Harga Bitcoin menunjukkan pemulihan tajam dalam beberapa pekan terakhir. Setelah sempat menyentuh level terendah Februari di sekitar US$62.530, harga Bitcoin kini telah melonjak sekitar 18% dan bahkan sempat mencapai US$74.150 pada pekan ini.
Kenaikan harga Bitcoin tersebut memicu optimisme di kalangan investor, dengan banyak pihak menyebutnya sebagai tanda comeback pasar kripto. Namun, data on-chain terbaru justru memberikan gambaran yang lebih berhati-hati.
Riset on-chain dari BeInCrypto serta laporan Week On-Chain dari Glassnode menunjukkan bahwa reli harga raja kripto itu saat ini kemungkinan lebih mencerminkan fase distribusi kelegaan (relief rally), bukan awal dari tren kenaikan yang kuat.
Sinyal Profit Mengarah ke Nuansa Bear Market
Salah satu indikator utama yang menjadi perhatian analis adalah metrik Net Realized Profit/Loss Bitcoin. Indikator ini mengukur selisih antara keuntungan dan kerugian yang benar-benar direalisasikan oleh investor.
Dalam kondisi pasar yang sehat, kenaikan Bitcoin biasanya diikuti peningkatan profit yang direalisasikan. Namun, saat ini situasinya berbeda. Meskipun Bitcoin naik tajam, metrik profit yang direalisasikan tidak menunjukkan peningkatan signifikan.
Fenomena ini sering menjadi sinyal bahwa reli pasar tidak memiliki dukungan permintaan yang cukup kuat, sehingga berpotensi tidak bertahan lama.
Selain itu, indikator teknikal juga memberikan peringatan tambahan. Relative Strength Index (RSI), yang digunakan untuk mengukur kekuatan momentum, sempat menunjukkan pola hidden bearish divergence antara 9 Desember hingga 4 Maret.
Dalam periode tersebut, harga Bitcoin membentuk pola lower high, sementara RSI justru mencatat higher high. Kondisi seperti ini sering menandakan bahwa momentum teknikal tidak sejalan dengan pergerakan harga, yang dapat menjadi sinyal dominasi tekanan jual.
Data On-Chain Menguatkan Skenario Bearish
Laporan dari Glassnode juga menyoroti indikator Supply Profitability State Signal, yang mengukur persentase pasokan Bitcoin yang masih berada dalam posisi keuntungan yang belum direalisasikan.
Saat ini sekitar 57% pasokan Bitcoin masih berada dalam posisi untung. Angka ini memang terlihat cukup tinggi, tetapi secara historis justru sering muncul pada tahap awal siklus bear market.
Kondisi serupa pernah terjadi pada Mei 2022 dan November 2018, dua periode yang dikenal sebagai awal fase penurunan panjang di pasar kripto.
Menariknya, analisis dari BeInCrypto yang menggunakan rata-rata 30 hari Net Realized Profit/Loss juga menunjukkan pola yang hampir identik dengan dua periode tersebut. Dengan kata lain, dua pendekatan analisis berbeda menghasilkan kesimpulan yang sama: reli harga Bitcoin saat ini belum tentu menandakan tren bullish baru.
Holder Jangka Pendek Mulai Distribusi
Data lain dari Glassnode, yaitu metrik Realized Price by Age, memberikan gambaran perilaku investor jangka pendek terhadap harga Bitcoin.
Metrik ini melacak harga rata-rata akumulasi Bitcoin berdasarkan kapan terakhir kali koin tersebut berpindah di jaringan.
Untuk investor yang membeli dalam periode satu minggu hingga satu bulan terakhir, harga dasar mereka saat ini berada di sekitar US$70.000.
Hal ini menciptakan zona distribusi alami di kisaran US$68.500 hingga US$71.500. Di area tersebut, banyak pembeli baru berada di titik impas, sehingga lebih cenderung menjual aset mereka ketika harga Bitcoin kembali mendekati level tersebut.
Akibatnya, setiap kenaikan harga Bitcoin menuju area tersebut berpotensi memicu tekanan jual tambahan, yang dapat menghambat kelanjutan reli dalam jangka pendek.
Reli Harga Bitcoin Masih Rapuh
Secara keseluruhan, meskipun harga Bitcoin berhasil mencatat pemulihan yang kuat dalam beberapa minggu terakhir, berbagai indikator on-chain menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase yang rentan.
Jika tekanan distribusi dari investor jangka pendek terus berlanjut, reli harga Bitcoin bisa kehilangan momentum sebelum membentuk tren kenaikan yang lebih berkelanjutan.
Karena itu, banyak analis menilai bahwa pergerakan harga Bitcoin dalam waktu dekat masih akan dipenuhi volatilitas tinggi, terutama jika pasar gagal menembus zona distribusi utama di sekitar US$70.000.








