26 C
Jakarta
Rabu, 29 Juni, 2022

Surplus Neraca Perdagangan April US$7,56 Miliar, BPS: Tertinggi Sepanjang Sejarah

JAKARTA, duniafintech.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, surplus neraca perdagangan barang Indonesia pada bulan April 2022 kembali mengalami surplus, yaitu sebesar US$7,56 miliar.

Menurut Kepala BPS Margo Yuwono, surplus pada bulan April 2022 ini merupakan rekor surplus perdagangan terbaru, dan adalah surplus perdagangan dengan nilai terbesar sepanjang sejarah.

“Ini merupakan rekor baru dan ini tertinggi sepanjang sejarah. Sebelumnya, nilai surplus neraca perdagangan tertinggi sepanjang sejarah adalah pada Oktober 2021 yang pada waktu itu sebesar US$5,74 miliar,” kata Kepala BPS Margo Yuwono dalam konferensi pers virtual, Selasa (17/5).

Baca juga: Yuk, Belajar dari 8 Buku Investasi Saham Terbaik Ini

Tak hanya mencetak rekor tertinggi, nilai surplus neraca perdagangan pada April 2022 ini juga merupakan surplus berturut-turut sejak 24 bulan terakhir.

Dia memaparkan, nilai ekspor barang pada April 2022 tercatat sebesar US$27,32 miliar atau naik 3,11% (mtm) dan secara tahunan naik 47,76% (yoy).

Sedangkan, nilai impor tercatat US$19,76 miliar atau turun 10,01% (mtm) meski secara tahunan masih naik 21,97% (yoy).

Dengan kondisi surplus tersebut, neraca perdagangan Indonesia dari awal tahun 2022 hingga April 2022 tercatat surplus US$16,89 miliar.

Adapun, komoditas penyumbang surplus terbesar adalah lemak dan minyak hewan nabati (HS15) dan bahan bakar mineral (HS27).

Baca juga: Jangan Sampai Salah! Inilah Cara Transfer Virtual Account Beda Bank

Margo bilang, surplus neraca perdagangan ini juga didorong oleh surplus dengan negara-negara mitra dagang Indonesia, dengan yang terbesar adalah surplus dengan Amerika Serikat (AS), India, dan Filipina.

Surplus neraca perdagangan dengan AS pada April 2022 tercatat US$ 1,62 miliar dengan sumbangan surplus neraca perdagangan datang dari komoditas pakaian dan aksesoris rajutan (HS 61), diikuti dengan alas kaki (HS 64).

Sedangkan surplus dengan India tercatat US$1,53 miliar dan disumbang dengan surplus bahan bakar mineral (HS 27), diikuti dengan lemak dan minyak hewan (nabati) HS 15.

Surplus lainnya adalah dengan Filipina, yaitu sebesar US$ 977,9 juta dan  didorong oleh surplus bahan bakar mineral (HS 27) dan diikuti dengan kendaraan dan bagiannya (HS 87).

Baca juga: Denda Rp30 Juta Siap Mengintai Para Penunggak Iuran BPJS Kesehatan

 

Penulis: Nanda Aria

Editor: Rahmat Fitranto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Mengenali P2P Lending Syariah, Halal Tanpa Riba

JAKARTA, duniafintech.com – Mengenali P2P Lending Syariah nampaknya menjadi salah satu hal yang penting saat ini. Kemajuan teknologi membuat peer to peer (P2P) lending...

Kelebihan dalam P2P Lending Syariah, Halal Pastinya!

JAKARTA, duniafintech.com – Kelebihan dalam P2P lending syariah akan jadi pembahasan tim DuniaFintech.com kali ini. Untuk lebih mengenal apa itu P2P lending syariah, simak...

Cara Kerja Akad P2P Lending Syariah, Simak ini Guys!

JAKARTA, duniafintech.com – Cara Kerja Akad P2P Lending Syariah, seperti apa? Kini anda bisa dengan bebas berinvestasi dan mengajukan pembiayaan syariah melalui fintech P2P...

Bengkel Spesialis Mercy, Ini Daftar Lengkapnya

JAKARTA, duniafintech.com – Bengkel spesialis Mercy terdekat adalah tempat yang paling dicari oleh pengguna mobil keluaran Jerman ini. Di samping lantaran membutuhkan perawatan khusus, di...

Tahapan Investasi P2P Lending Syariah, Jadi Solusi Keuangan

JAKARTA, duniafintech.com – Tahapan investasi P2P lending syariah kali ini bisa dijadikan solusi, jika Anda mencari investasi yang terpercaya dan menawarkan imbal hasil yang...
LANGUAGE