26.9 C
Jakarta
Kamis, 15 Januari, 2026

Stablecoin Bukan Hanya Pelengkap, Tapi Juga Fundamental Dorong Blockchain Utama

 

Stablecoin kini dipandang bukan sekadar pelengkap, melainkan elemen fundamental yang berpotensi mendorong munculnya satu blockchain utama sebagai tulang punggung lapisan penyelesaian transaksi.

Laporan terbaru dari BlackRock mengungkap adanya perubahan besar dalam lanskap industri kripto.

Mengacu pada laporan CryptoSlate (11/1), stablecoin yang sebelumnya hanya dimanfaatkan sebagai sarana menyimpan dana berbasis dolar di sela aktivitas perdagangan aset kripto, kini telah berevolusi menjadi infrastruktur inti yang menopang ekosistem aset digital secara keseluruhan.

Dalam dokumen Global Outlook 2026, BlackRock Investment Institute menilai bahwa fungsi stablecoin telah melampaui perannya di bursa kripto dan mulai masuk ke sistem pembayaran arus utama.

Aset digital ini juga dinilai memiliki peluang besar untuk digunakan dalam transaksi lintas negara serta pembayaran harian, khususnya di negara berkembang yang masih menghadapi biaya tinggi dan proses lambat dalam sistem perbankan konvensional.

Perubahan perspektif ini menjadi penting karena datang dari BlackRock, salah satu pengelola aset terbesar dunia, yang pandangannya kerap memengaruhi sikap investor institusional.

Diskusi pun bergeser, tidak lagi mempertanyakan manfaat stablecoin bagi ekosistem kripto semata, melainkan sejauh mana aset tersebut dapat berperan sebagai jalur penyelesaian yang berjalan berdampingan atau bahkan terintegrasi langsung dengan sistem keuangan tradisional.

Jika kondisi tersebut terwujud, maka muncul pertanyaan lanjutan mengenai blockchain mana yang akan menjadi fondasi utama bagi penyelesaian akhir transaksi, pengelolaan kolateral, dan uang tunai yang ditokenisasi.

BlackRock menegaskan bahwa stablecoin kini telah keluar dari status pasar khusus dan berfungsi sebagai penghubung antara keuangan konvensional dan likuiditas digital. Pernyataan ini disampaikan oleh Samara Cohen, Head of Global Market Development BlackRock, sebagaimana dikutip dari CryptoSlate (11/1).

Pada fase awal perkembangannya, stablecoin tumbuh pesat akibat tingginya volatilitas kripto serta keterbatasan jam operasional perbankan. Token yang dipatok ke dolar AS memungkinkan transaksi diselesaikan sepanjang waktu tanpa bergantung pada sistem fiat tradisional.

Namun, menurut CryptoSlate (11/1), BlackRock melihat bahwa fungsi tersebut kini meluas seiring meningkatnya kebutuhan akan sistem pembayaran yang efisien dan bersifat lintas batas.

Dorongan adopsi stablecoin juga datang dari kejelasan regulasi. Di Amerika Serikat, pengesahan GENIUS Act pada 18 Juli 2025 memberikan kerangka hukum nasional bagi stablecoin pembayaran, termasuk ketentuan cadangan dan transparansi. Walau belum menjamin adopsi besar-besaran, regulasi ini dinilai menurunkan risiko bagi bank serta jaringan pembayaran.

Dari sisi nilai pasar, stablecoin telah mencapai kapitalisasi sekitar US$298 miliar per 5 Januari 2026, dengan USDT dan USDC masih mendominasi. BlackRock mencatat bahwa nilai pasar stablecoin terus mencetak rekor tertinggi meskipun harga aset kripto mengalami fluktuasi, sekaligus menjadi sumber utama likuiditas dolar dan stabilitas on-chain.

Implementasi nyata mulai terlihat dalam industri pembayaran global. Mengutip CryptoSlate (11/1), Visa pada Desember 2025 meluncurkan sistem penyelesaian berbasis USDC di Amerika Serikat, memungkinkan mitra perbankannya melakukan settlement menggunakan stablecoin milik Circle. Tahap awal penyelesaian dilakukan melalui jaringan Solana guna menghadirkan kecepatan tinggi dan operasional tanpa henti.

Meski begitu, laporan CryptoSlate (11/1) mencatat bahwa meningkatnya kompleksitas penggunaan stablecoin turut memperbesar kebutuhan akan lapisan penyelesaian yang aman, andal, dan memiliki tingkat kepercayaan institusional jangka panjang.

Dalam konteks ini, Ethereum dinilai berada pada posisi strategis sebagai lapisan jangkar yang memisahkan proses eksekusi dan penyelesaian, terutama melalui ekosistem rollup dan solusi layer-2.

Tokenisasi aset dunia nyata semakin memperkuat peran Ethereum. Stablecoin dipandang sebagai pintu masuk menuju sistem keuangan yang sepenuhnya ditokenisasi, di mana instrumen seperti obligasi pemerintah dapat diterbitkan langsung di blockchain.

Berdasarkan data RWA.xyz, Ethereum menampung sekitar US$12,5 miliar aset dunia nyata yang telah ditokenisasi atau setara dengan 65 persen pangsa pasar per 5 Januari 2026.

BlackRock sendiri turut berperan dalam tren ini melalui peluncuran dana pasar uang bertoken, BUIDL, yang pertama kali hadir di jaringan Ethereum sebelum diperluas ke blockchain lain.

Menurut CryptoSlate (11/1), langkah serupa juga dilakukan oleh JPMorgan dengan meluncurkan dana pasar uang berbasis token di Ethereum serta menerima investasi dalam bentuk kas maupun USDC.

Meski prospeknya menjanjikan, BlackRock juga mengingatkan adanya risiko. Di negara berkembang, penggunaan stablecoin berpotensi melemahkan kendali moneter apabila mata uang domestik semakin jarang digunakan.

Selain itu, risiko dari sisi penerbit tetap menjadi perhatian, seperti penurunan peringkat cadangan Tether oleh S&P Global Ratings pada November 2025 akibat keterbatasan transparansi.

Ethereum sendiri tidak sepenuhnya terbebas dari persaingan. Visa telah menunjukkan bahwa penyelesaian stablecoin dapat dijalankan di berbagai jaringan sesuai kebutuhan operasional.

Namun, seperti dikutip dari CryptoSlate (11/1), seiring meningkatnya adopsi stablecoin, nilai tambah akan mengarah pada blockchain yang mampu menyediakan penyelesaian tepercaya, integrasi aset bertoken, serta sistem keamanan yang diyakini institusi.

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, Ethereum dinilai sebagai kandidat paling rasional untuk menjadi standar penyelesaian dolar digital.

Apabila stablecoin benar-benar berfungsi sebagai penghubung antara keuangan tradisional dan likuiditas digital, maka fondasi yang kuat tetap menjadi syarat utama. Dalam struktur pasar kripto saat ini, Ethereum masih menjadi pijakan utama yang terus dirujuk oleh institusi global.

Iklan

mau tayang di media lain juga

ARTIKEL TERBARU