Harga XRP saat ini diperdagangkan di kisaran US$1,37. Aset kripto milik Ripple tersebut tercatat turun hampir 15% dalam sepekan terakhir dan merosot sekitar 33% dalam 30 hari terakhir, seiring tekanan sentimen bearish yang masih membayangi pasar kripto secara keseluruhan.
Meski berada dalam tren pelemahan, seorang analis kripto menilai XRP justru tengah memasuki fase krusial yang berpotensi menjadi awal pergerakan besar. Dikutip dari Cryptopotato, Kamis (12/2/2026), analis tersebut menyoroti struktur grafik jangka panjang XRP yang dinilai masih konstruktif.
Analis bernama Arthur menjelaskan bahwa pada grafik bulanan, XRP masih bergerak dalam kanal naik (ascending channel) jangka panjang. Ia menyebut area harga US$0,85–US$0,95 sebagai zona support utama yang berpotensi menjadi titik masuk modal institusi.
Menurut Arthur, zona tersebut terbentuk dari struktur harga yang telah diuji berulang kali selama hampir satu dekade, sehingga memiliki signifikansi teknikal yang kuat sebagai area pertahanan harga.
Arthur menegaskan bahwa analisanya sepenuhnya berbasis timeframe bulanan, yang merefleksikan tren jangka panjang. Dalam unggahan di platform X, ia menampilkan grafik XRP sejak Maret 2017, dengan setiap candlestick mewakili satu bulan perdagangan.
“Ini adalah pembacaan struktur bulanan, didukung oleh faktor makro dan perilaku volume jangka panjang,” tulis Arthur.
Ia menambahkan bahwa bagian bawah kanal bulanan berpotensi menjadi area masuknya kembali smart money yang hingga kini belum sepenuhnya kembali ke pasar.
Harga XRP : Volume Besar Belum Kembali
Meski struktur harga dinilai menarik, Arthur menyoroti satu faktor penting yang masih absen, yakni lonjakan volume besar. Ia mencatat volume perdagangan tertinggi dalam sejarah XRP terjadi pada periode November 2020 hingga April 2021.
Sebaliknya, reli XRP pada 2024 yang sempat mendorong harga menembus US$2 justru berlangsung dengan volume sekitar empat kali lebih kecil dibanding periode sebelumnya.
“Uang besar sebenarnya belum kembali,” ujar Arthur.
Baca juga :
“Yang terjadi pada 2024 lebih banyak didorong oleh pergerakan whale dan sebagian dana, bukan aliran institusi besar yang mampu mengubah struktur pasar,” lanjutnya.
Data pasar derivatif turut menguatkan pandangan tersebut. Analisis dari Arab Chain menunjukkan bahwa dalam 30 hari terakhir, open interest futures XRP mengalami penurunan signifikan di berbagai bursa besar.
Di Bybit, open interest XRP turun sekitar 1,8 miliar XRP, sementara di Binance berkurang sekitar 1,6 miliar XRP. Kraken juga mencatat penurunan sekitar 1,5 miliar XRP.
Penurunan open interest ini mengindikasikan bahwa para trader cenderung menutup posisi leverage ketimbang membuka posisi baru. Pola tersebut kerap muncul pada fase transisi, sebelum terbentuknya tren harga yang baru.
Didukung Faktor Makro Awal 2026
Optimisme terhadap prospek XRP juga didukung oleh perubahan kondisi makro di awal 2026. Arthur menilai situasi saat ini berbeda dibanding siklus sebelumnya, terutama setelah berakhirnya gugatan SEC terhadap Ripple yang memberikan kejelasan regulasi.
Selain itu, peluncuran dan pengembangan RLUSD, meningkatnya adopsi teknologi Ripple oleh institusi, serta menguatnya narasi tokenisasi aset dinilai menjadi fondasi penting bagi potensi pemulihan jangka panjang.
“Analisis teknikal selalu digerakkan oleh faktor makro,” kata Arthur.

“Dan saat ini, arah makro menunjukkan tren naik,” tegasnya.
Secara historis, XRP dikenal mampu mencatat pemulihan tajam setelah melalui fase pelemahan panjang. Pada 2018, XRP sempat bergerak di kisaran US$0,30 sebelum melonjak ke US$1,70 pada April 2021. Pola serupa juga terjadi setelah harga menyentuh US$0,35 pada 2022, sebelum reli kuat hingga mencetak all-time high di US$3,65 pada Juli 2025.
Meski demikian, Arthur menekankan bahwa waktu pemulihan masih sulit dipastikan, dan konfirmasi dari sisi volume tetap menjadi kunci untuk memastikan dimulainya tren bullish yang berkelanjutan.






