Harga Bitcoin tembus Rp1,53 miliar atau US$86.000, tertinggi sejak Januari 2026. Apakah crypto winter telah berakhir dan BTC menuju US$90.000?
Harga Bitcoin kembali mencuri perhatian pasar setelah berhasil menembus US$86.000 atau sekitar Rp1,53 miliar. Penguatan tersebut membawa Bitcoin (BTC) ke level tertingginya sejak Januari 2026.
Pada perdagangan Senin, Bitcoin diperdagangkan sekitar US$85.863,40 atau menguat 5,8%. Bitcoin bahkan sempat menyentuh US$86.349,90, level tertinggi sejak 29 Januari 2026.
Reli berlanjut hingga Selasa, 22 September 2026. Data yang dikutip Liputan6 dari CoinMarketCap menunjukkan Bitcoin berada di sekitar US$86.249,43 atau Rp1,54 miliar, naik 5,73% dalam 24 jam dan 10,58% dalam sepekan.
Kenaikan tersebut membuat pertanyaan besar kembali muncul di kalangan investor: apakah crypto winter 2026 sudah berakhir?
Harga Bitcoin Tertinggi Sejak Januari 2026
Pergerakan Bitcoin beberapa hari terakhir menunjukkan pemulihan yang cukup kuat.
Berdasarkan laporan detikFinance, Bitcoin telah naik lebih dari 8% dalam sepekan dan sekitar 34% dalam tiga bulan terakhir. Meski demikian, Bitcoin masih berada jauh di bawah rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$126.000 yang dicapai pada Oktober 2025.
Artinya, Bitcoin memang telah mengalami pemulihan signifikan dari tekanan sebelumnya, tetapi belum kembali ke harga tertingginya.
Level US$86.000 menjadi penting karena untuk pertama kalinya sejak akhir Januari Bitcoin kembali berada di area tersebut.
Pergerakan ini sekaligus memperkuat optimisme bahwa tren penurunan panjang Bitcoin mulai kehilangan momentum.
Apakah Crypto Winter Sudah Berakhir?
Salah satu pihak yang mulai optimistis adalah Chief Investment Officer Bitwise, Matt Hougan.
Hougan menilai fase crypto winter telah berakhir dan menggambarkan kondisi pasar sekarang sebagai “crypto spring”atau musim semi kripto.
Istilah tersebut menggambarkan fase ketika pasar mulai bangkit setelah periode penurunan panjang.
Crypto winter biasanya ditandai oleh penurunan harga yang berkepanjangan, melemahnya volume perdagangan, berkurangnya minat investor dan tekanan terhadap perusahaan-perusahaan di industri kripto.
Namun, kondisi pasar saat ini mulai menunjukkan perubahan.
Bitcoin telah naik lebih dari 30% dalam tiga bulan, aktivitas perdagangan meningkat dan mayoritas aset kripto utama ikut mengalami kenaikan.
Meski demikian, istilah crypto spring tersebut merupakan pandangan pasar, bukan konfirmasi bahwa Bitcoin pasti telah memasuki bull market baru.
Fundamental Kripto Justru Membaik Saat Harga Turun
Hal menarik dari siklus Bitcoin kali ini adalah adanya perbedaan antara harga dan perkembangan fundamental industri.
Menurut Hougan, ketika harga aset kripto mengalami tekanan secara siklikal, fundamental industri justru terus berkembang.
Ia menyoroti peningkatan aktivitas transaksi pada berbagai blockchain dan keterlibatan perusahaan besar seperti BlackRock sebagai beberapa contoh perkembangan tersebut.
Fenomena tersebut penting.
Pada crypto winter sebelumnya, penurunan harga sering kali disertai berbagai masalah besar di industri, mulai dari kebangkrutan perusahaan hingga runtuhnya sejumlah proyek.
Namun, koreksi harga tidak selalu berarti penggunaan teknologi blockchain ikut menurun.
Jika aktivitas jaringan, adopsi institusional dan infrastruktur terus berkembang ketika harga sedang turun, pasar dapat memiliki fondasi berbeda ketika sentimen kembali membaik.
Pasar Kripto Ikut Menguat
Kenaikan Bitcoin juga tidak terjadi sendirian.
Pada perdagangan 22 September 2026, mayoritas aset kripto berkapitalisasi besar bergerak menguat.
Ethereum naik sekitar 3,03% dalam 24 jam dan 10,07% dalam sepekan hingga berada di sekitar US$2.768,41.
Penguatan juga terjadi pada BNB, XRP, Solana dan sejumlah aset kripto lainnya.
Kapitalisasi pasar kripto global mencapai sekitar US$2,94 triliun, naik 4,76% dalam 24 jam.
Yang lebih menarik adalah volume perdagangan.
Volume transaksi kripto global dalam 24 jam mencapai sekitar US$146,43 miliar, meningkat 97,33%. Dominasi Bitcoin berada di kisaran 59,2%.
Lonjakan volume tersebut menunjukkan reli Bitcoin terjadi bersamaan dengan meningkatnya aktivitas perdagangan pasar secara keseluruhan.
Bitcoin Sudah Naik dari US$75.000 ke US$86.000
Pergerakan Bitcoin juga menjadi menarik jika dibandingkan dengan posisi beberapa hari sebelumnya.
Bitcoin sempat berada di sekitar US$75.000 sebelum mulai membangun momentum pemulihan.
Kini BTC telah bergerak melewati US$86.000.
Artinya, Bitcoin mengalami kenaikan sekitar US$11.000 dari area tersebut.
Sebelumnya, analis BTIG menyebut selama Bitcoin mampu mempertahankan area US$75.000, pelaku pasar yang bullish dapat memperhatikan pergerakan melewati US$82.000 menuju US$90.000.
Kini dua level awal tersebut telah dilewati.
Namun, target analis tetap merupakan skenario pasar, bukan jaminan bahwa Bitcoin akan mencapai US$90.000.
Level US$90.000 Jadi Perhatian Berikutnya
Setelah Bitcoin menembus US$86.000, level psikologis berikutnya yang kemungkinan banyak diperhatikan trader adalah US$90.000.
Jaraknya relatif dekat dari harga Bitcoin saat ini.
Namun, semakin cepat sebuah aset mengalami kenaikan, semakin besar pula kemungkinan muncul aksi ambil untung dari investor yang membeli pada harga lebih rendah.
Karena itu, pergerakan menuju US$90.000 belum tentu berlangsung tanpa koreksi.
Investor juga perlu memperhatikan apakah kenaikan tersebut didukung volume perdagangan spot dan permintaan baru atau lebih banyak dipengaruhi aktivitas pasar derivatif.
Jika permintaan spot tetap kuat, reli memiliki fondasi yang berbeda dibandingkan kenaikan yang terutama disebabkan likuidasi posisi short.
Saham Perusahaan Kripto Ikut Naik
Optimisme terhadap Bitcoin juga merambat ke pasar saham Amerika Serikat.
Saham perusahaan yang memiliki hubungan erat dengan industri kripto seperti Strategy dan Coinbase ikut menguat pada perdagangan Senin.
Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa sentimen terhadap Bitcoin dapat memberikan dampak lebih luas terhadap perusahaan yang bisnis atau neracanya memiliki eksposur terhadap aset digital.
Strategy dikenal memiliki kepemilikan Bitcoin dalam jumlah besar.
Sementara Coinbase merupakan salah satu perusahaan exchange kripto terbesar yang sahamnya diperdagangkan di Amerika Serikat.
Ketika aktivitas dan harga aset kripto meningkat, ekspektasi investor terhadap perusahaan-perusahaan tersebut dapat ikut berubah.
Dari US$126.000 Turun, Kini Bitcoin Mulai Bangkit
Kondisi Bitcoin pada 2026 juga memberikan pelajaran mengenai volatilitas aset kripto.
Bitcoin sebelumnya mencetak rekor tertinggi di atas US$126.000 pada Oktober 2025 sebelum memasuki periode penurunan.
Kini harga berada di sekitar US$86.000.
Artinya, meskipun Bitcoin telah mengalami reli kuat, harganya masih sekitar 30% lebih rendah dibandingkan rekor tertinggi tersebut.
Hal ini penting karena istilah “harga tertinggi sejak Januari” bukan berarti Bitcoin sedang berada di level tertinggi sepanjang masa.
Bitcoin baru mencapai level tertinggi dalam sekitar delapan bulan terakhir.
Untuk kembali ke US$126.000, Bitcoin masih membutuhkan kenaikan yang cukup besar dari harga saat ini.
- Harga Bitcoin Tembus US$79.000, Pasar Menanti Keputusan Suku Bunga The Fed
- Harga Bitcoin Ngegas, Trump Bikin Pasar Kripto Kembali Girang
- The Fed Naikkan Suku Bunga, Bitcoin Masih Berpeluang Bersinar? Ini yang Dipertaruhkan Kevin Warsh
- Outflow ETF Bitcoin dan Ethereum September 2026, Investor Mulai Tarik Dana?
- Standard Chartered Prediksi Arbitrum Bisa Tembus US$10 pada 2030, Lampaui Pertumbuhan Bitcoin dan Ethereum
- Lihat Berita Bitcoin →
Apa yang Bisa Membuat Bitcoin Terus Naik?
Setelah reli kuat, investor dapat memperhatikan beberapa indikator untuk menentukan kekuatan tren.
Pertama adalah volume perdagangan. Lonjakan volume menunjukkan semakin banyak modal yang terlibat dalam pergerakan pasar.
Kedua adalah permintaan investor institusional, termasuk perkembangan arus dana produk investasi Bitcoin.
Ketiga adalah kondisi makroekonomi. Suku bunga The Fed, inflasi, yield Treasury dan pergerakan dolar AS masih dapat memengaruhi selera risiko investor.
Keempat adalah kemampuan Bitcoin mempertahankan area harga yang baru ditembus.
Jika Bitcoin dapat bertahan di atas US$82.000–US$84.000 ketika terjadi koreksi, area tersebut dapat menjadi perhatian sebagai support baru.
Sebaliknya, penurunan cepat kembali ke bawah area breakout dapat menunjukkan momentum reli mulai kehilangan kekuatan.
Jangan Menganggap Crypto Winter Berakhir Hanya karena Harga Naik
Kenaikan Bitcoin lebih dari 30% dalam tiga bulan tentu merupakan perkembangan penting.
Namun, investor perlu berhati-hati dalam menyimpulkan bahwa bull market baru telah dimulai hanya berdasarkan pergerakan beberapa hari.
Pasar kripto memiliki volatilitas tinggi.
Bitcoin dapat mengalami reli puluhan persen kemudian kembali terkoreksi dalam waktu relatif singkat.
Karena itu, konfirmasi tren sebaiknya dilihat melalui beberapa indikator sekaligus, mulai dari struktur harga, volume, permintaan spot, aktivitas institusional hingga kondisi makroekonomi.
Dengan demikian, pernyataan bahwa crypto winter telah berakhir lebih tepat dipahami sebagai pandangan optimistis sebagian pelaku pasar, bukan kepastian mengenai arah harga Bitcoin berikutnya.
Kesimpulan
Harga Bitcoin menembus US$86.000 atau sekitar Rp1,53 miliar pada perdagangan awal pekan ini, menjadi level tertinggi sejak 29 Januari 2026. Bitcoin sempat mencapai US$86.349,90 dan telah naik lebih dari 8% dalam sepekan serta sekitar 34% dalam tiga bulan.
Penguatan terus terlihat pada 22 September. Bitcoin berada di sekitar US$86.249, sementara kapitalisasi pasar kripto global mencapai US$2,94 triliun dan volume perdagangan 24 jam melonjak 97,33%.
Reli tersebut membuat optimisme mengenai berakhirnya crypto winter kembali muncul. CIO Bitwise Matt Hougan bahkan menggambarkan kondisi saat ini sebagai fase “crypto spring”.
Meski demikian, Bitcoin masih berada jauh di bawah rekor tertinggi di atas US$126.000 pada Oktober 2025.
Setelah menembus US$86.000, US$90.000 menjadi salah satu area psikologis yang kemungkinan mendapat perhatian pasar berikutnya. Namun, keberlanjutan reli tetap bergantung pada permintaan investor, volume perdagangan, kondisi pasar derivatif dan faktor makroekonomi.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Aset kripto memiliki volatilitas dan risiko tinggi. Investor perlu melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan.





