Harga Bitcoin (BTC) sempat mengalami penurunan tajam pada akhir pekan akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang turut memengaruhi pasar global. Namun, kondisi ini berbalik pada Senin, 24 Maret 2026, ketika harga mulai pulih. Pemulihan tersebut lebih banyak dipicu oleh likuidasi kontrak berjangka dibandingkan dengan masuknya permintaan baru di pasar spot.
Mengacu pada data dari tradingview.com pada Selasa (24/3/2026), sebagian pelaku pasar kripto memanfaatkan volatilitas ini untuk mengalihkan investasi ke sektor infrastruktur berbasis Bitcoin. Salah satu contohnya adalah Bitcoin Hyper yang berhasil menghimpun dana lebih dari USD 32 juta atau sekitar Rp 540,48 miliar (dengan asumsi kurs Rp 16.890 per dolar AS) melalui tahap pra-penjualan token.
Perubahan arah investasi ini terjadi seiring lonjakan harga minyak serta melemahnya aset berisiko, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Perkembangan berikutnya menunjukkan adanya jeda sementara dalam rencana serangan Amerika Serikat, meskipun belum ada kejelasan mengenai kemajuan diplomasi yang sedang berlangsung.
Ketegangan geopolitik ini mengguncang pasar. Harga minyak melonjak tajam, sementara Bitcoin sempat merosot dari level di atas USD 70.000 ke titik terendah sekitar USD 67.360 sebelum kembali stabil di kisaran USD 70.500.
Penurunan tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya perhatian terhadap Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak global, dan telah mengalami gangguan signifikan sejak akhir Februari.
Harga minyak pun bereaksi cepat. Minyak mentah WTI naik mendekati USD 101 per barel, Brent melampaui USD 113, dan United States Oil Fund menembus USD 123 pada perdagangan pra-pasar, sehingga meningkatkan kekhawatiran akan inflasi.
Amerika Serikat juga mengisyaratkan kemungkinan eskalasi yang menargetkan infrastruktur energi Iran. Sementara itu, Teheran merespons dengan peringatan terhadap aset-aset regional.
Penjualan Mempengaruhi Harga Bitcoin
Tekanan jual terhadap Bitcoin meningkat seiring likuidasi posisi beli yang semakin intensif. Dalam hitungan jam, lebih dari USD 240 juta posisi leverage terhapus.
Pergerakan ini mencerminkan dampak dari faktor makroekonomi, bukan perubahan fundamental dalam tren jangka panjang Bitcoin. Posisi dan sentimen pasar dengan cepat menyesuaikan terhadap risiko geopolitik yang berkembang.
Meskipun harga sempat pulih pada Senin, aktivitas di pasar spot tetap lemah. Berdasarkan data coinmarketcap.com, harga Bitcoin naik 3,75% dalam 24 jam terakhir, tetapi masih turun 6,12% dalam sepekan. Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di kisaran USD 70.556,38 atau sekitar Rp 1,19 miliar.
Volume perdagangan spot bulanan di Binance tercatat sekitar USD 52 miliar—level terendah sejak kuartal ketiga 2023 dan jauh di bawah capaian akhir tahun 2023.
Data arus dana di bursa juga menunjukkan partisipasi yang melemah. Arus masuk selama tujuh hari terakhir tercatat sebesar USD 6,38 miliar di Binance dan USD 5,14 miliar di Coinbase, menjadi salah satu yang terendah dalam beberapa waktu terakhir.
Momentum Arus Masuk
Di sisi lain, aktivitas pemegang besar atau “paus” justru meningkat. Arus masuk dari kelompok ini ke bursa melonjak tajam, menandakan adanya rotasi modal dan strategi lindung nilai yang lebih agresif, sehingga meningkatkan sensitivitas pasar terhadap volatilitas jangka pendek.
Kenaikan harga yang terjadi lebih bersifat teknis dibandingkan didorong oleh permintaan baru. Bitcoin sempat mencapai puncak mingguan di USD 71.789 selama sesi perdagangan Amerika Serikat, setelah muncul sinyal potensi jeda dalam eskalasi militer, meskipun ketidakpastian masih tinggi akibat pesan yang saling bertentangan.
Pergerakan ini beriringan dengan penurunan sekitar 4% dalam total open interest selama 13 jam, setara dengan sekitar 9.700 BTC, yang mengindikasikan lebih banyak posisi ditutup daripada dibuka.
Likuidasi posisi short bahkan melampaui USD 44 juta dalam satu jam di Binance. Sementara itu, premi Coinbase tetap berada di zona negatif, mencerminkan lemahnya permintaan spot dari Amerika Serikat. Aktivitas perdagangan mayoritas terkonsentrasi di kisaran harga USD 71.000 hingga USD 72.000.








