Harga Bitcoin dinilai mulai meninggalkan fase bearish setelah mengalami tekanan harga berkepanjangan sejak mencapai rekor tertinggi pada Oktober 2025. Galaxy Research menyebut titik terendah Bitcoin kemungkinan telah terbentuk pada Juni 2026, sehingga membuka peluang pemulihan dalam jangka panjang.
Pandangan tersebut disampaikan Head of Firmwide Research Galaxy, Alex Thorn, yang melihat sejumlah perubahan penting dalam struktur pasar Bitcoin.
Menurut Galaxy, terdapat tiga faktor utama yang mendukung berakhirnya bear market, yakni pemulihan indikator teknikal jangka panjang, berkurangnya tekanan jual dari investor lama, serta meningkatnya daya tarik Bitcoin di tengah pertumbuhan utang pemerintah Amerika Serikat (AS).
Meski demikian, pandangan optimistis tersebut muncul ketika Bitcoin masih diperdagangkan jauh di bawah rekor harga tertingginya.
Pada Selasa, 27 Oktober 2026, Bitcoin berada di kisaran US$79.822, atau sekitar 36% lebih rendah dibandingkan rekor tertinggi sepanjang masa sebesar US$126.000 pada Oktober 2025.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa berakhirnya fase bearish tidak selalu berarti harga Bitcoin langsung kembali mencetak rekor baru.
Galaxy Research Nilai Bear Market Bitcoin Berakhir Sejak Juni 2026
Mengutip laporan The Block pada 26 Oktober 2026, Galaxy Research menilai Bitcoin telah melewati fase terburuk dari siklus penurunan harga yang berlangsung sejak tahun sebelumnya.
Alex Thorn mengidentifikasi Juni 2026 sebagai periode ketika Bitcoin kemungkinan membentuk titik terendah siklus.
Penilaian tersebut didasarkan pada perubahan sejumlah indikator yang digunakan untuk mengamati kondisi pasar dalam jangka panjang.
Menurut Galaxy, struktur harga Bitcoin mulai menunjukkan perbaikan setelah mengalami tekanan selama berbulan-bulan.
Selain itu, aktivitas investor yang telah menyimpan BTC selama bertahun-tahun juga mulai berkurang.
Perubahan tersebut dipandang sebagai tanda bahwa tekanan distribusi atau perpindahan pasokan dari pemegang lama mulai mereda.
Namun, analisis tersebut tetap merupakan pandangan Galaxy Research, bukan konfirmasi bahwa harga Bitcoin tidak akan kembali mengalami penurunan.
1. Bitcoin Kembali Menembus Moving Average 50 Minggu
Alasan pertama yang mendukung pandangan Galaxy adalah keberhasilan Bitcoin kembali bergerak di atas indikator moving average (MA) 50 minggu.
MA 50 minggu merupakan rata-rata harga Bitcoin selama 50 pekan terakhir yang digunakan untuk membantu mengidentifikasi kecenderungan tren jangka panjang.
Menurut Alex Thorn, Bitcoin berhasil mencatatkan penutupan perdagangan mingguan di atas indikator tersebut selama lima pekan berturut-turut hingga 18 Oktober 2026.
Pencapaian ini menjadi perhatian karena sebelumnya BTC berada di bawah MA 50 minggu selama 44 pekan berturut-turut.
Perubahan tersebut mengindikasikan adanya perbaikan struktur harga setelah periode pelemahan yang relatif panjang.
Dalam analisis teknikal, kemampuan suatu aset bertahan di atas rata-rata harga jangka panjang sering dianggap sebagai salah satu tanda membaiknya momentum.
Namun, indikator moving average tidak dapat memastikan arah harga berikutnya.
Bitcoin tetap dapat mengalami koreksi atau kembali turun di bawah indikator tersebut apabila tekanan jual meningkat.
Mengapa MA 50 Minggu Penting bagi Bitcoin?
Berbeda dengan indikator harian yang lebih sensitif terhadap fluktuasi jangka pendek, MA 50 minggu memberikan gambaran tren harga dalam periode yang lebih panjang.
Indikator tersebut membantu investor mengurangi pengaruh pergerakan harga harian ketika mengevaluasi arah pasar.
Ketika Bitcoin berada di bawah MA 50 minggu selama berbulan-bulan, kondisi tersebut dapat menunjukkan dominasi tren penurunan.
Sebaliknya, keberhasilan harga kembali bergerak di atas indikator tersebut dapat menandakan perubahan keseimbangan antara pembeli dan penjual.
Namun, sinyal pemulihan akan lebih kuat apabila didukung oleh pembentukan titik tertinggi dan titik terendah harga yang semakin meningkat.
Selain itu, volume perdagangan dan permintaan spot juga dapat digunakan sebagai indikator pendukung.
Dengan demikian, keberhasilan Bitcoin bertahan di atas MA 50 minggu menjadi salah satu perkembangan positif, tetapi belum cukup untuk memastikan dimulainya bull market baru.
Bitcoin Sempat Menguji MA 200 Minggu pada Juni 2026
Selain MA 50 minggu, Galaxy Research juga memperhatikan indikator MA 200 minggu.
Indikator ini digunakan untuk melihat rata-rata harga Bitcoin dalam periode yang jauh lebih panjang.
Menurut Galaxy, Bitcoin sempat menguji area MA 200 minggu ketika mencapai titik terendah pada Juni 2026.
Pada periode tersebut, penutupan mingguan terburuk Bitcoin tercatat sekitar 4,7% di bawah MA 200 minggu.
Pergerakan tersebut menjadi salah satu dasar penilaian bahwa pasar telah mengalami fase tekanan yang cukup dalam.
Dalam sejumlah siklus sebelumnya, area rata-rata harga jangka panjang juga menjadi perhatian investor ketika Bitcoin mengalami koreksi besar.
Namun, pola historis tidak selalu berulang.
Perubahan struktur pasar, kehadiran ETF Bitcoin spot, serta meningkatnya partisipasi investor institusional dapat membuat siklus harga berikutnya berbeda dari periode sebelumnya.
2. Tekanan Jual Investor Lama Bitcoin Mulai Berkurang
Alasan kedua yang disampaikan Galaxy Research berasal dari aktivitas pemegang Bitcoin jangka panjang.
Galaxy mengamati pergerakan BTC yang berasal dari kelompok investor yang telah menyimpan asetnya selama setidaknya lima tahun.
Berdasarkan data perusahaan, rata-rata aktivitas perpindahan Bitcoin dari kelompok tersebut terus menurun dalam tiga tahun terakhir.
Pada 2024, rata-rata perpindahan mencapai sekitar 67.000 BTC per bulan.
Angka tersebut turun menjadi 47.000 BTC per bulan pada 2025.
Sementara itu, sepanjang periode 2026 yang diamati, rata-ratanya kembali menurun menjadi sekitar 34.000 BTC per bulan.
Dengan demikian, aktivitas perpindahan Bitcoin dari kelompok pemegang lama telah berkurang sekitar 49% dibandingkan 2024.
Galaxy menilai perkembangan tersebut sebagai salah satu indikasi bahwa tekanan pasokan dari investor lama mulai mereda.
Namun, aktivitas perpindahan Bitcoin tidak selalu sama dengan penjualan.
Transaksi blockchain juga dapat mencerminkan perpindahan penyimpanan, pengelolaan aset, atau aktivitas lain yang tidak secara langsung memengaruhi pasokan di pasar perdagangan.
Mengapa Aktivitas Holder Lama Memengaruhi Harga Bitcoin?
Investor yang telah menyimpan Bitcoin selama bertahun-tahun sering menjadi perhatian dalam analisis on-chain.
Kelompok ini dapat memiliki harga perolehan yang jauh lebih rendah dibandingkan harga pasar saat ini.
Ketika pemegang lama memindahkan Bitcoin dalam jumlah besar menuju platform perdagangan, sebagian analis dapat menafsirkan aktivitas tersebut sebagai potensi peningkatan pasokan yang siap dijual.
Namun, tujuan setiap perpindahan tidak selalu dapat diketahui secara pasti hanya dari data blockchain.
Karena itu, analisis perlu mempertimbangkan tujuan transaksi, jenis alamat dompet, serta perubahan cadangan bursa.
Jika aktivitas distribusi pemegang lama benar-benar menurun sementara permintaan tetap kuat, kondisi tersebut dapat mengurangi tekanan penawaran.
Sebaliknya, apabila permintaan juga melemah, berkurangnya perpindahan BTC belum tentu cukup untuk mendorong harga naik.
Dengan demikian, keseimbangan permintaan dan penawaran tetap menjadi faktor penting dalam pembentukan harga Bitcoin.
Sebanyak 1,11 Juta BTC Milik Investor Lama Telah Berpindah
Galaxy Research juga mencatat bahwa sekitar 1,11 juta BTC dari kelompok investor yang telah menyimpan Bitcoin setidaknya lima tahun tercatat berpindah sejak Oktober 2024.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar 5,3% dari batas maksimum pasokan Bitcoin sebanyak 21 juta BTC.
Perpindahan dalam skala tersebut menunjukkan bahwa sebagian Bitcoin yang telah lama tidak bergerak kembali aktif di jaringan.
Menurut Galaxy, ETF Bitcoin spot dan perusahaan publik yang menjadikan BTC sebagai aset treasury telah menyerap sebagian besar pasokan tersebut.
Perkembangan ini menggambarkan perubahan struktur kepemilikan Bitcoin, dari sebagian pemegang lama menuju kelompok investor lain.
Namun, perpindahan kepemilikan tidak selalu mencerminkan permintaan baru dalam jumlah yang sama.
Karena itu, analisis tetap membutuhkan data pendukung mengenai transaksi pasar, aktivitas ETF, dan kepemilikan institusional.
ETF Bitcoin dan Perusahaan Publik Jadi Sumber Permintaan
Kehadiran ETF Bitcoin spot telah memperluas akses investor terhadap BTC melalui instrumen pasar modal.
Produk tersebut memungkinkan investor memperoleh eksposur terhadap pergerakan harga Bitcoin tanpa harus mengelola penyimpanan aset digital secara langsung.
Selain ETF, sejumlah perusahaan publik juga menggunakan Bitcoin sebagai bagian dari strategi pengelolaan treasury.
Salah satu contoh terbesar adalah Strategy, perusahaan yang memiliki Michael Saylor sebagai Executive Chairman.
Berdasarkan laporan perusahaan pada Oktober 2026, Strategy telah mengakumulasi 848.517 BTC, atau sekitar 4,04% dari batas maksimum pasokan Bitcoin.
Kepemilikan tersebut memperlihatkan besarnya eksposur Bitcoin pada sejumlah perusahaan publik.
Namun, pembelian oleh investor institusional tidak menjamin bahwa harga BTC akan terus meningkat.
Investor besar juga dapat menyesuaikan strategi sesuai kondisi pasar dan kebutuhan pendanaan.
Karena itu, keberlanjutan permintaan tetap perlu dipantau melalui data yang terverifikasi.
3. Utang Amerika Serikat Meningkat, Bitcoin Dinilai Semakin Menarik
Alasan ketiga yang disampaikan Galaxy Research berkaitan dengan kondisi fiskal Amerika Serikat.
Dalam laporan tersebut, Galaxy menyoroti utang federal AS yang mencapai sekitar US$40,44 triliun.
Menurut Galaxy, peningkatan utang pemerintah dan ekspansi kredit dapat memperkuat daya tarik Bitcoin sebagai aset alternatif untuk menghadapi risiko penurunan daya beli mata uang.
Pandangan ini berkaitan dengan karakteristik pasokan Bitcoin yang dibatasi maksimal 21 juta BTC.
Berbeda dengan mata uang fiat, jumlah Bitcoin yang dapat diterbitkan melalui protokol jaringan memiliki batas yang telah ditentukan.
Karakteristik kelangkaan tersebut menjadi salah satu dasar argumen bahwa Bitcoin berpotensi berfungsi sebagai penyimpan nilai dalam jangka panjang.
Namun, kemampuan Bitcoin mempertahankan daya beli tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan keterbatasan pasokannya.
Harga BTC tetap dipengaruhi oleh permintaan, likuiditas, regulasi, dan kondisi pasar global.
Apakah Bitcoin Bisa Menjadi Pelindung dari Penurunan Nilai Mata Uang?
Istilah currency debasement merujuk pada penurunan nilai mata uang, termasuk daya belinya, yang dapat dikaitkan dengan berbagai faktor moneter dan fiskal.
Dalam konteks investasi, sebagian pelaku pasar mencari aset alternatif ketika khawatir nilai mata uang akan melemah dalam jangka panjang.
Emas menjadi salah satu instrumen yang secara historis digunakan sebagai penyimpan nilai.
Bitcoin kemudian muncul sebagai alternatif digital karena memiliki karakteristik pasokan terbatas.
Namun, Bitcoin dan emas memiliki perbedaan mendasar.
Emas telah memiliki sejarah panjang sebagai aset penyimpan nilai, sedangkan Bitcoin baru diperdagangkan sejak akhir dekade 2000-an.
Selain itu, volatilitas harga Bitcoin jauh lebih tinggi dibandingkan banyak instrumen investasi tradisional.
Karena itu, Bitcoin belum dapat dianggap sebagai instrumen lindung nilai yang selalu efektif dalam setiap kondisi ekonomi.
Pada periode tertentu, BTC justru dapat mengalami penurunan bersamaan dengan saham dan aset berisiko lainnya.
Bitcoin Masih 36% di Bawah Rekor Tertinggi
Meskipun Galaxy Research menilai bear market telah berakhir, harga Bitcoin masih berada jauh dari puncak sebelumnya.
Bitcoin dilaporkan diperdagangkan sekitar US$79.822 pada 27 Oktober 2026.
Sementara itu, rekor tertinggi sepanjang masa tercatat sekitar US$126.000 pada Oktober 2025.
Dengan demikian, harga BTC masih sekitar 36,6% di bawah rekor tersebut.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa pemulihan struktur pasar tidak selalu diikuti kenaikan harga yang cepat.
Dalam beberapa kondisi, aset dapat mulai meninggalkan tren bearish tetapi tetap bergerak dalam fase konsolidasi yang panjang.
Investor juga perlu membedakan antara berakhirnya penurunan besar dan terbentuknya tren kenaikan yang berkelanjutan.
Keduanya membutuhkan indikator dan konfirmasi yang berbeda.
Berapa Kenaikan Bitcoin untuk Kembali ke US$126.000?
Dari harga US$79.822, Bitcoin membutuhkan kenaikan sekitar 57,9% untuk kembali mencapai US$126.000.
Perhitungan tersebut memperlihatkan bahwa penurunan harga dan kenaikan yang dibutuhkan untuk pulih tidak memiliki persentase yang sama.
Ketika suatu aset turun sekitar 36,6% dari puncaknya, aset tersebut membutuhkan kenaikan lebih besar dari 36,6% untuk kembali ke nilai awal.
Hal ini terjadi karena persentase pemulihan dihitung dari harga yang sudah lebih rendah.
Karena itu, investor perlu memahami bahwa pemulihan harga setelah koreksi besar dapat membutuhkan kenaikan yang cukup signifikan.
Namun, angka 57,9% tersebut hanya merupakan perhitungan matematis, bukan proyeksi bahwa Bitcoin akan mencapai rekor tertinggi dalam periode tertentu.
US$76.540 Jadi Level Penting bagi Prediksi Galaxy
Meskipun optimistis, Galaxy Research menetapkan batas yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kembali pandangannya.
Alex Thorn menyebut indikator MA 50 minggu yang berada di sekitar US$76.540 sebagai level penting.
Menurutnya, pandangan bahwa bear market Bitcoin telah berakhir dapat dipertanyakan apabila BTC mencatatkan penutupan mingguan di bawah level tersebut dan gagal kembali bergerak di atasnya dalam waktu satu bulan.
Kondisi tersebut akan menunjukkan bahwa pemulihan struktur harga belum cukup kuat.
Dari harga US$79.822, jarak menuju US$76.540 sekitar 4,1%.
Artinya, perubahan harga yang relatif terbatas masih dapat membawa Bitcoin kembali menguji indikator tersebut.
Namun, penembusan harga sesaat di bawah US$76.540 tidak otomatis membatalkan pandangan Galaxy.
Kriteria yang disampaikan Thorn mencakup penutupan mingguan serta kegagalan pemulihan dalam periode berikutnya.
Apa yang Terjadi Jika Bitcoin Turun di Bawah MA 50 Minggu?
Jika Bitcoin kembali mencatatkan penutupan mingguan di bawah MA 50 minggu, kondisi tersebut dapat menunjukkan melemahnya momentum pemulihan.
Namun, satu kali penutupan di bawah indikator tidak selalu cukup untuk memastikan perubahan tren jangka panjang.
Investor perlu memperhatikan apakah harga mampu kembali bergerak di atas rata-rata tersebut.
Selain itu, perkembangan volume perdagangan, struktur harga, dan permintaan spot dapat membantu menilai kekuatan pergerakan.
Jika Bitcoin terus berada di bawah MA 50 minggu, risiko konsolidasi lebih panjang atau koreksi lanjutan dapat meningkat.
Sebaliknya, apabila BTC mampu kembali mempertahankan area tersebut, pandangan pemulihan jangka panjang masih dapat memperoleh dukungan.
Karena itu, level US$76.540 lebih tepat dipahami sebagai acuan evaluasi skenario Galaxy, bukan batas harga yang pasti menentukan arah pasar.
Apakah Bitcoin Sudah Memasuki Bull Market Baru?
Pernyataan bahwa bear market telah berakhir tidak selalu berarti bull market baru telah dimulai.
Dalam analisis pasar, fase setelah penurunan besar dapat berupa pemulihan awal, konsolidasi, atau pembentukan tren kenaikan baru.
Untuk menilai apakah Bitcoin benar-benar memasuki fase bullish, investor dapat memperhatikan beberapa indikator.
Salah satunya adalah kemampuan harga membentuk titik tertinggi dan titik terendah yang semakin tinggi.
Selain itu, meningkatnya permintaan spot dan arus dana institusional dapat menjadi faktor pendukung.
Perubahan aktivitas investor jangka panjang juga dapat memberikan gambaran mengenai kondisi distribusi pasokan.
Namun, tidak ada satu indikator yang dapat memastikan arah harga secara konsisten.
Karena itu, pandangan Galaxy perlu ditempatkan sebagai salah satu analisis pasar yang masih membutuhkan konfirmasi.
Risiko Koreksi Bitcoin Masih Perlu Diwaspadai
Walaupun sejumlah indikator menunjukkan perbaikan, pasar Bitcoin tetap menghadapi risiko.
Salah satunya adalah perubahan kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed.
Perubahan ekspektasi suku bunga dapat memengaruhi kondisi likuiditas dan minat investor terhadap aset berisiko.
Selain itu, arus keluar dana ETF Bitcoin spot dapat memberikan tekanan terhadap sentimen pasar.
Aktivitas derivatif dengan leverage tinggi juga dapat memperbesar volatilitas ketika harga bergerak tajam.
Di sisi lain, perubahan regulasi dan perkembangan ekonomi global dapat memengaruhi keputusan investasi.
Karena itu, pandangan bahwa bear market telah berakhir tidak boleh diartikan sebagai jaminan bahwa harga Bitcoin tidak akan kembali turun.
Bagaimana Investor Indonesia Menyikapi Analisis Galaxy?
Bagi investor Indonesia, laporan Galaxy Research dapat menjadi salah satu referensi untuk memahami perkembangan pasar Bitcoin.
Namun, keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan tujuan keuangan dan kemampuan menghadapi risiko.
Investor jangka panjang dapat memperhatikan indikator tren mingguan dan perkembangan permintaan institusional.
Sementara itu, trader jangka pendek mungkin lebih berfokus pada perubahan harga harian, volume perdagangan, dan aktivitas derivatif.
Selain harga BTC dalam dolar AS, investor Indonesia juga perlu memperhatikan perubahan nilai tukar rupiah.
Pergerakan kurs dapat memengaruhi nilai investasi Bitcoin ketika dihitung dalam rupiah.
Strategi pembelian bertahap dapat membantu mengurangi ketergantungan pada satu titik harga, tetapi tidak menjamin keuntungan.
Kesimpulan
Galaxy Research menilai bear market Bitcoin kemungkinan telah berakhir sejak Juni 2026, meskipun harga BTC masih berada sekitar 36% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa.
Penilaian tersebut didukung tiga faktor utama.
Pertama, Bitcoin kembali mencatatkan penutupan mingguan di atas MA 50 minggu selama lima pekan berturut-turut setelah sebelumnya berada di bawah indikator tersebut selama 44 pekan.
Kedua, aktivitas perpindahan Bitcoin dari pemegang berusia minimal lima tahun turun dari rata-rata 67.000 BTC per bulan pada 2024 menjadi 34.000 BTC pada 2026.
Ketiga, meningkatnya utang federal AS dinilai Galaxy dapat memperkuat daya tarik Bitcoin sebagai aset alternatif dengan pasokan terbatas.
Namun, Galaxy juga menetapkan MA 50 minggu di sekitar US$76.540 sebagai level penting untuk mengevaluasi kembali pandangannya.
Jika Bitcoin mencatatkan penutupan mingguan di bawah level tersebut dan gagal pulih dalam waktu satu bulan, tesis bahwa bear market telah berakhir dapat dipertanyakan.
Dengan demikian, sinyal pemulihan Bitcoin mulai terlihat menurut Galaxy Research, tetapi keberlanjutan tren bullish masih membutuhkan konfirmasi dari harga, permintaan pasar, dan kondisi ekonomi global.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi investasi. Seluruh proyeksi dan penilaian analis memiliki ketidakpastian, sementara harga Bitcoin dapat mengalami volatilitas tinggi.
CEK SELENGKAPNYA ARTIKEL BERITA KRIPTO TERBARU DI SINI >>








