Harga Bitcoin (BTC) ke USD melonjak sekitar 5% pada Senin dan bergerak di kisaran US$69.000, seiring investor mencermati dampak serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke Iran serta aksi balasan di kawasan tersebut.
Kenaikan ini menjadi fase pemulihan setelah akhir pekan yang bergejolak. Sejumlah analis melihat adanya tanda-tanda ketahanan usai lima bulan tekanan berat bagi kripto terbesar dunia tersebut.
“Stabilitas relatif Bitcoin menghidupkan kembali narasi ‘emas digital’, karena kini bergerak tak lagi seperti saham teknologi berisiko tinggi, melainkan lebih sebagai penyimpan nilai di tengah tekanan geopolitik,” ujar David Morrison, analis pasar senior di Trade Nation.
Sempat Anjlok ke US$63.255
Seperti dikutip Yahoo Finance, sebelumnya Bitcoin sempat merosot ke sekitar US$63.255 pada Sabtu pagi setelah serangan AS dan Israel ke Iran.
Namun di hari yang sama, harga kembali melampaui US$68.000 menyusul laporan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas.
Pergerakan cepat ini menunjukkan karakteristik unik Bitcoin sebagai aset yang diperdagangkan 24/7, berbeda dengan pasar saham global yang tutup pada akhir pekan.
Ether Ikut Pulih, Peluang Kenaikan Taktis
Tidak hanya Bitcoin, Ether (ETH-USD) juga kembali diperdagangkan di atas US$2.000 pada Senin setelah sempat anjlok sekitar 10% pasca serangan.
Kepala aset digital di Fundstrat, Sean Farrell, menyebut ketahanan kripto di tengah eskalasi geopolitik membuka peluang kenaikan taktis, terutama jika investor mulai melepas posisi defensifnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa tekanan geopolitik biasanya hanya menjadi peluang beli selama tidak berdampak luas terhadap ekonomi global—khususnya melalui pasar energi.
Lonjakan Harga Minyak Jadi Variabel Risiko
Pada Senin, harga minyak mentah melonjak tajam:
- Brent naik lebih dari 8%
- West Texas Intermediate (WTI) menguat sekitar 7%
Lonjakan harga energi ini menjadi faktor krusial yang dapat memengaruhi sentimen risiko secara keseluruhan. Farrell menegaskan bahwa minyak tetap menjadi variabel risiko utama.
Jika eskalasi konflik mengganggu jalur pelayaran strategis atau pasokan energi global, maka prospek positif jangka pendek kripto berpotensi batal.
Baca juga :
12 Tahun INDODAX, Pertegas Komitmen Bangun Ekosistem Kripto yang Berkelanjutan dan Kredibel
Tekanan Jangka Menengah Masih Membayangi
Secara tahunan, Bitcoin masih turun sekitar 20% setelah mencatat lima bulan berturut-turut pelemahan hingga Februari. Aset ini kesulitan menemukan pijakan setelah jatuh dari rekor tertinggi US$126.000 pada Oktober.
Sejumlah analis Wall Street bahkan memangkas proyeksi akhir tahun. Dalam skenario paling optimistis sekalipun, masih terbuka kemungkinan Bitcoin turun ke kisaran US$50.000 sebelum berpotensi reli pada paruh kedua tahun ini.
Meski demikian, rebound menuju US$69.000 menunjukkan bahwa di tengah gejolak geopolitik Timur Tengah, narasi Bitcoin sebagai “emas digital” kembali mendapat momentumnya—setidaknya untuk jangka pendek.






