28.2 C
Jakarta
Minggu, 21 Juli, 2024

Ternyata Ini Penyebab Kenaikan Harga Minyak Goreng

JAKARTA, duniafintech.com – Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai kenaikan harga minyak goreng di dalam negeri pada beberapa bulan terakhir ini ditengarai disebabkan oleh meningkatnya permintaan biofuel dunia.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Nisrina Nafisah menjelaskan, peningkatan permintaan global akan bahan bakar nabati yang berbasis minyak sawit tersebut membuat CPO untuk produksi minyak goreng di Indonesia berkurang.

“Adanya peningkatan pangsa produksi CPO untuk bahan bakar nabati sebesar 24 persen dari tahun 2019 hingga 2020 diikuti dengan penurunan pangsa CPO yang diolah menjadi komoditas pangan seperti minyak goreng di Indonesia akan menyebabkan kelangkaan,” katanya dalam konferensi pers, Senin (7/2).

Lebih-lebih, Indonesia saat ini menerapkan kebijakan keharusan mencampurkan minyak diesel dengan 30% bahan berdasar minyak sawit (B30).

Menurutnya, produksi CPO di Indonesia menunjukkan kecenderungan penurunan sejak tahun 2019. Produksi kembali turun di 2021 sebesar 0,9% menjadi 46,89 juta ton. 

Laporan Outlook 2022 Dewan Negara Penghasil Minyak Sawit (CPOPC) menunjukkan stok akhir CPO di Indonesia tahun 2021 berada dibawah tingkat rata-rata 4 juta ton.

Adapun, data kebutuhan CPO untuk produksi biofuel dapat dilihat dari jumlah konsumsi CPO untuk biofuel. Antara 2019-2021, produksi CPO untuk biofuel meningkat dari 5,83 juta ton menjadi 7,38 juta ton. 

Baca Juga:

“Jumlah tersebut diperkirakan meningkat pada 2022 seiring dengan meningkatnya konsumsi biodiesel yang diperkirakan GAPKI berjumlah 8,83 juta ton,” ujarnya.

Dia bilang, minyak goreng di Indonesia umumnya dihasilkan dari minyak sawit mentah (CPO) yang harganya berkorelasi langsung dengan harga CPO internasional. Sepanjang 2021, harga CPO internasional naik  36,3% dibandingkan 2020 dan hingga Januari 2022, sudah mencapai Rp15.000/ kilogram. 

Tingginya  harga tersebut disebabkan, diantaranya, oleh kekurangan pasokan di tengah meningkatnya permintaan di banyak bagian dunia karena belum pulihnya ekonomi akibat gelombang kedua Covid-19.

Sementara itu, di dalam negeri, Kementerian Perdagangan mengatakan kelangkaan pasokan disebabkan oleh penurunan produktivitas perkebunan sawit milik BUMN, swasta, dan petani kecil di kedua negara produsen utama minyak sawit dunia, yaitu Indonesia dan Malaysia 

Padahal, kedua negara ini setidaknya berkontribusi terhadap 85% dari pasokan global. Sehingga penurunan produksi di dua negara ini berdampak kepada pasokan dan harga CPO dunia.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi sempat mengatakan bahwa akses kepada pupuk yang terjangkau dan distribusi pupuk bersubsidi menjadi kunci dalam pemenuhan permintaan minyak sawit dunia yang diprediksi akan meningkat sebesar 6,5% pada tahun 2022. 

Permintaan minyak sawit yang diolah menjadi minyak goreng untuk konsumsi rumah tangga juga diperkirakan meningkat. Untuk itu, Nisrina mengusulkan pemerintah untuk fokus kepada kebijakan terkait input pertanian.

Terutama pupuk bersubsidi, dengan memperbaiki mekanisme penebusan melalui Kartu Tani, dengan target penerapan secara nasional pada tahun 2024, untuk meningkatkan produktivitas kelapa sawit.

Menurutnya, adopsi Kartu Tani oleh petani berjalan sangat lambat. Pada 2020, baru 6,20 juta kartu yang sudah dibagikan padahal jumlah petani yang seharusnya menerima kartu ini di e-RDKK ada sebanyak 13,90 juta. Kartu yang sudah digunakan pun baru mencapai 1,20 juta saja.

Dia menuturkan, untuk jangka panjang, pemerintah perlu merancang mekanisme evaluasi pemberian subsidi, menetapkan indikator “kelulusan” seorang petani atau suatu wilayah penerima subsidi, serta menargetkan batas waktu pencabutan subsidi. 

“Namun hal ini mensyaratkan data pertanian yang akurat yang selalu diperbarui untuk memonitor pendapatan dan harga-harga di tingkat petani. Tidak kalah penting, kebijakan di sisi suplai turut diperlukan untuk meningkatkan kompetisi antar produsen pupuk dan memastikan harga pupuk yang terjangkau berdasarkan mekanisme pasar,” ucapnya.

Penulis: Nanda Aria

Editor: Anju Mahendra

Iklan

mau tayang di media lain juga

ARTIKEL TERBARU