33 C
Jakarta
Rabu, 24 Juli, 2024

Manfaatkan Tenaga Surya, Tesla Akan Tambang Bitcoin di Texas

JAKARTA, duniafintech.com – Produsen kendaraan listrik Tesla Inc. bersama perusahaan layanan keuangan Block Inc. dan perusahaan blockchain Blockstream Corp berkolaborasi untuk menambang bitcoin menggunakan tenaga surya di Texas.

Hal tersebut disampaikan oleh CEO Blockstream Adam Back, sebagaimana dikutip dari Reuters pada Senin.

“Tesla sedang membangun infrastruktur tenaga surya dan menyediakan baterai Megapack,” imbuh Adam Back.

Blockstream dan Block, yang sebelumnya dikenal sebagai Square, pada Juni lalu mengatakan bahwa mereka berkolaborasi untuk membangun fasilitas penambangan bitcoin open-source dan bertenaga surya di Amerika Serikat.

Namun, Tesla dan Block tidak segera menanggapi permintaan komentar mengenai kolaborasi tersebut.

Sebagai informasi, Bitcoin merupakan mata uang digital. Untuk menambang mata uang digital, perlu komputer bertenaga tinggi untuk bersaing satu sama lain dalam memecahkan teka-teki matematika yang kompleks. Saat ini, proses tersebut sering bergantung pada bahan bakar fosil.

Pada Mei lalu, Tesla berhenti menerima bitcoin untuk pembelian mobil karena kekhawatiran lingkungan terkait penambangan bitcoin.

Proyek ini akan sepenuhnya off-grid, dengan panel surya Tesla 3,8 MW memberi daya pada tambang dan baterai Tesla 12 megawatt hour (MWh). Baterai yang disediakan Tesla berfungsi sebagai tambahan energi sehingga tambang dapat beroperasi pada malam dan siang hari tanpa sinar matahari.

Penambangan Bitcoin terus-menerus mendapatkan kritik karena dugaan jejak karbonnya. Pekan lalu, Greenpeace, Environmental Working Group, dan Chris Larsen dari Ripple meluncurkan kampanye untuk mengubah model fundamentalnya dari proof-of-work, yang membutuhkan banyak energi untuk dijalankan.

“Bitcoin bukanlah pertanyaannya, bitcoin adalah jawabannya,” kata Back, karena dapat bertindak sebagai konsumen beban dasar listrik, membuat proyek energi terbarukan layak secara finansial, dan memungkinkan investasi lebih lanjut dalam aset energi terbarukan.

Pergerakan Bitcoin Cs Menguat

Di sisi lain, Pasar aset kripto tampak cerah pada Rabu (13/4/2022) pagi. Melansir Coinmarketcap, 9 dari 10 aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar bergerak di zona hijau dalam 24 jam terakhir.

Nilai mata uang kripto paling bersinar pagi ini adalah Binance Exchange (BNB) yang melesat 4,7 persen di posisi 413,51 dollar AS, Solana (SOL) naik 3,2 persen di level 103,18 dollar AS, dan Polkadot (DOT) menguat 3,07 persen di level 17,7 dollar AS.

Cardano (ADA) menguat 2,8 persen di level 0,9 dollar AS, dilanjutkan oleh Terra (LUNA) yang naik 2,3 persen di level 84,25 dollar AS. Dogecoin (DOGE) di level 0,13 dollar AS atau menguat 1,9 persen. Sementara itu, BTC berada di posisi 40.110 atau naik 1,2 persen, dan Ethereum (ETH) di level 3.026 dollar AS atau menanjak 1,2 persen.

Pagi ini Tether (USDT) turun 0,02 persen di posisi 1 dollar AS, sementara USD Coin (USDC) naik 0,07 persen di level 1 dollar AS. Sebagai informasi USDT dan USDC merupakan mata uang kripto golongan stable coin atau jenis mata uang kripto yang dibuat untuk menawarkan harga yang stabil terhadap dollar AS.

Mengutip Coindesk via Kompas.com, pergerakan aset kripto dipengaruhi oleh ketidakpastian makroekonomi dan geopolitik, sehingga membuat para pasar gelisah.

Kombinasi perang, kenaikan suku bunga, inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat telah menyebabkan investor mengurangi eksposur mereka terhadap aset berrisiko.

QCP Capital, sebuah perusahaan perdagangan kripto mengatakan, kenaikan volatilitas bitcoin selama beberapa hari terakhir tidak berlangsung lama, dan menunjukkan stabilisasi jangka pendek pada harga spot BTC.

“Pasar volatilitas BTC tidak menunjukkan terlalu banyak kepanikan. Perusahaan mencatat volatilitas jangka pendek bergerak lebih tinggi selama beberapa hari terakhir, sementara volatilitas jangka panjang hampir tidak bergerak,” kata QCP Capital.

“Satu pola berbeda yang kami perhatikan, volatilitas front-end telah bergerak terbalik dengan harga spot BTC. Ini berarti ketika spot lebih rendah, volatilitas akan lebih tinggi, dan ketika spot lebih tinggi, volatilitas akan lebih rendah,” tambah QCP.

Akhir-akhir ini, para pedagang menuntut lebih banyak opsi panggilan daripada opsi put, yang menciptakan ketidakseimbangan.

“Akibatnya, ketika harga naik, kepanikan atau ketakutan di pasar jauh lebih sedikit daripada saat harga jatuh,” tulis QCP.

 

 

 

Penulis: Kontributor/Panji A Syuhada

Iklan

mau tayang di media lain juga

ARTIKEL TERBARU