28.3 C
Jakarta
Jumat, 19 Juli, 2024

KSSK: Stabilitas Keuangan Indonesia Normal di Tengah Ancaman Krisis Global

JAKARTA, duniafintech.com – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyebut bahwa stabilitas sistem keuangan Indonesia masih berada dalam kondisi normal, meskipun diterpa ancaman krisis global akibat perang antara Rusia dan Ukraina.

“Saudara sekalian stabilitas sistem keuangan Indonesia berada kondisi normal di tengah tekanan eksternal yang meningkat akibat perang di ukraina,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati selaku Ketua KSSK, Rabu (13/4).

Bendahara negara itu menjelaskan, perang Rusia-Ukraina telah membuat agenda pemulihan ekonomi global tertekan. Proyeksi ekonomi diperkirakan akan lebih rendah dari sebelumnya.

Hal ini juga dipicu oleh meningkatnya volatilitas pasar keuangan. Optimisme pemulihan ekonomi global usai diterpa badai pandemi Covid-19 agaknya sedikit tertekan akibat dari meningkatnya eskalasi perang di Eropa Timur tersebut.

Perang ini, lanjutnya, telah membuat berbagai harga komoditas bergejolak. Harga minyak dunia melambung tinggi, yang juga diikuti dengan berbagai harga komoditas lainnya, seperti energi dan pangan.

Namun demikian, kondisi stabilitas sistem keuangan nasional masih terjaga. Hal ini didorong oleh terkendalinya penanganan pandemi Covid-19 di Tanah Air, yang diikuti dengan pelonggaran kegiatan masyarakat.

“Yang kemudian semakin mendorong kegiatan perekonomian dalam negeri,” Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati selaku Ketua KSSK.

Dia pun mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pun diperkirakan tetap kuat yang didukung oleh kegiatan konsumsi masyarakat atau rumah tangga, kegiatan investasi serta dukungan belanja pemerintah.

Indikator stabilitas sistem keuangan turut tercermin dari kinerja ekspor yang mengalami peningkatan sangat signifikan.

Sri Mulyani menuturkan peningkatan ekspor itu akan tetap diwaspadai seiring perkembangan perdagangan ekonomi global dan pertumbuhan ekonomi global yang terancam akibat perang di Ukraina.

Sejumlah indikator ekonomi hingga awal Maret  2022 juga tercatat baik seperti indeks keyakinan konsumen, penjualan eceran, pertumbuhan penjualan kendaraan bermotor, konsumsi semen dan konsumsi listrik.

Sementara dari sisi eksternal, surplus neraca perdagangan pada Februari 2022 meningkat mencapai US$3,83 miliar didukung oleh surplus neraca perdagangan non migas terutama dengan meningkatnya harga-harga komoditas global seperti batu bara, besi, baja serta CPO.

Di sisi lain, dengan peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global dan aliran modal asing ke pasar keuangan domestik yang mengalami tekanan maka investasi portofolio mengalami net outflow US$1,3 miliar sampai 31 Maret 2022.

Meski demikian, tekanan net outflow ini masih lebih baik bila dibandingkan dengan emerging market lain yang juga mengalami aliran dana asing yang keluar.

Adapun, untuk cadangan devisa Indonesia pada posisi Maret 2022 pun tetap tinggi yaitu mencapai US$139,1 miliar yang setara dengan pembiayaan 7,2 bulan impor atau 7,0 bulan impor dan pembiayaan utang luar negeri pemerintah.

Standar ini berada di atas standar kecukupan internasional yang biasanya dihitung pada sekitar tiga bulan kebutuhan impor.

Selanjutnya, nilai tukar rupiah tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global meski pada triwulan I-2022 mengalami sedikit depresiasi sebesar 0,33% secara rata-rata dibandingkan posisi akhir 2021.

Depresiasi rupiah tersebut lebih rendah dibandingkan mata uang sejumlah negara berkembang lainnya ringgit Malaysia 1,15% (ytd), rupee India 1,73% (ytd) dan baht Thailand 3,15% (ytd).

Terakhir, inflasi Indonesia hingga Maret 2022 juga tetap terkendali pada tingkat 2,64% (yoy) didukung oleh masih cukup terkendalinya sisi penawaran dalam merespon kenaikan permintaan.

 

 

Penulis: Nanda Aria

Editor: Rahmat Fitranto

Iklan

mau tayang di media lain juga

ARTIKEL TERBARU