30.5 C
Jakarta
Sabtu, 24 Oktober, 2020

Pandemi Bikin Wacana Grab dan Gojek Merger Kembali Menyeruak

Duniafintech.com – Kabar Grab dan Gojek merger atau melakukan penggabungan kembali santer terdengar saat pandemi melanda. Dua perusahaan raksasa ride-hailing terbesar di ASEAN, dikabarkan kembali melanjutkan wacana merger setelah mendapat restu dari pemegang saham utama Grab, yakni Softbank.

Seperti di lansir dari Financial Times waktu lalu,pembahasan mengenai Grab dan Gojek merger tersebut di pilih akibat kerugian besar yang melanda perusahaan transportasi daring di tengah pandemi COVID-19. Kedua perusahaan tersebut mengalami penuruan pendapatan yang drastis akibat adanya pembatasan sosial di berbagai negara.

Menurut seorang pialang pasar sekunder, saham Grab kini telah diperdagangkan dengan diskon 25%. Serupa dengan Grab, saham Gojek juga dijual dengan diskon besar, terutama dari pemegang saham lama yang ingin keluar dari perusahaan. Saat ini valuasi Grab ditaksir menyentuh US$14 miliar dan Gojek US$10 miliar.

Pukulan besar yang disebabkan oleh pandemi secara global telah menekan bisnis ride-hailing untuk menyetujui kesepakatan merger.

Salah satu konsultan bisnis dari RedSeer, Rashan Raj mengatakan sebelum COVID-19 melanda, kedua startup decacorn ini telah bergerak menuju monetisasi yang lebih baik. Mulai menaikkan komisi yang ditarik dari mitra pengemudi dan mengurangi subsidi pelanggan.

“COVID-19 mengganggu tren ini secara material. Kebangkitan ride-hailing bisa memakan waktu lama,” katanya.

Sebelumnya, pembahasan mengenai Grab dan Gojek merger sempat terjadi enam bulan lalu. Namun mendapat tentangan dari pemilik Softbank yang merupakan investor utama Grab, Masayoshi Son. Ia khawatir pada waktu itu bisnis ride-hailing akan menjadi industri monopoli jika terjadi merger di mana mereka yang paling banyak uang akan menguasai pasar, ujar orang yang dekat dengan miliuner Jepang tersebut.

Namun Gojek, yang investornya termasuk grup internet China Tencent dan Meituan-Dianping dan baru-baru ini Facebook dan PayPal Silicon Valley, telah terbukti tangguh, terutama di Indonesia.

Kesepakatan apa pun yang terjadi, juga dicermati oleh regulator dalam hal pengaruhnya terhadap pekerjaan mengingat latar belakang ekonomi yang buruk, bahkan jika beberapa investor di kedua perusahaan percaya bahwa pejabat antitrust kurang fokus pada pertimbangan kompetitif daripada di masa lalu.

(DuniaFintech/Drean M. Ikhsan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

UMKM Bisa Ajukan Pinjaman dengan Bunga Rendah di Fintech Ini, Di Cek Yuk!

Duniafintech.com - Pinjaman dengan bunga rendah untuk Modal Usaha ditawarkan Fintech P2P Lending untuk pengusaha kecil yang menghadapi kesulitan modal dan tidak...

Mau Beli Mobil Tanpa Keuangan Terganggu? Ikuti Cara Ini

DuniaFintech.com - Beberapa orang mungkin berpikir, bahwa membeli mobil dapat membantu mengurangi biaya transportasi. Namun ternyata belum tentu loh, bisa saja justru...

Pilihan Pekerjaan Online Tanpa Menggunakan Modal dengan Penghasilan Fantastis

Duniafintech.com - Ketika penghasilan tetap masih tidak bisa mencukup kebutuhan utama, tentu kerja sampingan adalah solusinya. Tetapi, Anda pasti lebih memilih pekerjaan...

Harga Emas Digital per Jumat 23 Oktober 2020 Masih Murah!

DuniaFintech.com - Harga emas di layanan digital per Jumat 23 Oktober terpantau masih berada di angka yang rendah. Jika melihat dari layanan...

Pembiayaan 30 Miliar untuk Pembudidaya Ikan di Indonesia, Kolaborasi P2P Lending dan Agritech

DuniaFintech.com – Pionir marketplace lending, Investree, menandatangani perjanjian kerja  sama dengan perusahaan rintisan agriculture technology (agritech), eFishery, untuk mendistribusikan pembiayaan 30 miliar...
LANGUAGE