25.4 C
Jakarta
Jumat, 19 Agustus, 2022

Prinsip Operasional Investasi Berdampak Diadopsi Investor?

duniafintech.com – IFC, anggota dari kelompok Bank Dunia, 12 Aprill 2019 telah mengumumkan bahwa enam puluh investor telah mengadopsi Prinsip Operasional Manajemen Dampak – sebuah standar pasar bagi Investasi Berdampak (Impact Investing).

Impact Investing adalah investasi yang dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat dan pada saat yang bersamaan memberikan keuntungan finansial secara teratur dan transparan. Prinsip ini akan meningkatkan transparansi, kredibilitas dan disiplin dari Investasi Berdampak.

Baca juga : Pencarian Online untuk Tren Teknologi Bitcoin Meningkat di Lagos

Organisasi-organisasi yang mengadopsi prinsip tersebut memiliki aset yang bernilai lebih $300 miliar yang telah diinvestasikan untuk memberikan dampak bagi masyarakat, dan berkomitmen untuk mengelola aset tersebut sesuai dengan Prinsip Operasi Manajemen Dampak. Investasi di masa-masa mendatang juga akan dikelola sesuai dengan prinsip tersebut.

Prinsip operasional ini memberikan standar pasar yang jelas tentang apa yang dimaksud dengan Investasi Berdampak dan mengatasi kekhawatiran akan adanya “impact-washing” atau tidak tercapainya dampak yang dituju. IFC memimpin pengembangan Prinsip tersebut, berkolaborasi dengan perusahaan-perusahaan manajemen investasi terkemuka, pemilik aset, pengelola aset, Bank pembangunan, dan institusi-institusi keuangan.

“Kami percaya bahwa saat ini ada potensi untuk menjadi investasi berdampak kedalam pemikiran umum atau mainstream,” kata CEO IFC Philippe Le Houérou. “Ambisi kami sangat tinggi – kami ingin lebih banyak uang dikelola secara efektif dan berdampak. Kita tidak bisa menunda tercapainya agenda “billions to trillions.”

Dalam laporan barunya, IFC memperkirakan minat investor terhadap Investasi Berdampak saat ini dapat mencapai $26 triliun. Nilai ini terdiri dari $5 triliun di pasar swasta seperti perusahaan investasi (Private Equity), hutang non-pemerintah dan modal ventura, serta $21 triliun yang diperdagangkan terbuka di pasar saham dan obligasi.

Untuk memenuhi potensi tersebut, Investasi Berdampak perlu memberikan penawaran yang transparan pada investor, dimana dana dapat diinvestasikan untuk mencapai hasil positif yang terukur bagi masyarakat, selain memberikan keuntungan finansial yang mencukupi. Prinsip yang diluncurkan hari ini memfasilitasi proses ini dengan memberikan kejelasan dan konsistensi tentang hal-hal yang ternasuk dalam pengelolaan Investasi Berdampak untuk meningkatkan kepercayaan pasar.

IFC merupakan salah satu investor terlama dan terbesar dalam hal Investasi Berdampak, yang menunjukkan bahwa melakukan investasi yang memiliki dampak pembangunan yang signifikan dan pada saat yang bersamaan menghasilkan keuntungan finansial yang kuat, adalah suatu hal yang dapat dilaksanakan. Secara rata-rata, tingkat pengembalian riil investasi ekuitas IFC dari tahun 1988 hingga 2016, sebanding dengan tingkat pengembalian pada indeks MSCI bagi pasar negara berkembang.

Baca juga : Asia Timur Pimpin Pasar Kripto Lewat Pengembangan Regulasi

Prinsip Operasi Manajemen Dampak disusun berdasarkan pengalaman IFC melakukan investasi di negara berkembang untuk mencapai dampak pembangunan yang kuat dan keuntungan finansial. Prinsip ini merupakan cerminan dari praktek-praktek terbaik dari berbagai institusi publik dan swasta. Prinsip ini mengintegrasikan aspek dampak masyarakat pada seluruh tahapan investasi : strategi, proses dan strukturisasi, manajemen portofolio, divestasi dan verifikasi independen. Hal penting, prinsip ini mensyaratkan laporan tahunan secara terbuka oleh pihak terkait tentang bagaimana implementasi prinsip dilakukan, termasuk verifikasi secara independen, yang akan memberikan kredibilitas bagi adopsi Prinsip operasional Investasi Berdampak ini.

Pihak-pihak yang pertama mengadopsi Prinsip Operasional Investasi Berdampak :

  1. IFC
  2. Actis
  3. Acumen Capital Partners
  4. AlphaMundi Group
  5. Amundi
  6. AXA Investment Managers
  7. Baiterek National Managing Holding JSC
  8. Belgian Investment Company for Developing Countries (BIO)
  9. Blue like an Orange Sustainable Capital
  10. BlueOrchard Finance Ltd.
  11. BNP Paribas Asset Management
  12. Calvert Impact Capital
  13. Capria Ventures
  14. Cardano Development B.V. (ILX fund and TCX)
  15. CDC Group plc.
  16. CDP – Cassa Depositi e Prestiti
  17. COFIDES
  18. Community Investment Management (CIM)
  19. Cordiant Capital
  20. Credit Suisse
  21. DEG – Deutsche Entwicklungs- und Investitionsgesellschaft mbH
  22. Development Bank of Latin America (CAF)
  23. European Bank for Reconstruction and Development (EBRD)
  24. European Development Finance Institutions (EDFI)
  25. European Investment Bank  (EIB)
  26. FinDev Canada
  27. Finnfund
  28. Flat World Partners
  29. FMO – the Netherlands Development Finance Company
  30. IDB Invest (Member of the Inter-American Development Bank)
  31. IFC Asset Management Company (AMC)
  32. IFU – Investment Fund for Developing Countries
  33. Incofin Investment Management
  34. Investisseurs & Partenaires – I&P
  35. Islamic Corporation for the Development of the Private Sector, Member of IsDB Group
  36. Kohlberg Kravis Roberts & Co. L.P.
  37. LeapFrog Investments
  38. LGT Impact
  39. LGT Venture Philanthropy
  40. MicroVest Capital Management
  41. Multilateral Investment Guarantee Agency (MIGA)
  42. Norfund
  43. Nuveen
  44. Obviam
  45. Oesterreichische Entwicklungsbank AG (OeEB)
  46. Overseas Private Investment Corporation (OPIC)
  47. Partners Group
  48. Phatisa
  49. Proparco
  50. Prudential Financial Inc.
  51. responsAbility
  52. STOA Infra & Energy
  53. Swedfund
  54. Swiss Infestment Fund for Emerging Markets (SIFEM)
  55. The Rise Fund
  56. The Rock Creek Group
  57. UBS
  58. Water.org
  59. WaterEquity
  60. Zurich Insurance Group Ltd.

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Penambahan Modal BUMN, Erick: Jangan Dibilang Utang Lagi 

JAKARTA, duniafintech.com - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir memberikan penjelasan gamblang mengenai rencana penambahan modal sejumlah BUMN  seperti PT Bank Tabungan...

Cara Top Up OVO lewat ATM Permata hingga Internet Banking

JAKARTA, duniafintech.com – Cara top up OVO lewat ATM Permata dan beberapa metode lainnya berikut ini perlu disimak oleh pengguna layanan ini. Kalau kamu sering...

Cara Cek Tagihan Kartu Kredit BCA dengan 6 Metode Termudah

JAKARTA, duniafintech.com – Cara cek tagihan kartu kredit BCA dengan beberapa metode termudah berikut ini tentunya penting untuk diketahui. Di samping kartu debit, Bank BCA...

Cara Isi E-Money via ATM Mandiri dan Update Saldonya

JAKARTA, duniafintech.com – Cara isi e-money via ATM Mandiri dalam ulasan berikut ini sangat penting diketahui oleh para pengguna layanan yang satu ini. Kalau kamu...

Langkah Erick Thohir Stabilkan Harga Tiket Pesawat

JAKARTA, duniafintech.com - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengungkapkan sejumlah langkah agar maskapai penerbangan nasional dapat menstabilkan harga tiket pesawat. Erick...
LANGUAGE