Harga Bitcoin (BTC) masih kesulitan membangun momentum kenaikan setelah mengalami tekanan pada akhir Oktober 2026. Meskipun aktivitas pembelian terlihat meningkat di sekitar US$77.000 hingga US$80.000, analis menilai permintaan tersebut belum cukup kuat untuk mendorong pemulihan berkelanjutan.
Berdasarkan laporan FXStreet pada Selasa (3/11/2026), Bitcoin diperdagangkan sekitar US$77.660, menguat 0,2% dalam 24 jam.
Bursa kripto Bitfinex menilai bahwa sebagian besar aktivitas pembelian di sekitar US$77.000–US$80.000 bersifat pasif, yakni berasal dari order beli yang menunggu harga turun, bukan pembelian agresif yang mendorong harga lebih tinggi.
Kondisi tersebut membuat Bitcoin masih rentan menghadapi tekanan jual, terutama ketika mendekati resistance US$81.300.
Sementara itu, perusahaan perdagangan aset digital Wintermute menegaskan bahwa Bitcoin perlu kembali menembus US$80.000 dengan dukungan permintaan pasar spot dan arus masuk ETF untuk memperbaiki prospek jangka pendeknya.
Harga Bitcoin Bertahan di Sekitar US$77.660
Bitcoin bergerak dalam rentang perdagangan yang relatif terbatas pada awal November 2026.
Setelah mengalami tekanan pada akhir Oktober, BTC belum mampu mempertahankan pemulihan di atas US$80.000.
Pada saat laporan FXStreet diterbitkan, harga Bitcoin berada di sekitar US$77.660.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar masih berusaha menemukan keseimbangan antara tekanan jual dan permintaan pembeli.
Namun, kenaikan harian yang terbatas belum cukup untuk mengonfirmasi perubahan tren.
Investor masih menunggu tanda bahwa pembeli mulai meningkatkan aktivitas secara lebih agresif.
Bitfinex Temukan Akumulasi 1,05 Juta BTC
Dalam laporan Bitfinex Alpha, analis mengidentifikasi sekitar 1,05 juta BTC yang telah diakumulasi investor pada rentang harga US$77.000 hingga US$80.000.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan sekitar 738.000 BTC yang tercatat pada 28 Oktober.
Dengan demikian, terdapat tambahan sekitar 312.000 BTC dalam pengukuran distribusi harga perolehan tersebut.
Kenaikan itu menunjukkan bahwa rentang US$77.000–US$80.000 menjadi area penting bagi sejumlah pemegang Bitcoin.
Namun, akumulasi berdasarkan harga perolehan tidak sama dengan jumlah order beli baru yang masuk pada satu sesi perdagangan.
Data tersebut menggambarkan konsentrasi kepemilikan pada rentang harga tertentu.
Karena itu, keberadaan 1,05 juta BTC tidak menjamin bahwa investor akan terus membeli atau mempertahankan asetnya apabila harga turun.
Apa Perbedaan Pembelian Pasif dan Agresif?
Bitfinex menilai aktivitas pembelian di area support masih didominasi pembeli pasif.
Dalam perdagangan aset digital, pembeli pasif biasanya memasang limit order pada harga tertentu dan menunggu penjual memenuhi order tersebut.
Aktivitas ini dapat membantu menyerap tekanan jual dan memperlambat penurunan harga.
Namun, pembelian pasif tidak selalu mendorong harga naik dengan cepat.
Sebaliknya, pembelian agresif terjadi ketika pelaku pasar bersedia mengambil likuiditas yang tersedia, termasuk melalui market order.
Apabila pembelian agresif meningkat secara berkelanjutan, harga dapat bergerak menuju level yang lebih tinggi.
Karena itu, Bitfinex menilai Bitcoin masih membutuhkan permintaan baru yang lebih kuat untuk keluar dari rentang perdagangan saat ini.
Resistance Bitcoin Berada di US$81.300
Selain support, Bitfinex mengidentifikasi US$81.300 sebagai area resistance penting.
Resistance merupakan zona ketika tekanan jual berpotensi meningkat.
Pada level tersebut, sebagian investor dapat memilih menjual Bitcoin untuk mengurangi kerugian atau merealisasikan keuntungan.
Dari harga US$77.660, Bitcoin membutuhkan kenaikan sekitar 4,7% untuk mencapai US$81.300.
Namun, mencapai resistance tidak sama dengan berhasil menembusnya.
Investor perlu memperhatikan apakah harga mampu bertahan di atas level tersebut setelah pengujian.
Jika Bitcoin kembali gagal melewati resistance, pasar dapat melanjutkan konsolidasi atau menghadapi tekanan jual baru.
Wintermute: Bitcoin Harus Rebut Kembali US$80.000
Perusahaan perdagangan aset digital Wintermute juga mempertahankan pandangan hati-hati terhadap prospek Bitcoin.
Menurut Wintermute, pemulihan jangka pendek akan lebih meyakinkan apabila BTC berhasil kembali bergerak di atas US$80.000 dan mempertahankan posisinya.
Namun, perusahaan menekankan bahwa penembusan tersebut perlu didukung permintaan spot dan arus masuk ETF.
Kenaikan yang terutama berasal dari perdagangan derivatif dinilai belum cukup untuk menunjukkan masuknya modal baru secara berkelanjutan.
Hal ini karena posisi derivatif dapat dibuka menggunakan leverage dan dapat ditutup dalam waktu singkat.
Sebaliknya, permintaan spot yang konsisten dapat memberikan gambaran lebih langsung mengenai pembelian aset dasar.
Meski demikian, pasar spot juga dipengaruhi oleh aktivitas perdagangan jangka pendek.
Karena itu, kualitas pemulihan perlu dinilai melalui beberapa indikator secara bersamaan.
Open Interest Bitcoin Naik 12,1%
Di tengah pelemahan harga, aktivitas perdagangan derivatif justru meningkat.
Menurut Bitfinex, total open interest kontrak berjangka Bitcoin mencapai 694.728 BTC pada 31 Oktober 2026.
Angka tersebut naik 12,1% dibandingkan level terendah pada 12 Oktober.
Pada periode yang sama, harga Bitcoin justru turun sekitar 5,3%.
Perbedaan arah antara harga dan open interest menunjukkan bahwa eksposur derivatif meningkat meskipun pasar mengalami tekanan.
Open interest merupakan jumlah kontrak yang masih terbuka dan belum diselesaikan.
Namun, kenaikan open interest tidak otomatis menunjukkan bahwa seluruh trader memperkirakan harga akan naik.
Setiap kontrak memiliki pihak dengan posisi long dan short.
Karena itu, indikator ini perlu dianalisis bersama tingkat pendanaan, volume perdagangan, dan pergerakan harga.
Funding Rate Positif Meski Bitcoin Melemah
Bitfinex juga menemukan bahwa funding rate pada sejumlah bursa futures perpetual tetap berada di wilayah positif.
Pada aksi jual 30 Oktober, tingkat pendanaan tahunan dilaporkan mencapai sekitar 17% di beberapa bursa utama.
Funding rate positif biasanya menunjukkan bahwa pemegang posisi long membayar biaya pendanaan kepada pemegang posisi short dalam mekanisme kontrak perpetual.
Kondisi tersebut dapat mencerminkan permintaan relatif tinggi untuk mempertahankan eksposur long.
Namun, tingkat pendanaan tahunan 17% merupakan angka yang dianualisasi dari kondisi pendanaan pada waktu pengamatan.
Angka tersebut bukan berarti seluruh trader langsung membayar biaya 17% dalam satu hari.
Jika harga terus melemah sementara posisi long berleverage tetap besar, risiko likuidasi dapat meningkat.
ETF Bitcoin Keluar US$643,2 Juta pada 30 Oktober
Tekanan terhadap permintaan spot juga terlihat dari arus dana ETF Bitcoin Amerika Serikat.
Berdasarkan data yang dikutip FXStreet, ETF Bitcoin spot mencatat arus keluar bersih sekitar US$643,2 juta pada 30 Oktober 2026.
Nilai tersebut menjadi arus keluar harian terbesar sejak 25 Juni.
Penarikan tersebut terjadi setelah ETF Bitcoin spot menerima arus masuk gabungan sekitar US$6,36 miliar sepanjang Juli hingga September.
Namun, Oktober menjadi bulan pertama yang mencatat arus keluar bersih sejak Juni.
Perubahan ini menunjukkan bahwa permintaan melalui produk ETF mengalami pelemahan.
Meski demikian, arus keluar satu bulan belum cukup untuk memastikan bahwa investor institusional telah meninggalkan Bitcoin dalam jangka panjang.
Peretasan Binance Tambah Tekanan Pasar
Menurut Wintermute, tekanan pasar juga meningkat setelah insiden keamanan Binance pada akhir Oktober.
Peretasan tersebut dilaporkan melibatkan aset digital senilai sekitar US$6,3 miliar.
Setelah insiden, pasar derivatif mengalami likuidasi sekitar US$1,5 miliar.
Sekitar 85% dari posisi yang terlikuidasi dilaporkan berasal dari perdagangan long menggunakan leverage.
Dominasi likuidasi long menunjukkan bahwa penurunan harga memberikan tekanan besar terhadap trader yang mengharapkan kenaikan.
Namun, seluruh perubahan harga dan likuidasi tidak dapat dipastikan hanya disebabkan oleh peretasan Binance.
Sentimen pasar telah melemah sebelumnya dan sejumlah faktor ekonomi juga memengaruhi perdagangan Bitcoin.
Support Bitcoin Berikutnya di US$76.800
Wintermute mengidentifikasi moving average 50 minggu Bitcoin di sekitar US$76.800 sebagai support penting.
Moving average merupakan indikator teknikal yang menghitung rata-rata harga selama periode tertentu.
Dalam analisis jangka menengah, moving average 50 minggu sering digunakan untuk mengamati arah tren Bitcoin.
Jika harga bertahan di atas indikator tersebut, sebagian analis dapat menilainya sebagai tanda bahwa struktur harga masih memperoleh dukungan.
Sebaliknya, penembusan yang berkelanjutan di bawah US$76.800 dapat meningkatkan risiko koreksi lanjutan.
Namun, moving average merupakan indikator yang bergerak mengikuti perubahan data harga.
Karena itu, nilainya dapat berubah dan tidak boleh diperlakukan sebagai batas harga yang pasti.
Pasar Opsi Perkirakan Rentang US$74.400–US$81.750
Selain pasar futures, pasar opsi Bitcoin juga memberikan gambaran mengenai ekspektasi volatilitas.
Berdasarkan pergerakan harga tersirat yang dikutip Bitfinex, pasar opsi mengindikasikan rentang potensial US$74.400 hingga US$81.750 menjelang kedaluwarsa kontrak pada 6 November 2026.
Rentang tersebut menunjukkan bahwa trader opsi memperhitungkan kemungkinan fluktuasi harga yang cukup besar.
Namun, rentang harga tersirat bukan jaminan bahwa Bitcoin akan bergerak di antara kedua batas tersebut.
Harga aktual dapat bergerak di luar rentang apabila terjadi perubahan sentimen yang signifikan.
Indikator ini lebih tepat digunakan untuk memahami ekspektasi volatilitas pasar daripada memprediksi harga secara pasti.
Mengapa Permintaan Spot Penting bagi Pemulihan Bitcoin?
Pasar spot merupakan tempat transaksi pembelian dan penjualan Bitcoin dengan penyelesaian aset secara langsung.
Ketika permintaan spot meningkat, pembeli menyerap Bitcoin yang tersedia di pasar.
Dalam kondisi tertentu, permintaan yang berkelanjutan dapat membantu mendukung kenaikan harga.
Sementara itu, perdagangan derivatif memungkinkan investor memperoleh eksposur terhadap perubahan harga tanpa selalu membeli Bitcoin secara langsung.
Penggunaan leverage dapat memperbesar keuntungan, tetapi juga meningkatkan risiko kerugian dan likuidasi.
Karena itu, reli yang terutama didorong posisi derivatif dapat menjadi lebih rentan terhadap pembalikan harga.
Namun, pemulihan pasar tetap perlu dinilai berdasarkan keseluruhan kondisi likuiditas dan aktivitas perdagangan.
Tiga Skenario Harga Bitcoin
Skenario bullish: Bitcoin berhasil menembus US$80.000 dengan dukungan pembelian spot dan arus masuk ETF. Jika momentum berlanjut, resistance US$81.300 menjadi area berikutnya yang perlu diperhatikan.
Skenario konsolidasi: Bitcoin tetap bergerak di sekitar US$77.000–US$80.000 karena pembelian pasif mampu menyerap tekanan jual, tetapi belum cukup kuat untuk mendorong kenaikan berkelanjutan.
Skenario bearish: Bitcoin menembus moving average 50 minggu di sekitar US$76.800 dan menghadapi tekanan jual tambahan. Dalam kondisi tersebut, rentang bawah yang diperhitungkan pasar opsi di sekitar US$74.400 dapat menjadi salah satu referensi risiko.
Ketiga skenario merupakan kerangka analisis, bukan prediksi harga yang pasti terjadi.
Kesimpulan
Bitcoin masih menghadapi tantangan untuk kembali bergerak di atas US$80.000 pada awal November 2026.
Meskipun sekitar 1,05 juta BTC terakumulasi pada rentang US$77.000–US$80.000, Bitfinex menilai aktivitas pembelian masih didominasi permintaan pasif.
Sementara itu, open interest futures meningkat 12,1% menjadi 694.728 BTC meskipun harga mengalami penurunan.
Perbedaan tersebut menunjukkan meningkatnya eksposur derivatif ketika permintaan spot belum sepenuhnya pulih.
Wintermute menilai Bitcoin membutuhkan penembusan US$80.000 yang didukung pembelian spot dan arus masuk ETF.
Tanpa dukungan permintaan baru yang berkelanjutan, pemulihan Bitcoin masih rentan menghadapi tekanan jual, terutama di sekitar resistance US$81.300.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi investasi. Data harga dan indikator mengacu pada laporan 3 November 2026.







