31.1 C
Jakarta
Selasa, 18 Juni, 2024

Perbedaan Crypto Crash dan Koreksi Bitcoin, Trader Wajib Paham

JAKARTA, duniafintech.com – Perbedaan crypto crash dan koreksi Bitcoin perlu dipahami trader kripto. Bagi yang berkecimpung di dunia cryptocurrency pasti sudah tidak asing dengan istilah-istilah tersebut. 

Namun untuk lebih memahaminya, berikut ini adalah perbedaan crypto crash dan koreksi bitcoin yang mesti Anda pahami. 

Perbedaan Crypto Crash dan Koreksi Bitcoin

Begini penjelasan mengenai perbedaan Crypto crash dan koreksi Bitcoin. Disimak ya. 

1. Crash Bitcoin

Crash atau peristiwa kejatuhan secara luas dianggap dalam keuangan tradisional sebagai penurunan harga lebih dari 10 persen selama satu hari. 

Hal ini seringkali dipicu oleh perubahan mendadak yang berdampak di pasar crypto yang menyebabkan investor yang panik keluar secara massal. Hal itu salah satu pembeda antara crash dan koreksi Bitcoin ya. 

Faktor teknis memang dapat memberikan efek dramatis pada harga Bitcoin. Namun penurunan tajam lebih disebabkan oleh keadaan mendasar, seperti peristiwa ekonomi makro, pengumuman perusahaan besar, dan perubahan mendadak pada peraturan dan kebijakan internasional.

Baca jugaMelihat Kelebihan Indodax, Platform Jual Beli Kripto Terpercaya di Indonesia

Crash terbesar yang pernah tercatat pada grafik bitcoin terjadi pada 10 April 2013, tak lama setelah Financial Crimes Enforcement Network (FinCEN) di AS menutup crypto exchange Bitfloor. FinCEN kemudian mengumumkan bahwa crypto exchange wajib untuk mendaftar sebagai “perusahaan transaksi uang”.

Harga Bitcoin pada saat itu kemudian amblas lebih dari 73,1% dalam 24 jam, dari ketinggian US$259,34 ke level terendah US$70.

Selain peristiwa itu, kejatuhan “Black Thursday” yang terkenal pada 12 Maret 2020, menempati posisi teratas sebagai crash terbesar. Harga Bitcoin anjlok 40%, dari US$7.969,90 menjadi US$4.776,59, setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan virus corona sebagai pandemi global.

Perbedaan Crypto Crash dan Koreksi Bitcoin

2. Koreksi Bitcoin

Kemudian, koreksi ditandai dengan penurunan bertahap di mana harga turun lebih dari 10% selama beberapa hari. Hal ini biasanya menunjukkan bahwa investor dan trader bullish telah ‘kelelahan’ sehingga perlu waktu untuk berkonsolidasi dan pulih.

‘Kelelahan’ terjadi ketika mayoritas pembeli telah membeli aset dasar dan tidak ada lagi pembeli baru yang muncul untuk mendukung tren naik. Jika pesanan jual terus menumpuk tanpa ada orang di sisi lain antrian pesanan yang membelinya, maka harga mulai turun.

Koreksi dapat dipengaruhi oleh peristiwa kecil tetapi cenderung disebabkan oleh faktor teknis. Misalnya, seperti pembeli yang mengalami level resistensi yang kuat, atau menipisnya volume perdagangan. Juga perbedaan negatif antara harga Bitcoin dan indikator yang mengukur momentumnya seperti Relative Strength Index (RSI).

Berbagai Penyebab Terjadinya Bitcoin Market Crash

Ada banyak faktor yang bisa menjadi penyebab Bitcoin atau aset crypto lainnya mengalami market crash. Namun, secara umum, penyebab Bitcoin market crash dapat dipicu oleh beberapa hal berikut ini. 

  • Pengaruh berita negatif yang dibuat di media massa.
  • Kurangnya likuiditas sehingga mengacaukan keseimbangan pasar.
  • Jumlah atau kuantitas aset kripto yang terbatas.
  • Ancaman regulasi.

Penting untuk diketahui, tidak seperti jenis investasi tradisional seperti saham, Bitcoin tidak memiliki aset dasar. Harga Bitcoin tidak tergantung pada seberapa baik kinerja bisnis perusahaan, tapi apakah investor percaya Bitcoin akan naik atau turun.

Baca jugaMengenal Manfaat Kripto: Pengertian dan Jenis-jenisnya yang Populer

Ini artinya, pergerakan harga Bitcoin murni didasarkan pada spekulasi tentang bagaimana orang berpikir mengenai kinerjanya di masa depan. Inilah yang membuat harga Bitcoin dan aset kripto fluktuatif, bahkan dalam waktu 24 jam.

Lalu, Kapan Saja Terjadinya Bitcoin Crash?

Di bawah ini adalah sejarah Bitcoin crash mulai dari tahun 2011 hingga tahun 2022.

1. Bitcoin Crash 2011

Bitcoin sendiri pertama kali mengalami crash pada tahun 2011 yang disebabkan karena terjadinya peretasan pada Mt. Gox.

Terjadinya peretasan ini menyebabkan harga Bitcoin turun seketika, yang semula 1 BTC seharga 39 dolar AS merosot menjadi 0.01 dolar AS.

2. Bitcoin Crash 2013

Pemerintah China pertama kali membuat larangan keras terhadap bank dan instansi keuangan lainnya untuk menawarkan Bitcoin di tahun 2013. Akibatnya, pada 17 Desember 2013, harga Bitcoin turun lebih dari 50 persen setelah mencapai all-time high di angka 1.151 dolar AS pada tanggal 3 Desember.

Bitcoin kemudian menghabiskan sebagian besar 2014 dengan reli yang dengan diikuti penurunan dramatis. Pada Januari 2015, hampir setahun setelah harga Bitcoin anjlok, Bitcoin kembali tersandung di bawah 200 dolar AS.

3. Bitcoin Crash 2018

Di sisi lain, tahun 2018 menjadi Bitcoin crash terbesar yang pernah terjadi sepanjang sejarah. Pasalnya, di akhir tahun 2017, Bitcoin sempat mengalami bubble karena meningkatnya popularitas Bitcoin di kalangan masyarakat awam.

Namun sayangnya pada 27 Desember, nilai Bitcoin yang semula terus melonjak mendadak mengalami penurunan tajam karena investor menuai keuntungan dan menjual sebagian BTC mereka. Dengan demikian, harga BTC jatuh di bawah 12.000 dolar AS pada masa itu. 

Ditambah lagi, terjadi peretasan besar di Korea Selatan dan Jepang. Hal tersebut memunculkan desas-desus bahwa beberapa negara akan melarang transaksi menggunakan Bitcoin. Banyaknya hal-hal yang terjadi ini nyatanya dapat memengaruhi trader dan investor.

Secara total, di tahun 2018 jumlah penurunan harga Bitcoin mencapai 84 persen.

4. Bitcoin Crash 2020

Pandemi COVID-19 berdampak langsung pada semua aspek kehidupan, termasuk pasar ekuitas yang jatuh akibat investor mulai menimbun uang tunai dan aset likuid. Bukan hanya itu saja, Bitcoin pun terseok-seok mempertahankan nilainya.

Dalam satu hari, harga Bitcoin anjlok 37% dari harga semula 7.911 dolar AS menjadi 4.970 dolar AS.

5. Bitcoin Crash 2021

Penurunan saham global akibat munculnya varian Covid-19 baru (Delta dan Omricon) serta kenaikan suku bunga acuan (Fed Funds Rate) yang lebih tinggi ternyata menjadi sentimen negatif bagi pasar kripto.

Terutama isu kenaikan suku bunga acuan, karena hal tersebut akan mengurangi likuiditas di pasar keuangan dan membuat arus modal masuk ke aset kripto makin sedikit akibat kebanyakan investor memilih beralih ke aset dengan risiko lebih rendah.

Penyebab Bitcoin crash lainnya di 2021 adalah karena adanya ketakutan atas regulasi cryptocurrency di sejumlah negara. Salah satunya China. Pemerintah China kembali mengeluarkan larangan keras kepada seluruh bank dan lembaga keuangan untuk menawarkan layanan apa pun yang menggunakan Bitcoin maupun cryptocurrency lainnya.

Di sisi lain, Bitcoin crash juga pernah terjadi di tahun 2021, tepatnya pada April 2021. Tercatat harga Bitcoin anjlok hingga 53 persen penyebabnya karena perusahaan milik Elon Musk, Tesla, membatalkan gagasan transaksi dengan menggunakan Bitcoin. 

6. Bitcoin Crash 2022

Bitcoin crash 2022 mulai terjadi pada bulan Januari, ketika kapitalisasi pasar merosot hingga 40 persen menghapus lebih dari 1,2 triliun dolar AS. Adapun penyebab harga Bitcoin dan beberapa aset crypto lainnya anjlok adalah rekor inflasi, krisis geopolitik antara Rusia dan Ukraina, serta kekhawatiran atas kebijakan moneter yang lebih ketat oleh Federal Reserve. 

Itulah ulasan mengenai perbedaan crypto crash dan koreksi Bitcoin yang perlu Anda ketahui. Semoga informasi ini bermanfaat untuk Anda. 

Baca juga: Apa itu Bitcoin Halving? Begini Penjelasan Lengkap Hingga Efeknya pada Pasar

Baca terus berita fintech Indonesia dan kripto terkini hanya di duniafintech.com.

 

Penulis: Kontributor/Panji A Syuhada

 

Iklan

ARTIKEL TERBARU