31.2 C
Jakarta
Jumat, 21 Juni, 2024

Mastercard dan Visa Pertahankan Dominasi 2024, Lebih Inovatif dari Fintech Paypal dan Coinbase

JAKARTA, duniafintech.com – Mastercard dan Visa berhasil mempertahankan posisi sebagai perusahaan finansial paling inovatif berdasarkan survei Future Readiness Indicator (FRI/ Indikator Kesiapan Masa Depan) 2024 untuk kategori finansial yang dirilis oleh The International Institute of Management and Development (IMD). Lewat FRI, IMD melakukan survei dan pemeringkatan terhadap 40 perusahaan finansial dunia.

Mastercard (100) ada di posisi puncak, diikuti oleh Visa (97,9) di peringkat dua, lalu Bank DBS (86,5) di tempat ketiga, JP Morgan Chase & Company (79,3) di menduduki posisi empat, dan peringkat kelima dihuni oleh Bank of America (71,3). “Strategi kemitraan dan akuisisi, serta fokus melakukan inovasi di internal berhasil membawa Mastercard, Visa, DBS, dan JPMorgan menempati posisi teratas,” jelas Howard Yu, Direktur IMD Center for Future Readiness yang menyusun laporan ini.

Selama delapan tahun terakhir, Baik Mastercard dan Visa, konsisten berada di posisi puncak lantaran kelincahan mereka menyesuaikan penerapan model bisnis untuk berbagai lini layanan dan produk yang ditawarkan, seperti pembayaran digital dan penggunaan AI. Sementara Bank DBS (86,5) dan JPMorgan Chase (79,3) juga tetap lincah imbas investasi pada transformasi digital, infrastruktur cloud, dan pengembangan platform AI di internal perusahaan.

Menariknya, inovasi Mastercard dan Visa bahkan lebih unggul dari para pesaing dari industri fintech yang dikenal memiliki gebrakan inovasi seperti Coinbase (64.2), Block (60.3), dan PayPal (56.4). Ketiga perusahaan “penantang” ini memang berhasil memaksa para pemain keuangan tradisional untuk segera mengadopsi teknologi baru untuk mendorong efisiensi, meningkatkan layanan pelanggan, dan membuka model bisnis baru. Namun, kekuatan aliansi, infrastruktur, dan masifnya skala pengaruh akses layanan Mastercard dan Visa kepada pengguna, membuat posisi para penantang ini belum bisa mengungguli para perusahaan finansial raksasa itu.

“Pada kasus Paypal, Block, dan Coinbase, secara umum mereka tidak cukup kuat dan menonjol untuk membendung kekuatan Mastercard dan Visa yang memiliki infrastruktur masif dan kini membentuk aliansi dengan berbagai startup,” tutur Yu.

Selain itu, Mastercard dan Visa membentuk aliansi, akuisisi, dan kemitraan dengan berbagai startup kecil untuk memberi perlawanan atas derasnya arus inovasi perusahaan fintech. Kemitraan ini lantas memanfaatkan kekuatan bisnis dan infrastruktur Mastercard dan Visa dengan memasifkan layanan khas fintech dan menjaga dominasi mereka di industri keuangan.

Beberapa fitur khas para pemain fintech yang diadopsi seperti skema buy now pay later (beli sekarang, bayar kemudian), embeded financing, hingga jual beli crypto. Embeded financing adalah istilah untuk menghubungkan layanan perbankan dan layanan finansial lain (seperti pinjaman, asuransi, investasi) ke dalam aplikasi non-finansial menggunakan API (application programming interfaces).

“Layanan itu dulunya merupakan tawaran eksklusif para pemain fintech. Tapi sekarang kami melihat bank-bank besar pun menawarkan layanan-layanan ini setelah mereka melakukan kerjasama strategis (dengan startup),” Yu memaparkan. “Bank-bank besar seperti DBS, HSBC, Visa dan Mastercard, telah mendemokratisasi layanan tersebut sehingga lebih mudah diakses pengguna.”

Untuk mengukur kesiapan organisasi di masa depan (future readiness) di sektor keuangan, IMD melakukan pemeringkatan berdasarkan kemampuan perusahaan untuk melakukan digitalisasi, menerapkan prinsip ESG (embed environmental, social, and governance), serta memberikan layanan pelanggan yang berjalan mulus dan lancar. Dalam survei ini, IMD juga mengukur hal berwujud seperti kondisi keuangan dan faktor tidak berwujud seperti kualitas kepemimpinan dan inovasi.

“Survei yang kami lakukan sejak 2015 ini menunjukkan perusahaan-perusahaan yang berhasil unggul karena mereka lebih siap beradaptasi, mengantisipasi perubahan, dan mengeksploitasinya untuk keuntungan perusahaan di tengah gencarnya gempuran perubahan industri finansial. Kemampuan untuk berinovasi jangka panjang dan gesit beradaptasi dalam jangka pendek menjadi alasan mereka bisa berada di posisi puncak,” tandas Yu.

Keunggulan Mastercard dan Visa

Future Readiness Indikator mengidentifikasi hal-hal apa saja yang dilakukan oleh para pemimpin industri sehingga inovasi mereka bisa unggul. Lantas pembelajaran apa yang bisa dipetik oleh perusahaan keuangan di Indonesia dari perusahaan-perusahaan finansial terinovatif dunia itu?

  1. Tanggap tren terbaru 

Perusahaan perlu segera mengeksplorasi hal-hal baru seperti model bisnis dan teknologi baru agar lebih kompetitif. Sebagai contoh seperti yang dilakukan Nvidia yang lebih dari 10 tahun lalu telah mempelajari AI dan deep learning, sebelum keduanya menjadi tren. Kini Nvidia menjadi yang terdepan soal AI untuk perangkat keras dan lunak karena sudah lebih dulu mendalaminya.

  1. Visioner dan adaptif

Perusahaan mesti  menetapkan target dan memiliki sikap siap belajar untuk mencapainya, terbuka terhadap eksperimen, dan bersedia melakukan pivot jika diperlukan. Hal ini dimiliki CEO Nike John Donahoe yang memiliki visi transformasi digital, mendorong ekperimen, dan pivot. Ia menyetujui akuisisi perusahaan analisis data Celect di 2019 untuk meningkatkan kemampuan prediktif Nike. Hasilnya, Nike berhasil memberikan deviden tertinggi dalam 10 tahun terakhir kepada para pemegang saham mereka.

  1. Cepat mengambil keputusan

Mastercard memiliki rekam jejak dalam membuat keputusan cepat agar perusahaan tetap gesit. Contohnya dengan meluncurkan platform Mastercard Developers agar para pengembang bisa memanfaatkan API untuk aplikasi dan layanan mereka.

Daftar selengkapnya bisa diakses ditautan berikut.

Mastercard dan Visa

Baca jugaKartu Kredit Cashback Terbaik: Panduan Lengkap Memilih dan Maksimalkan Potongan Harga

Baca terus berita fintech Indonesia dan kripto terkini hanya di duniafintech.com

Iklan

ARTIKEL TERBARU