Emas digital menawarkan cara praktis untuk mendapatkan eksposur terhadap emas tanpa harus menyimpan emas secara fisik. Namun, perkembangan blockchain melahirkan emas berbasis crypto yang memiliki mekanisme berbeda.Â
Meski belum banyak aplikasi yang menjual emas crypto, tetapi Pintu sebagai aplikasi crypto dengan tampilan yang sederhana menawarkan emas crypto, saham tertokenisasi, hingga perak ETF tertokenisasi sehingga membuat kamu mudah mendiversifikasi aset dalam satu platform.
Namun, istilah emas digital sebenarnya mencakup beberapa jenis produk. Salah satunya adalah emas digital konvensional yang mencatat kepemilikan emas dalam sistem milik penyedia layanan. Sementara itu, terdapat emas berbasis crypto yang memanfaatkan blockchain untuk merepresentasikan emas fisik dalam bentuk token.Â
Jika kamu sedang memantau harga emas putih hari ini, perlu diingat bahwa harga perhiasan emas putih tidak sama dengan harga emas investasi karena kadar, biaya produksi, desain, dan kondisi perhiasan turut mempengaruhi nilainya.
Karena itu, investor juga perlu membedakan emas berbasis crypto dengan emas putih. Emas putih merupakan jenis emas yang biasanya digunakan sebagai bahan perhiasan, sedangkan emas berbasis crypto merupakan aset digital yang nilainya dapat mengacu pada emas fisik.Â
6 Perbedaan Emas Berbasis Crypto dan Emas Digital
Ada beberapa perbedaan antara emas crypto dengan emas digital, diantaranya adalah:
-
Perbedaan dari Sisi Teknologi
Emas digital biasanya menggunakan sistem terpusat yang dikembangkan dan dikelola oleh perusahaan penyedia layanan. Ketika investor membeli emas, platform mencatat jumlah kepemilikan tersebut dalam database internal.
Sementara itu, emas berbasis crypto menggunakan teknologi blockchain. Penerbit membuat token digital yang merepresentasikan sejumlah emas fisik, kemudian mencatat token tersebut pada jaringan blockchain.Â
Blockchain juga membuat transaksi dapat diverifikasi melalui jaringan. Namun, tingkat transparansi tetap bergantung pada blockchain dan penerbit token yang digunakan. Dengan demikian, investor sebaiknya tidak menganggap seluruh token emas memiliki mekanisme yang sama.
Baca juga :Â
- Harga Bitcoin Tembus US$80.000, Kinerja Nvidia Jadi Katalis Reli Kripto
- Bitcoin Sentuh US$80.000, INDODAX Ingatkan Investor Tetap Perhatikan Dinamika Pasar
- Harga Bitcoin Sempat Tembus US$80.000, Sinyal Reli Masih Berlanjut?
- Beda Bitcoin dengan Saham: Pengertian, Perbedaan, dan Mana yang Lebih Cocok?
- Bedanya Trading Bitcoin dengan Forex
- Harga Bitcoin Kembali Menguat ke US$75,000, Katalis Ini Jadi Pendorong Reli Kripto
-
Perbedaan Cara Kepemilikan
Emas digital biasanya memberikan investor kepemilikan atas sejumlah emas yang tercatat pada platform. Sebagai contoh, ketika seseorang membeli 1 gram emas digital, platform mencatat saldo kepemilikan sebesar 1 gram dalam akun pengguna.
Pada emas berbasis crypto, kepemilikan direpresentasikan melalui token. Token tersebut dapat berada di wallet yang mendukung aset terkait sehingga investor memiliki fleksibilitas lebih tinggi dalam memindahkannya, tergantung pada ketentuan token dan platform.
Perbedaan tersebut penting karena token emas tidak selalu memberikan hak yang identik dengan kepemilikan emas batangan. Investor perlu memeriksa apakah token dapat ditebus menjadi emas fisik, bagaimana prosesnya, berapa minimum penebusan, serta biaya apa saja yang berlaku.
-
Perbedaan Cara Kerja dan Penyimpanan
Emas digital bekerja melalui sistem penyedia layanan. Ketika pengguna membeli emas, perusahaan mencatat transaksi tersebut dan mengelola emas fisik yang menjadi dasar kepemilikan sesuai mekanisme yang berlaku.Â
Sementara itu, emas crypto menggunakan proses tokenisasi. Pertama, penerbit menyediakan emas fisik sebagai aset pendukung. Kemudian, penerbit menyimpan emas tersebut melalui kustodian atau vault. Setelah itu, penerbit membuat token dengan nilai yang mengacu pada emas yang mendasarinya
Investor kemudian dapat membeli token tersebut melalui platform aset digital. Ketika investor menjual token, kepemilikan token berpindah kepada pembeli lain melalui sistem perdagangan. Dengan demikian, emas fisik tetap berada di tempat penyimpanan, sedangkan token bergerak di jaringan digital.
-
Perbedaan Likuiditas dan Waktu Perdagangan
Emas crypto memiliki keunggulan dari sisi fleksibilitas perdagangan. Pasar crypto beroperasi sepanjang waktu, sehingga investor dapat melakukan transaksi 24/7 selama platform dan pasar untuk aset tersebut tersedia.
Kondisi tersebut berbeda dengan sebagian besar layanan emas digital yang mengikuti ketentuan operasional platform. Meskipun investor tetap dapat mengakses aplikasi kapan saja, waktu pemrosesan transaksi, pencairan, atau layanan tertentu dapat mengikuti kebijakan penyedia.
Namun, likuiditas tidak hanya ditentukan oleh waktu perdagangan. Jumlah pembeli dan penjual, volume transaksi, serta ketersediaan pasar juga mempengaruhi kemudahan investor ketika ingin menjual aset. Karena itu, investor perlu melihat likuiditas aktual suatu token dan bukan hanya melihat bahwa aset tersebut tersedia di blockchain.
-
Perbedaan Risiko
Kedua instrumen sama-sama memiliki risiko karena harga emas dapat mengalami kenaikan maupun penurunan. Namun, emas berbasis crypto memiliki lapisan risiko tambahan yang berasal dari ekosistem aset digital.
Pada emas crypto, investor perlu mempertimbangkan risiko blockchain, keamanan wallet, smart contract, likuiditas token, serta risiko penerbit. Selain itu, harga token juga dapat dipengaruhi oleh kondisi pasar crypto sehingga pergerakannya tidak selalu identik dengan harga emas fisik dalam setiap kondisi pasar.
Sementara itu, emas digital lebih banyak menghadirkan risiko yang berkaitan dengan penyedia layanan, kustodian, operasional, dan perubahan harga emas. Investor juga perlu memperhatikan selisih harga beli dan jual karena spread dapat mempengaruhi hasil investasi.
-
Perbedaan Regulasi dan Ekosistem
Emas digital umumnya beroperasi melalui perusahaan dan mekanisme yang mengikuti ketentuan regulator di negara tempat layanan tersebut tersedia. Karena itu, investor dapat memiliki jalur perlindungan konsumen yang lebih jelas, tergantung pada penyedia dan yurisdiksinya.
Sementara itu, emas berbasis crypto berada dalam ekosistem aset digital. Regulasi terhadap aset crypto terus berkembang sehingga aturan dapat berbeda berdasarkan negara, jenis token, penerbit, dan platform yang digunakan.
Selain regulasi, emas crypto juga memiliki keunggulan dari sisi integrasi dengan ekosistem blockchain. Token emas dapat digunakan dalam berbagai layanan berbasis blockchain apabila protokol dan platform terkait mendukungnya. Dengan demikian, fungsi token tidak selalu berhenti pada aktivitas membeli dan menjual.
Mengenal Emas Crypto di Pintu
Salah satu cara untuk mengenal konsep emas berbasis crypto adalah melalui Pintu. Pintu menyediakan PAX Gold atau PAXG dan Tether Gold atau XAUt sebagai aset digital berbasis emas. Keduanya menggunakan konsep tokenisasi, sehingga emas fisik menjadi dasar dari token digital yang dapat diperdagangkan dalam ekosistem crypto.
PAXG diterbitkan oleh Paxos, setiap token PAXG merepresentasikan satu troy ounce emas fisik yang disimpan dalam vault sesuai mekanisme penerbit. Sementara itu, XAUt diterbitkan oleh Tether dan juga menggunakan emas fisik sebagai pendukung nilai token.
Dengan demikian, investor dapat memperoleh eksposur terhadap emas melalui aset crypto tanpa harus menyimpan batangan emas secara langsung. Namun, investor tetap perlu memahami ketentuan masing-masing penerbit karena struktur, mekanisme penebusan, biaya, dan pengelolaan cadangan dapat berbeda.
Pada akhirnya, perbedaan emas berbasis crypto dan emas digital bukan hanya terletak pada bentuk asetnya. Teknologi, sistem kepemilikan, likuiditas, risiko, regulasi, dan ekosistem juga membedakan keduanya.Â
Karena itu, semakin baik investor memahami mekanisme masing-masing, semakin mudah pula investor menentukan instrumen yang sesuai dengan tujuan dan toleransi risikonya.







