26.5 C
Jakarta
Kamis, 18 Juli, 2024

Setelah China Larang Kripto: DEX Datang sebagai Penyelamat

Lekukan besar atau penyok terjadi pada nilai token setelah adanya larangan kripto yang meluas di China beberapa waktu belakangan. Namun, lonjakan volume DEX dan BTC yang melonjak di atas $55.000 menunjukkan bahwa langkah ini adalah berkah tersembunyi.

Dikutip dari cointelegraph.com, selama beberapa bulan belakangan, diketahui ada sejumlah perkembangan besar yang keluar dari China yang sudah mengguncang pasar cryptocurrency dan pasar keuangan global.

Krisis pembayaran utang Evergrande China mengirimkan gelombang kejut di seluruh pasar ekuitas global serta sinyal konsisten dari Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC) tentang peraturan mendatang untuk stablecoin dan keuangan terdesentralisasi (DeFi) terus membebani sentimen di pasar. Sementara situasi Evergrande agak teratasi dengan sendirinya, untuk saat ini, tindakan keras pemerintah terhadap platform DeFi yang tidak diatur dan transaksi stablecoin terus berlanjut.

Hal itu pun sudah menghasilkan protokol lapisan satu yang dilengkapi lintas rantai dan solusi lapisan dua yang melihat peningkatan volume ketika pedagang mencari tempat yang tidak terpusat untuk berinteraksi. CEO CryptoQuant, Ki Young Ju, menyatakan bahwa setelah Tiongkok mengumumkan larangan semua transaksi cryptocurrency, pertukaran cryptocurrency utama, seperti Huobi, menangguhkan layanan untuk akun di Tiongkok daratan.

Adapun hal tersebut memicu eksodus dana dari bursa terpusat (CEX) yang berbasis di Asia dan dana ini kemudian disetorkan ke bursa terdesentralisasi (DEX) dan ekosistem keuangan terdesentralisasi (DeFi) yang lebih luas. Fenomena itu sangat menarik dan memerlukan penyelidikan lebih lanjut, mengingat asumsi kegagalan hard fork Ethereum di London dalam mengatasi biaya gas yang tidak dapat dipertahankan dan kekhawatiran peraturan yang meningkat atas tanggapan AS dan China terhadap cryptocurrency.

Beberapa DEX yang berkembang baru-baru ini dan protokol populer yang mengalami peningkatan arus masuk adalah sebagai berikut:

The Ethereum network

The Ethereum network atau jaringan Ethereum sejauh ini merupakan kontrak pintar yang paling dominan dan menampung pertukaran terdesentralisasi terbesar dan paling banyak digunakan, misalnya, seperti Uniswap (UNI) dan SushiSwap (SUSHI), merujuk data dari Dune Analytics.

Sementara larangan cryptocurrency terbaru dari China mendominasi berita utama dalam dua minggu terakhir bulan September, pengumuman ini pada mulanya dibuat pada 3 September atau pada masa yang sama ketika aktivitas di Uniswap melonjak lebih tinggi. Adapun lonjakan aktivitas dan volume perdagangan Uniswap sejatinya dimulai pada 28 Agustus dan tetap meningkat di atas rata-rata sebelumnya selama beberapa minggu ke depan.

Di sisi lain, Uniswap pun memperoleh manfaat dari integrasi baru-baru ini, dengan solusi lapisan dua yang baru dirilis Optimism dan Arbitrum, yang membantu menurunkan biaya transaksi dan mempercepat waktu konfirmasi bagi pengguna di jaringan.

The Fantom network

Protokol Fantom menjadi terkenal dalam beberapa bulan terakhir karena peluncuran jembatan ke jaringan Ethereum dan program insentif pengembang 370 juta FTM yang dirancang untuk menarik proyek baru ke ekosistem Fantom. Menurut data dari Terminal Token, untuk sementara pengumuman program insentif pada 30 Agustus memberikan dorongan awal dalam pendapatan protokol dan harga token.

Lantas, barulah setelah pengumuman peraturan dari China pada 3 September, aktivitas dan pendapatan protokol benar-benar mengalami peningkatan yang berkelanjutan. Fantom diketahui menggunakan arsitektur grafik asiklik terarah yang memungkinkan kemampuan throughput tinggi dengan biaya mendekati nol, yang sudah membantu protokol ini kian populer di antara para pedagang DeFi dan NFT yang tidak bisa melakukan transaksi di Ethereum.

Adapun SpookSwap dan SpiritSwap menjadi dua DEX teratas di jaringan Fantom dan bersama-sama saat ini menangani rata-rata $95 juta dalam volume perdagangan 24 jam.

Avalanche

Jaringan Avalanche merupakan protokol blockchain yang telah mendapatkan daya tarik sejak pertengahan Agustus peluncuran program insentif penambangan likuiditas Avalanche Rush, yang mencakup hadiah dan insentif senilai lebih dari $180 juta yang dirancang untuk menarik likuiditas ke ekosistem DeFi di Avalanche. Sejak rilis program insentif pada pertengahan Agustus, pendapatan protokol dan nilai token untuk token asli AVAX sudah meningkat sebab pengguna mentransfer aset lintas rantai untuk terlibat dalam ekosistem DeFi Avalanche yang berkembang.

Data dari DefiLlama menyatakan bahwa DEX teratas di Avalanche, yakni Trader Joe (JOE) dan Pangolin (PNG) yang kini digabungkan menjadi rata-rata volume perdagangan 24 jam sebesar $355,2 juta.

Decentralized perpetuals trading

Protokol perdagangan perpetual terdesentralisasi dYdX, yang sudah melejit popularitasnya pada September setelah airdrop token DYDX aslinya, juga sudah melihat peningkatan dalam aktivitas dan volume pengguna. Data dari Token Terminal menyebutkan, volume perdagangan harian di bursa meledak pada hari-hari terakhir September atau melonjak dari rata-rata di bawah $2,1 miliar menjadi lebih dari $9 miliar pada 27 September.

Tindakan keras regulasi sudah sangat keras pada pertukaran cryptocurrency derivatif dan leverage seperti BitMEX dan Binance, yang mengarah pada peningkatan permintaan untuk opsi terdesentralisasi seperti dYdX dan Hegic. Sementara banyak orang di seluruh ekosistem cryptocurrency menyesali tindakan keras China terhadap sektor kripto, sikap keras mereka mungkin sebenarnya menjadi berkah tersembunyi.

Hal itu mendorong para pedagang untuk pergi dari pertukaran terpusat dan keluar ke ekosistem DeFi yang berkembang pesat di mana etos desentralisasi dan kemampuan untuk “menjadi bank sendiri” masih tersedia bagi mereka yang mencarinya.

 

Penulis: Kontributor

Editor: Anju Mahendra

Iklan

mau tayang di media lain juga

ARTIKEL TERBARU