Harga Bitcoin naik 2,62 persen setelah berita kematian Pimpinan Iran. Ketegangan antara Iran dan Israel yang turut menyeret Amerika Serikat (AS) ke dalam konflik berpotensi mengguncang pasar global dan memicu aksi risk-off di berbagai instrumen keuangan. Namun, dinamika berbeda justru terlihat di pasar kripto, di mana harga Bitcoin dan mayoritas aset digital bergerak menguat.
Berdasarkan data CoinMarketCap pada Minggu (1/3/2026), mayoritas aset kripto berada di zona hijau dalam 24 jam terakhir. Harga Bitcoin (BTC) pulih dari tekanan sebelumnya dan naik ke level 67.555,83 dollar AS, menguat lebih dari 2,62 persen.
Harga Bitcoin Rebound Usai Sempat Terkoreksi
Mengutip laporan Bloomberg, BTC dan aset kripto lainnya melonjak tajam pada awal perdagangan pasar Asia setelah Iran mengonfirmasi bahwa pemimpin tertingginya tewas dalam operasi militer yang melibatkan AS dan Israel.
Sempat tertekan hampir 4 persen sehari sebelumnya akibat kepanikan pasar, harga Bitcoin berbalik naik lebih dari 2 persen hingga menyentuh 68.196 dollar AS. Pada pukul 11.00 waktu Singapura, Bitcoin diperdagangkan di kisaran 67.700 dollar AS.
Lonjakan ini menunjukkan bahwa meski ketidakpastian geopolitik meningkat, harga Bitcoin mampu menemukan titik keseimbangan lebih cepat dibandingkan aset tradisional yang tidak diperdagangkan selama akhir pekan.
Altcoin Ikut Menguat
Selain harga Bitcoin yang mencatat kenaikan solid, Ether (ETH) juga menguat ke 2.021,35 dollar AS atau naik sekitar 5 persen. Beberapa altcoin utama lainnya turut mencatatkan performa positif:
- XRP naik sekitar 4,6 persen
- BNB menguat lebih dari 2 persen
- SOL melonjak hampir 7,5 persen
- DOGE dan ADA masing-masing tumbuh di atas 3 persen
Data dari CoinGecko menunjukkan kapitalisasi pasar kripto bertambah sekitar 32 miliar dollar AS hingga Minggu pagi, setelah sebelumnya menyusut sekitar 128 miliar dollar AS dalam sehari.
Kenaikan ini memperlihatkan bahwa sentimen terhadap harga Bitcoin dan aset digital lain relatif lebih resilien dibandingkan pasar saham global yang tutup pada akhir pekan.
baca juga :
Bitcoin Jadi Katup Tekanan Pasar
Ketika pemboman dan serangan balasan mulai terjadi, pasar kripto sempat bergejolak. Iran meluncurkan serangan ke beberapa lokasi, termasuk Israel dan sejumlah negara Teluk, serta mengancam pangkalan terkait AS di Irak.
Namun, berbeda dengan saham yang berhenti diperdagangkan saat akhir pekan, kripto tetap aktif 24/7. Setelah laporan awal menyebut pemimpin Iran, Ali Khamenei, meninggal dunia, harga Bitcoin langsung berbalik arah ke zona hijau.
“Para trader umumnya tidak memperkirakan konflik Iran akan membawa konsekuensi ekonomi besar yang negatif, dan permintaan terhadap opsi beli (call) Bitcoin meningkat dalam beberapa hari terakhir,” ujar Markus Thielen dari 10x Research.
Hayden Hughes dari Tokenize Capital menambahkan bahwa Bitcoin merupakan satu-satunya aset likuid besar yang diperdagangkan 24/7, sehingga menyerap tekanan jual yang biasanya tersebar di saham, obligasi, dan komoditas.
“Bitcoin adalah katup tekanan ketika peristiwa besar terjadi di akhir pekan,” ujar Justin d’Anethan dari Arctic Digital.
Tren Melemah Masih Membayangi
Meski harga Bitcoin menguat dalam jangka pendek, secara tren beberapa bulan terakhir pasar kripto masih berada dalam tekanan. Bitcoin tercatat turun sekitar 50 persen dari rekor tertingginya di atas 126.000 dollar AS pada Oktober, setelah gelombang likuidasi besar posisi leverage.
Namun, tekanan jual kini dinilai tidak sebesar sebelumnya karena sebagian besar posisi spekulatif sudah terhapus dari pasar. Dengan struktur pasar yang lebih “bersih”, dampak peristiwa makro terhadap harga Bitcoin dinilai menjadi lebih terbatas dibandingkan fase likuidasi besar sebelumnya.
Pelaku pasar kini menantikan pembukaan kembali pasar saham AS dan ETF Bitcoin pada Senin untuk melihat apakah reli harga Bitcoin dapat berlanjut atau justru terkoreksi kembali seiring penyesuaian risiko global.







