26.7 C
Jakarta
Minggu, 26 Juni, 2022

Salim Group Bersiap Masuk Kancah Pembayaran Digital

duniafintech.com – Tren pembayaran digital alias e-money memang sedang maju pesat belakangan ini. Mulai dari penggunaannya untuk pembayaran tol yang sempat membuat heboh beberapa waktu lalu, hingga munculnya pemain-pemain baru baik lokal maupun dari luar yang mulai menjejakkan kakinya di kancah pembayaran digital Indonesia, sebagaimana langkah perusahaan Salim Group.

Salim Group, perusahaan konglomerat dan retailer Indonesia MAP adalah perusahaan terbaru yang mulai mengincar pembayaran digital dan telah mengajukan permohonan kepada Bank Indonesia untuk mendapatkan lisensi e-money.

Baca juga

Di bawah peraturan baru untuk perusahaan fintech di Indonesia, layanan pembayaran digital hanya dapat ditawarkan oleh penyedia layanan setelah mendapatkan lisensi bank sentral. Grup Salim dan MAP termasuk di antara lebih dari 150 perusahaan yang telah mengajukan permohonan lisensi ini.

Pada bulan Juni 2017, Salim Group mengakuisisi 51 persen saham di bank lokal, Bank Ina Perdana, senilai $ 42 juta. Akuisisi ini secara luas dilihat sebagai langkah perusahaan konglomerat ini untuk melakukan langkah baru di kancah pembayaran digital.

Ini adalah langkah besar kedua Salim Group ke industri perbankan  setelah mengambil alih Bank Central Asia (BCA) pada tahun 1970 namun mengalihkan kepemilikannya kepada pemerintah Indonesia pada tahun 1998 setelah terjadinya krisis keuangan Asia.

Salim Group beroperasi di bidang makanan, ritel, otomotif, telekomunikasi, infrastruktur dan sektor lainnya di seluruh Indonesia dan Filipina. Baru-baru ini mereka mengumumkan sebuah e-commerce JV hasil kerja sama mereka dengan grup Lotte Korea, iLotte, dengan investasi sebesar $ 100 juta.

Baca juga

Sedangkan MAP adalah peritel gaya hidup terkemuka di Indonesia dengan lebih dari 2.200 toko ritel dan portofolio beragam yang mencakup olahraga, fashion, pusat perbelanjaan, dunia anak-anak, makanan & minuman dan produk gaya hidup. MAP tercatat di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2004 dan saat ini memiliki lebih dari 26.000 karyawan.

Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terpadat keempat di dunia dengan warga muda yang cerdas teknologi pada smartphone dan penggunaan aplikasi. Indonesia memiliki ketergantungan tertinggi kedua terhadap uang tunai di dunia setelah India, menurut Bank Dunia. Dengan pasar yang cukup besar ini, tak heran banyak pihak berlomba-lomba memberikan layanan pembayaran uang digital terbaik.

Baca juga 

 picture: pixabay.com

-Dita Safitri-

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Bursa Kripto Masih Belum Terealisasi, Langkah Mendag Zulkifli Hasan Ditunggu

JAKARTA, duniafintech.com - Keberadaan bursa kripto sebagai bagian dari ekosistem perdagangan legal aset kripto di Indonesia hingga kini belum berujung atau terealisasi.  Meski pucuk pimpinan...

Segera Siapkan Regulasi Investasi Kripto, Zulkifli Hasan Bilang Biar Lebih Aman

JAKARTA, duniafintech.com - Investasi aset kripto saat ini banyak digandrungi masyarakat Indonesia. Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus beradaptasi dengan tren ekosistem ekonomi digital itu. Hal itu...

Harga Volkswagen Polo hingga Daftar Dealernya

JAKARTA, duniafintech.com – Volkswagen Polo hingga kini masih menjadi salah satu mobil asal Jerman yang paling banyak diminati oleh masyarakat. Baik di Indonesia maupun di...

Estimasi Biaya Laparoskopi, Mahal Enggak Ya?

JAKARTA, duniafintech.com – Estimasi biaya laparoskopi di rumah sakit memang terbilang cukup menguras kantong, bahkan bisa mencapai puluhan juta. Laparoskopi sendiri adalah tindakan medis berupa...

Sesuai Syariat Islam, Begini Prinsip P2P Lending Syariah

JAKARTA, duniafintech.com - Pastinya P2P lending sudah tidak asing lagi di telinga, bukan? Seiring perkembangan zaman dan teknologi, dunia fintech syariah terus mengalami peningkatan....
LANGUAGE