32.1 C
Jakarta
Sabtu, 20 Juli, 2024

Perusahaan E-Commerce Indonesia Ula Raih US$87 Juta Dari Jeff Bezos

Pasar e-commerce B2B Indonesia Ula telah mengumpulkan US$87 juta dalam putaran pendanaan Seri B yang dipimpin bersama oleh Prosus Ventures, Tencent dan B-Capital.

Ketiganya bergabung dengan Bezos Expeditions dari pendiri Amazon Jeff Bezos, dan Asia Tenggara mendanai grup Northstar, AC Ventures, dan Citius.

Investor lama Lightspeed India, Sequoia Capital India, Quona Capital dan Alter Global juga berpartisipasi dalam putaran tersebut.

Penggalangan dana terbaru akan digunakan untuk mengembangkan kehadiran Ula di seluruh Indonesia dan menjajaki ekspansi internasional di Asia Tenggara.

Ula juga ingin menambah kategori baru, memperluas penawaran Buy Now Pay Later (BNPL), serta membangun teknologi baru dan rantai pasokan lokal dan infrastruktur logistik.

Perusahaan juga telah mendatangkan Pandu Sjahrir, seorang investor dan pengusaha kawakan, sebagai penasihat Ula.

Ula mengatakan bahwa saat ini menawarkan lebih dari 6.000 produk yang melayani lebih dari 70.000 toko ritel tradisional di platformnya dan memiliki tim yang tersebar di 3 negara.

Pendanaan perusahaan sebelumnya termasuk putaran awal US$10,5 juta pada Juni 2020 dan tambahan putaran Seri A US$20 juta pada Januari 2021.

“Kami mengambil pendekatan jangka panjang untuk memecahkan masalah mendasar dari pengecer tradisional dengan berinvestasi dalam teknologi, rantai pasokan, dan penawaran kredit dengan data. Investor baru Ula datang dengan keahlian global dan berbagi pola pikir jangka panjang perusahaan ini,” kata Nipun Mehra, CEO dan Co-Founder di Ula.

“Kami berterima kasih kepada mereka karena percaya pada misi Ula dan berharap untuk belajar dari pengalaman mereka membayangkan kembali ritel di pasar negara berkembang lainnya,” sebutnya.

Co-Founder dan Chief Operating Officer Ula Riky Tenggara mengatakan, di dunia yang telah didukung teknologi, warung tidak lagi hanya menjadi “sekedar sebuah toko saja.”

Dalam keterangannya, Riky mengatakan bahwa warung merupakan sebuah pintu gerbang bagi warga sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Warung pada umumnya memiliki keunggulan yang besar, seperti biaya yang sangat kecil (karena dijalankan oleh anggota keluarga dan telah memiliki tempat sendiri) serta memiliki hubungan yang erat dengan pelanggannya.

“Sementara e-commerce menghadapi masalah biaya pengiriman yang mahal dan toko ritel tradisional memiliki bangunan fisik terbatas di jalan utama, ada banyak pemilik warung tradisional yang mendapatkan keuntungan dengan melayani kebutuhan sehari-hari di lingkungan sekitar mereka,” katanya.

Keuntungan yang kecil, pilihan produk yang terbatas, serta modal usaha yang terbatas membuat mereka tidak mampu memenuhi seluruh kebutuhan pelanggan di sekitar mereka dan merealisasikan potensi pertumbuhan bisnis mereka.

“Memecahkan kompleksitas masalah rantai pasokan di Indonesia merupakan sebuah upaya yang sangat menantang dan berdampak,” kata Riky.

“Sebagai perusahaan yang dibangun dari sebuah komunitas, kami tidak dapat meremehkan pentingnya memberikan layanan yang selalu dapat diandalkan oleh pelanggan kami, khususnya layanan yang dapat memberikan perbedaan yang nyata bagi kehidupan mereka.”

Editor: Gemal A.N. Panggabean

Iklan

mau tayang di media lain juga

ARTIKEL TERBARU