AI Startup Pitch Jadi Incaran Para Penggiat Startup AI

0

duniafintech.com – Malta AI & Blockchain Summit yang berlangsung tanggal 7 hingga 8 November 2019, di Inter Continental Arena Conference Center, St Julian’s. Acara ke 2 Malta ditahun 2019 ini akan dipastikan sukses. Seluruh startup AI akan bersaing yang kemudian dipilih sepuluh startup untuk turut berpartisipasi dalam AI Startup Pitch.

Partisipan akan menampilkan secara langsung di panggung utama pada saat hari pertama dihadapan panel ahli terbaik dari industri AI dan investor. AI Startup Pitch selalu ditunggu-tunggu oleh para audience.

Baca juga : Bagaimana Cara Memilih Properti Syariah yang Aman?

Hadiah yang diberikan berupa ruang kantor setahun, dukungan dari media, pemasaran digital dan masih banyak yang lainnya. Satu keuntungan lagi untuk para startup akan mendapatkan permulaan yang baik untuk rencana bisnis mereka karena KTT AIBC Malta akan memberikan inspirasi dan menumbuhkan bakat yang luar biasa di kancah teknologi.

Tentu saja, seluruh peserta akan ditetapkan menjadi pemenang oleh para juri kontes, karena pengalaman yang berharga serta jaminan mendapatkan aplikasi yang unik dari acara AI Startup Pitch. Dan dengan banyaknya investor yang hadir, tidak dapat dipungkiri bahwa startup akan mempunyai peluang yang besar bagi usahanya.

100 startup teknologi dari sektor AI, Blockchain, IoT, dan Big Data juga akan ikut memamerkan proyek dan layanan mereka kepada sekitar 1000 peserta diacara tersebut dengan stand berukuran 1×1, serta mendapatkan visibilitas online di AIBCSummit.com

Eman Pulis, pendiri dan CEO Malta AI & Blockchain summit mengatakan, “ini adalah acara ketiga dan terbesar yang telah kami buat, kami tidak sabar untuk melihat antusias pendatang pada acara AI Startup Pitch. Persaingan sebelumnya yang harus kami lalui, kami juga akan memfasilitasi permulaan dari pertumbuhan untuk beberapa merk global di sektor AI. saya merasa bangga bahwa pertunjukan kami sangat berdampak bagi anggota dan menyatukan bakat yang luar biasa. Dan saya berharap dapat bejumpa dengan semua yang ikut berpartisipasi.”

Baca juga :

— Press Release —

 

Xiaomi Kembali Jalin Kerjasama dengan Samsung

0

duniafintech.com – Awal Bulan 2019 lalu terjadi kerjasama besar antara dua perusahaan teknologi yaitu Xiaomi dan Samsung dibidang produksi komponen untuk smartphone yaitu memasok chip memori, kali ini xiaomi kembali meluncurkan ponsel terbarunya dengan menggunakan kamera berkekuatan sensor 108MP yang dibuat oleh Samsung dalam waktu dekat. Pada bulan lalu Samsung telah mengumumkan sensor kamera miliknya yang beresolusi cukup tinggi.

Samsung dengan sensor kamera 108MP memulai debutnya untuk menjalin kerjasama di lini produk xiaomi dan menjadi perusahaan pertama yang membuat ponsel dengan kualitas kamera mendekati kamera digital compact premium seperti seri Sony RX, Canon G, Namun masih cukup jauh jika dibandingkan dengan sensor kamera mirrorless dan APS-C. Sensor kamera tersebut adalah mammoth 1/1.33″ 108MP ISOCELL Bright HMX.

Baca Juga : Xiaomi Kini BerInvestasi Pada Smart Home

Ponsel berkekuatan kamera 108MP buatan samsung ini boleh dikatakan pintar, karena empat pixel akan bergabung menjadi kesatuan dengan mengunakan teknologi yang disebut tetracell sehingga penyerapan cahaya lebih maksimal saat kondisi cahaya makin gelap dan cahaya yang didapatkan masih cukup besar. Sensor kamera resolusi ultra tinggi 108MP ini bahkan mempertahankan gambar 27MP berkualitas tinggi dalam zoom 2x bahkan dapat lebih dari dua kali lipat piksel dari kamera telefoto 12MP standar.  Tidak hanya itu kualitas pengambilan videonya pun dapat disandingkan dengan beberapa merek terkenal seperti sony, sensor dari ponsel ini juga cukup memukau, yaitu menjanjikan kemampuan merekam video 6K 30 fps dan tanpa cropping.

Baca Juga : Vivo S1, Apakah Lebih Canggih dari Seri Sebelumnya?

Inovasi dan kemajuan Xiaomi yang terus menerus dalam teknologi pencitraan Inovasi terbaru ini merupakan bukti dedikasi yang terus-menerus terhadap keunggulan pencitraan sepanjang perjalanan fotografi smartphone Xiaomi. Selain itu, Kemampuan penelitian dan pengembangan AI yang kuat berkontribusi pada kemajuan teknologi pencitraan Xiaomi. Menurut statistik oleh Nikkei Business News, aplikasi paten terkait AI Xiaomi menempati urutan ke-11 di dunia. Tim algoritma AI, terdiri dari lebih dari 1.000 orang, telah terus mengembangkan fungsi kamera inovatif baru, dan meluncurkan mode pemandangan malam AI yang diterima dengan baik, pengambilan gerak lambat 960fps, pelacakan gerak AI dan AI Skyscaping yang dapat digunakan oleh kaum milenial untuk berselfie.

-Vidia Hapsari-

 

Bagaimana Cara Memilih Properti Syariah yang Aman?

0

duniafintech.com – Seiring mencuatnya tren gaya hidup halal di masyarakat, semakin meningkat pula permintaan masyarakat terhadap kebutuhan properti syariah (properti yang transaksi kepemilikannya dilakukan berdasarkan ajaran Islam). Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2016 menyebut bahwa porsi pembelian properti melalui sistem syariah meningkat 11,23 persen per tahun.

Baca juga : Aplikasi Pinjaman Tenang BRI Adopsi Sistem Fintech

Dalam Indonesia Muslim Lifestyle Festival (Muslim Life Fest) yang berlangsung dari 30 Agustus-1 September 2019 di Jakarta Convention Center, properti syariah menjadi salah satu  sorotan yang menarik pengunjung. Berbagai properti syariah hadir dan menawarkan keunggulannya masing-masing.

Selain menampilkan booth, Muslim Life Fest  juga mengadakan talkshow bertemakan “APSI – Properti Syariah antara harapan, kenyataan dan tantangan” yang diadakan di gelaran hari terakhir (1/9). Melalui kegiatan ini, Muslim Life Fest berupaya untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat terkait bisnis ini.

Dewan Pengawas Properti APSI (Asosiasi Properti Syariah Indonesia) Hardiana kemudian menjelaskan bahwa ada 3 hal penting yang harus diperhatikan dalam property syariah yakni : Pertama, yang harus kita hindari adalah riba. Kedua, tidaklah gharar (penipuan). Ketiga harus terhindar dzalim.

Dalam talkshow tersebut, Hardiana juga memberikan sejumlah tips kepada masyarakat untuk memilih dan membeli properti syariah. Ia menyatakan bahwa salah satu aspek terpenting dalam membeli properti syariah adalah seorang calon pembeli harus mengetahui legalitasnya terlebih dahulu.

Ketika kita akan membeli properti, kita harus mengetahui legalitasnya terlebih dahulu. Legal itu artinya properti itu sah secara hukum dan sah secara agama. Dia memiliki produk hukum yang sesuai dengan peraturan pemerintah sesuai tempat tinggal.” tuturnya.

Menurutnya, properti syariah yang aman adalah properti yang telah memiliki izin lingkungan dari pemerintah setempat. Jika tidak ada, sebaiknya dihindari karena berpotensi menimbulkan masalah. Selain itu, calon pembeli juga dapat menanyakan siteplan kepada pihak pengembang untuk lebih memastikan keamanannya.

Dalam memilih properti, biasanya seseorang akan mempertimbangkan kedekatan antara properti yang hendak dibeli dengan beberapa tempat umum seperti stasiun, halte dan bahkan jalan tol. Hal ini tidak salah. Namun ada baiknya, calon pembeli juga harus memperhatikan tempat tinggal yang hendak ditempati dengan sejumlah tempat kegamaan, seperti masjid, sekolah Islam, rumah tahfidz dan bahkan rumah pemuka agama dengan harapan untuk mendapatkan keberkahan dengan lebih luas.

Baca juga : Kerjasama Lazismu dengan Firma Swedia Dibidang Teknologi Syariah

— Dinda Luvita —

Kolaborasi AlgoTrader dan Avaloq Dorong Manajemen Aset Digital

0

duniafintech.com – Dua perusahaan fintech terkemuka, AlgoTrader dan Avaloq bergabung untuk menyelesaikan masalah kompleks yang dihadapi oleh industri keuangan melalui berbagai layanan berkualitas tinggi dalam membangun ekosistem manajemen aset digital global.

Kemitraan ini terjadi di tengah perubahan mendasar dalam perilaku perbankan dan manajemen kekayaan klien dan bagaimana layanan keuangan akan melakukan bisnis di masa depan. Bersama-sama, AlgoTrader dan Avaloq menciptakan ekosistem manajemen aset digital global untuk memungkinkan bank dan perantara keuangan bersiap dalam menyambut perubahan paradigma yang akan datang untuk perdagangan dan kustodi kripto aset.

Baca juga: Lakuemas, Buktikan Layanan Fintech Permudah Pembelian Emas

Banyak lembaga keuangan menginginkan solusi yang sesuai dengan alur kerja front-to-back office yang ada dan dapat diintegrasikan dengan mulus ke dalam infrastruktur, sistem dan proses mereka. Perantara keuangan, seperti bank dan manajer kekayaan sedang mencari solusi yang dibangun dengan tujuan dan cukup fleksibel untuk beradaptasi dengan sekuritas dan industri aset digital yang berkembang pesat.

AlgoTrader adalah perangkat lunak perdagangan algoritmik tingkat institusional dan menyediakan infrastruktur perdagangan dan eksekusi untuk smart-order-routing, algos eksekusi, melakukan penelitian kuantitatif, pengembangan strategi perdagangan, backtesting strategi dan perdagangan otomatis untuk sekuritas tradisional dan aset digital.

Perdagangan tingkat institusional AlgoTrader dan infrastruktur eksekusi akan tersedia di marketplace fintech avaloq.one. Infrastruktur AlgoTrader yang telah terbukti memungkinkan klien perbankan dan manajemen kekayaan Avaloq yang luas di seluruh dunia untuk mengelola perdagangan kripto otomatis mereka dan untuk mendapatkan akses ke semua pertukaran kripyp utama melalui API FIX yang kuat.

“Kemitraan dengan AlgoTrader adalah elemen penting lainnya dalam Avaloq.one, ekosistem kami yang sedang tumbuh. Kemampuan mereka memungkinkan klien kami untuk mendapatkan akses ke banyak bursa dan broker untuk perdagangan kripto untuk mendapatkan harga eksekusi terbaik. Bermitra dengan perusahaan seperti AlgoTrader melalui ekosistem kami adalah bagian penting dari strategi Avaloq. Kami sangat percaya pada ekosistem kolaboratif yang memungkinkan klien kami mengintegrasikan fintech dan regtech terkemuka ke dalam lanskap perbankan mereka melalui platform Avaloq.one milik kami,” ujar Martin Greweldinger, Kepala Product Officer di Avaloq.

Baca juga: Ibukota Negara Pindah, Era Baru Penerapan Aset Digital-Blockchain?

AlgoTrader memiliki beberapa tahun pengalaman dalam perdagangan aset digital dan token ekonomi yang berkembang pesat saat ini. Baru-baru ini, AlgoTrader diakui sebagai salah satu dari 100 perusahaan WealthTech global TOP, lingkungan perdagangan berbasis cloud terbaik di TradingTech Insight Awards dan sebagai salah satu perusahaan TOP 50 Crypto Valley.

-Dita Safitri-

Kerjasama Lazismu dengan Firma Swedia Dibidang Teknologi Syariah

0

Duniafintech – Di bidang industri keuangan baik yang syariah dan konvensional akan terhubung dengan  landasan dalam pemanfaatan teknologi digital. Dalam lensa yang lebih khusus, seperti lembaga-lembaga filantropi misalnya badan zakat Ri Lazismu turut memanfaatkannya juga untuk beradaptasi dan berinovasi.

Lembaga amil zakat Lazismu Bersama PT. PIN (Permata Intan Nusantara) melakukan penandatanganan perikatan kerjasama dengan supertext swedia pada 30 Agustus 2019 di KBRI Stockholm, Swedia. Penandatanganan dilakukan oleh CEO PT. PIN, Bapak Muhammad Jafar dengan CEO Supertext, Mr. Martin Jacobson. Agenda itu turut dihadiri oleh Direktur Fundraising dan Kerjasama Lazismu, Bapak Rizaludin Kurniawan dan Dubes RI untuk Kerajaan Swedia, Bapak Bagas Hapsoro.

Baca juga: Aplikasi Pinjaman Tenang BRI Adopsi Sistem Fintech

Seperti yang dikatakan oleh Bagas Hapsoro, Penandatanganan kerjasama antara lazismu dengan firma swedia ini bermaksud untuk membangun landasan bagi teknologi finansial syariah yang bermanfaat bagi anggota Muhammadiyah dan rakyat Indonesia. CEO dan Pendiri Supertext, Mr. Martin Jacobson menekankan kembali keunggulan teknologi komunikasi yang disediakan Supertext untuk kemanfaatan bagi anggota Muhammadiyah dan komunitasnya.

Beberapa hal pokok diungkapkan dari penandatanganan kerjasama ini, yaitu upaya mengembangkan program aplikasi pengiriman pesan bagi anggota Muhammadiyah dan komunitas dengan mengkombinasikan landasan teknologi finansial PT. PIN bersama lazismu dan landasan teknologi komunikasi Supertext termasuk dalam aktivasi digital dan promosi. Kemudian mengembangkan layanan teknologi finansial syariah bagi anggota Muhammadiyah dan komunitas, seperti zakat, infak, sedekah, wakaf, kurban, aqiqah, haji, umrah, pengumpulan dana anggota, dan wisata halal.

Baca juga: Ibukota Negara Pindah, Era Baru Penerapan Aset Digital-Blockchain?

Dalam waktu dekat, Lazismu dan supertaxt akan kembali menandatangi detail teknis ikatan pendahuluan yang telah disetujui dan akan diatur dalam perjanjian kerjasama.

-Vidia Hapsari-

HSBC Optimis Hadirkan Mata Uang Yuan di Blockchain

0

duniafintech.com – HSBC menyelesaikan transaksi letter of credit (LC) berdenominasi Yuan blockchain pertama. Perusahaan perbankan ini menjadi pionir penggunaan mata uang Yuan ke dalam transaksi LC dengan mengunakan blockchain yang dimaksudkan untuk meminimalisir bisnis konvensional berbasis kertas.

Dilansir dari Reuters, Kepala Perdagangan dan Piutang HSBC kawasan Asia Pasifik, Ajay Sharma menuturkan jika pihaknya tengah memasuki tahapan proposisi penuh menuju komersialisasi. Ajay mengklaim hasil dari progres penempatan Yuan dalam blockchain dapat terlihat pada kuartal pertama 2020 nanti.

Baca juga: Aplikasi Pinjaman Tenang BRI Adopsi Sistem Fintech

Ia menambahkan, nantinya progres tersebut akan dijadikan pertimbangan untuk HSBC menentukan arah teknis kebijakannya serta menjadi role model untuk kompetitor mengikuti langkah serupa.

Blockchain sebagai teknologi buku besar berbasis digital tidak hanya diterapkan oleh HSBC, tetapi juga beberapa bank lainnya. Teknologi tersebut dinilai mampu membuat alur pendanaan perdagangan menjadi sangat efisien.

Langkah HSBC menggunakan Yuan pada transaksi blockchain disebut sebagai langkah visioner atas penggunaan platform pendanaan perdagangan Voltron yang digarap oleh 8 perbankan tersebut.

Baca juga: Sepak Terjang Chris Larsen dari Silicon Valley Hingga Ripple

Lebih lanjut, Standard Chartered dan BNP Paribas juga termasuk 2 di antara 8 perbankan yang mengikuti jejak HSBC. Namun sampai sejauh ini, tahap transaksi keduanya masih sebatas percobaan.

-Fauzan-

Aplikasi Pinjaman Tenang BRI Adopsi Sistem Fintech

0

duniafintech.com – Bank Rakyat Indonesia (BRI) menerapkan gaya fintech pada produk pinjaman terbarunya bertajuk PINANG (Pinjaman Tenang). Dikemas dalam bentuk aplikasi, PINANG sudah dilengkapi sistem berbasis teknologi seperti digital verificationdigital scoring dan digital signature.

Teknologi keuangan atau fintech semakin terlihat sebagai cara baru yang menjanjikan dalam mengatur sisi finansial. Hal ini terbukti melalui banyaknya pemilik rekening bank yang mendaftarkan diri kepada teknologi tersebut, lantaran beberapa kemudahan yang ditawarkan.

Baca juga: Pinjam Dana Fintech Mengkhawatirkan? Simak Langkah Cermat Ini

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Sunarso menilai, kemudahan yang ditawarkan teknologi finansial saat ini membuat BRI “tergoda” untuk mengadopsi prinsip fintech. Menurutnya, terdapat banyak cara untuk mengadopsi prinsip fintech pada bank konvensional, salah satunya kolaborasi melalui anak perusahaan.

Seperti fintech pinjaman lainnya, PINANG menawarkan kemudahan dalam mencairkan dana pinjaman yang bisa diproses kurang dari 10 menit tanpa perlu melakukan proses tatap muka. Selain itu, fintech BRI satu ini juga menawarkan tenor yang beragam, yakni dimulai dari 1 sampai 12 bulan. Kelebihan lainnya yang dimiliki PINANG ialah adanya proses top up hingga maksimal 20 juta serta tingkat bunga yang lebih rendah dibanding layanan pinjaman lainnya.

Baca juga: OJK Siapkan GESIT, Teknologi Pengawasan Ekosistem Fintech

Fintech BRI Buka Peluang Kerja Sama dengan Pesaing

Sunarso tidak memungkiri bila nantinya layanan fintech BRI akan membuka kerja sama dengan beberapa pengembang yang sudah berkecimpung sebelumnya dalam hal inovasi. Ia juga mengaku tidak khawatir terkait persaingan dengan beberapa kompetitor. Menurutnya, justru pihaknya harus bisa memanfaatkan situasi agar salah satu raksasa perbankan di Indonesia tersebut tetap eksis di sektor keuangan.

-Fauzan-

OJK Siapkan GESIT, Teknologi Pengawasan Ekosistem Fintech

0

duniafintech.com – Melalui sebuah situs bertajuk GESIT (Gerbang Elektronik Sistem Informasi Keuangan Digital), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mewujudkan realisasi dari inovasi Teknologi Pengawasan atau Supervisory Technology (SupTech) untuk mengawasi ekosistem perkembangan fintech di Indonesia.

Baca juga: Pinjam Dana Fintech Mengkhawatirkan? Simak Langkah Cermat Ini

OJK telah membuat ruang lingkup untuk teknologi keuangan yang digolongkan dalam peraturan Inovasi Keuangan Digital atau IKD. Wakil Ketua Dewan OJK, Nurhaida mengatakan laman GESIT nantinya akan menjadi ‘jembatan’ penghubung antara IKD, OJK dan juga masyarakat. GESIT merupakan pijakan awal dari teknologi pengawasan fintech untuk IKD. Laman tersebut akan terus dikembangkan mengingat banyaknya tantangan ke depan.

GESIT menjadi media berbasis teknologi yang bertugas mengawasi setiap pengembang fintech yang telah terdaftar di OJK. Lebih lanjut Nurhaida mengatakan, teknologi SupTech telah memudahkan pihaknya untuk melakukan pengawasan serta penegakan hukum dalam ekosistem fintech. Disebutkan, peluncuran laman GESIT sebagai awal untuk mendukung keberlangsungan serta perkembangan sektor keuangan digital.

Baca juga: Lakuemas, Buktikan Layanan Fintech Permudah Pembelian Emas

Diketahui sebelumnya, OJK juga telah membuat Innovation Center atau Fintech Center (OJK Infinity) di tahun 2018. OJK Infinity menjadi wadah sekaligus forum para pengembang fintech. Forum ini terbukti mampu mendukung kemajuan sektor teknologi finansial. Berdasarkan perolehan data per Juli 2019, OJK Infinity telah menghadirkan layanan konsultasi kepada 397 peserta serta menerima kunjungan dari 800 orang yang terlibat dalam sektor fintech.

-Fauzan-

Lakuemas, Buktikan Layanan Fintech Permudah Pembelian Emas

0

duniafintech.comLayanan financial technology (fintech) terbukti telah memberikan pengalaman, akses, dan kemudahan dalam bertransaksi dan berinvestasi khususnya bagi generas milenial. Melihat geliat masyarakat yang positif akan teknologi finansial ini, hadirlah layanan terbaru dalam dunia fintech yaitu Lakuemas.

Baca juga : Respons BI Terhadap Meningkatnya Digitalisasi

Lakuemas menawarkan beli dan jual emas secara digital di Indonesia (dapat diakses melalui website, e-commerce & aplikasi mobile). Platform ini memberikan kemudahan bagi konsumen dimana konsumen dapat melakukan pembelian, penjualan, pengiriman dan penarikan emas tanpa adanya biaya penyimpanan serta mendapatkan keuntungan tambahan berupa kemudahan dalam menarik emas fisik di hampir 100 toko perhiasan yang ada di hampir semua kota besar di Indonesia. Selain itu, konsumen juga dapat menukarkan emas menjadi perhiasan di toko-toko tersebut dan mendapatkan berbagai promo menarik.

Junior Sambyanto, Business Development Director Lakuemas menjelaskan “Saat ini mayoritas dari penduduk Indonesia dengan usia produktif merupakan kaum milenial. Dalam kesehariannya produk-produk digital sangat erat dengan generasi ini. Lewat Lakuemas, kami mencoba memperkenalkan kemudahan dalam membeli emas dan perhiasan. Kami melihat bahwa kaum milenial juga harus diingatkan kembali untuk mempunyai simpanan emas dan perhiasan, seperti halnya generasi kakek nenek dan orang tua kita yang menjadikan emas dan perhiasan sebagai alat investasi.”

Menurut hasil penelitian dari Jakpat mengenai tren investasi yang dilakukan milenial pada tahun 2018, menunjukan bahwa investasi dalam bentuk emas merupakan tren investasi terbesar kedua setelah tabungan konvensional.

Menanggapi tingginya permintaan akan jenis investasi ini, Lakuemas hadir untuk memahami generasi milenial yang technology savvy. Melalui pengembangan aplikasi O2O (Online to Offline) yang mengakomodasi kebutuhan jual, beli, transfer dan juga penukaran fisik dari emas digital menjadi logam mulia dan perhiasan.

Beberapa kegiatan yang saat ini dilakukan dalam rangka memperkenalkan Lakuemas antara lain:

  1. Pameran perhiasan Dazzling Jewelry Festival

Berlokasi di Atrium Mal Kelapa Gading 3 Jakarta, mulai tanggal 28 Agustus – 8 September 2019 bekerja sama dengan The Palace

2. Purwokerto Wedding Festival

Berlokasi di Rita Supermall Purwokerto tanggal 4 – 8 September 2019 bekerja sama dengan Sembada Gold.

Pengunjung akan mendapatkan penawaran menarik berupa Goldback 50% melalui fitur Laku Tukar. Melalui fitur ini, konsumen dapat menukarkan saldo emas digitalnya dengan perhiasan di toko-toko yang bekerja sama dengan Lakuemas. Penawaran spesial ini hanya berlaku selama pameran berlangsung.

Dalam pameran ini juga akan ada beragam aktivitas menyenangkan lainnya, seperti pengalaman membeli emas fisik melalui ATM Lakuemas (vending machine) dan Lakuemas Gold Bar Challenge yang merupakan kompetisi angkat emas batangan sebesar 10 kilogram. Bagi pemenang yang berhasil mengeluarkan emas batangan tersebut akan mendapatkan hadiah berupa 10 gram emas dari Lakuemas.

Sebagai sebuah perusahaan fintech, Lakuemas berdiri dibawah group PT Central Mega Kencana yang merupakan salah satu ritel perhiasan terbesar di Indonesia yang sudah berdiri sejak hampir 30 tahun yang lalu.

PT Central Mega Kencana juga merupakan satu-satunya produsen perhiasan emas dan berlian di Indonesia yang sudah memiliki Sertifikat SNI Kadar Pas 13-3487-2005. Selain itu Lakuemas juga sudah terdaftar dalam Asosiasi Fintech Indonesia dan keberadaannya sudah sesuai dengan peraturan Otoritas Jasa Keungan Nomor 13/POJK.02/2018 tentang Inovasi Keuangan Digital.

Baca juga : Regulasi Kripto di Inggris Berubah, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

— Dinda Luvita —

 

Ibukota Negara Pindah, Era Baru Penerapan Aset Digital-Blockchain?

0

duniafintech.com – Pemerintahan Joko Widodo kembali mengukir sejarah baru. Senin 26 Agustus lalu bertempat di Istana Negara-Jakarta, Presiden ke-7 Republik Indonesia tersebut menyampaikan rencana pemindahan ibukota negara dari DKI Jakarta ke Kalimantan Timur, tepatnya Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara.

Tak dapat dipungkiri bahwa DKI Jakarta merupakan jantung peradaban bisnis dan ceruk perdagangan yang menopang Indonesia. Gelarnya sebagai Ibukota Negara sudah barang tentu menjadi daya tarik bagi semua pihak yang ingin melebarkan sayap peruntungannya di Nusantara. Lantas jika ibukota pindah, bagaimanakah nasib kota berusia 492 tahun ini dan lalu lintas bisnis di dalamnya?

Baca juga: Pinjam Dana Fintech Mengkhawatirkan? Simak Langkah Cermat Ini

Dalam paparan yang disampaikan di hadapan para anggota Dewan, Jokowi memberikan kepastian perihal hal tersebut. Meski tak lagi menjadi ibukota negara, Jakarta akan tetap menjadi pusat bisnis berskala internasional. Pemindahan ini justru bertujuan untuk mengurangi beban Jakarta sebagai pusat pemerintahan, bisnis, keuangan, perdagangan dan jasa.

Menanggapi proyek relokasi yang diperkirakan akan menelan biaya hingga Rp. 466 triliun tersebut, Oscar Darmawan selaku CEO Indodax, platform perdagangan aset digital, menuturkan bahwa pihaknya turut mendukung kebijakan baru ini. Oscar menilai keputusan tersebut akan menjadi langkah besar Indonesia untuk semakin lebih maju di masa depan.

“Kami sebagai pelaku usaha terus mendukung penuh akan perubahan kebijakan maupun regulasi yang terjadi. Kami percaya segala prospek regulasi yang ada telah dilakukan pertimbangan dan riset yang cukup mendalam”, kata Oscar.

Sebuah pertanyaan muncul, apakah keputusan pemindahan ibukota negara ini  akan berpengaruh pada fluktuasi trading aset digital di Indodax?

Ditemui di kantornya, Oscar menjelaskan bahwa perpindahan ini tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perdagangan aset digital di platform asuhannya. Namun, menurutnya tidak menutup kemungkinan jika prosesi ini telah melihat kondisi pasar di era digital. Data menunjukkan, pengguna Indodax yang berada di pulau Kalimantan hampir mencapai 10% dari total keseluruhan member yang telah terdaftar atau sekitar 180.000 orang dan terhitung setiap harinya semakin bertambah.

“Bagi kami selaku perusahaan yang bergerak di bidang teknologi Blockchain, di manapun ibukota negara berlokasi, Indonesia tetap menjadi tempat yang ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan teknologi Blockchain di masa mendatang. Salah satu alasannya adalah penetrasi internet di Indonesia yang cukup baik dan respon masyarakat yang sebagian besar melihat teknologi baru sebagai kesempatan atau opportunity”, jelas Oscar.

Selain itu, menurut Oscar penerapan Blockchain untuk ibukota yang baru bisa saja menjadi pilihan yang tepat. Apalagi mengingat, pemerintah masih punya banyak waktu guna mempelajari konsep Blockchain yang ramah lingkungan untuk diterapkan di awal tahun 2024 nanti.

Baca juga: Sepak Terjang Chris Larsen dari Silicon Valley Hingga Ripple

Belajar dari negara maju seperti China misalnya, yang terus melakukan riset dan melakukan trial and error terkait hubungan Blockchain dengan rantai industri publik yakni Internet of Things (IoT). Langkah ini dinilai lebih solutif, ekonomis, cerdas, dan kredibel yang akhirnya bermuara pada kesejahteraan sosial.

“Alasan-alasan ini pula yang mendorong kami untuk terus giat memelihara ekosistem komunitas ekonomi digital dengan terus aktif memberikan edukasi. Harapannya Indonesia akan lebih siap bersaing dengan negara lain melalui pengimplementasian Blockchain di beberapa tahun mendatang”, ungkap Oscar.

Lebih lanjut Oscar menjelaskan bahwa era aset digital baru saja dimulai. Hal ini bisa dilihat dari nilai kapitalisasi aset dan jumlah token/koin yang semakin meningkat serta adanya dukungan pemerintah yang memperjelas status aset digital sebagai komoditas yang dapat diperjual-belikan di Indonesia.

-Karin Hidayat-