konteks saat ini, Harga Bitcoin turun Januari 2026 karena Kumo twist yang terbentuk bersifat bearish.
Mengacu pada siklus sebelumnya, kondisi serupa kerap diikuti oleh fase koreksi besar, dengan penurunan harga Bitcoin mencapai 67% hingga 70%. Titan of Crypto menegaskan bahwa sinyal ini bukan prediksi langsung, melainkan indikasi perubahan struktur pasar secara keseluruhan. Secara historis, Harga Bitcoin turun Januari 2026 mencerminkan perubahan dinamika tren seperti yang terjadi pada tiga siklus sebelumnya.
2. Bitcoin Masih Tertahan di Bawah Level Kritis
Saat ini, Harga Bitcoin turun Januari 2026 dan masih bergerak di bawah moving average 365 hari di kisaran US$101.000. Level ini sebelumnya menjadi penghalang utama dalam fase pemulihan selama bear market 2022. Menurut analisis Coin Bureau, posisi harga di bawah MA tersebut menegaskan bahwa pasar masih berada dalam tekanan bearish.
Analisis tambahan menggunakan Gaussian Channel pada timeframe lima hari juga menunjukkan sinyal negatif. Bitcoin tercatat kehilangan level median channel, yang secara historis sering menjadi tanda awal fase penurunan lebih agresif. Dengan kondisi ini, Harga Bitcoin turun Januari 2026 dinilai masih berpotensi melemah sebelum menemukan support yang kuat.
3. Pola Historis Drawdown Masih Memberi Ruang Penurunan
Jika melihat sejarah, Harga Bitcoin turun Januari 2026 mengikuti pola koreksi pasca puncak siklus. Setelah puncak 2013, Bitcoin anjlok hampir 76%, disusul penurunan lebih dari 81% pasca 2017, dan sekitar 74% setelah puncak 2021. Namun, pada siklus saat ini, koreksi baru sedikit di atas 30%.
Koreksi yang relatif dangkal ini mengindikasikan bahwa fase penurunan kemungkinan belum mencapai titik akhir. Dengan demikian, Harga Bitcoin turun Januari 2026 masih dapat berlanjut seiring siklus pasar yang terus berkembang.
4. Indikator Siklus Pasar Konfirmasi Fase Bear
Indikator Bull-Bear Market Cycle menunjukkan bahwa fase bearish telah dimulai sejak Oktober 2025. Meski demikian, indikator ini belum memasuki zona bear ekstrem. Hal ini memperkuat pandangan bahwa Harga Bitcoin turun Januari 2026 masih berada dalam tahap awal penurunan.
Dalam siklus sebelumnya, harga Bitcoin biasanya masuk ke zona “biru tua” yang menandakan tekanan jual maksimum. Karena kondisi saat ini belum mencapai fase tersebut, Harga Bitcoin turun Januari 2026 masih memiliki ruang untuk koreksi lanjutan.
5. Lonjakan Inflow ke Exchange dari Holder Besar
Data on-chain terbaru memperlihatkan peningkatan aliran Bitcoin ke exchange, terutama dari holder menengah hingga besar yang memiliki 10–100 BTC dan 100–1.000 BTC. Fenomena ini sering diartikan sebagai persiapan untuk distribusi atau penjualan aset.
Pola ini mengindikasikan bahwa Harga Bitcoin turun Januari 2026 dipicu oleh keputusan strategis investor besar, bukan sekadar aktivitas ritel. Kombinasi meningkatnya inflow ke exchange dan distribusi dari whale memperkuat sinyal bahwa pasar sedang memasuki fase yang lebih rentan terhadap tekanan jual.





