26.8 C
Jakarta
Selasa, 16 Agustus, 2022

Survey: Mata Uang Kripto Banyak Digunakan untuk Baju dan Makanan

duniafintech.com – Di Amerika Serikat, kemunculan mata uang kripto seperti Bitcoin (BTC) kerap didiskreditkan oleh publik. Mulai dari isu keamanan data pribadi hingga penggunanan untuk kegiatan kriminal tertentu, seperti pendanaan terorisme, narkotika dan pembelian senjata api kerap terlontar di sarana publik seperti media sosial hingga pengamat.

Namun, berdasarkan survey yang dirilis oleh firma bernama Visual Objects, disebutkan jika penggunaan mata uang kripto digunakan untuk pembelian pakaian dan makanan. Hal ini tentunya berseberangan dengan persepsi publik soal maraknya penggunaan uang digital dalam transaksi barang ilegal.

Temuan ini sekaligus menyoroti perbedaan antara persepsi dan kenyataan akan penggunaan uang digital. Di awal, banyak yang menilai kegiatan trading serta aktivitas terlarang akan menempati puncak dari survey tersebut.

Visual Objects pun memulai pendataan dengan mengumpulkan 983 responden di Amerika Serikat yang mengaku ‘familiar dengan mata uang digital’. Selain itu, survey ini menyertakan lebih dari 120 orang yang telah melakukan transaksi dengan mata uang tersebut.

Baca juga:

Hasil Survey Penggunaan Mata Uang Kripto

Pada awalnya, 40% responden menduga bahwa jual beli saham dominan dalam kasus penggunaan kripto. Selanjutnya, 30% menduga penggunaan transaksi barang ilegal. Sementara, sebanyak 23% berpendapat untuk pembelian barang elektronik. Selanjutnya, pembelian pakaian dan hunian mewah (real estate) hanya berada di 15% disusul dengan makanan di jumlah 14%.

Visual Objects pun melakukan survey kepada partisipan yang telah melakukan transaksi menggunakan mata uang kripto. Hasilnya, temuan yang didapat justru sangat kontras dengan persepsi yang diduga sebelumnya.

Makanan menempati urutan teratas penggunaan mata uang kripto sebanyak 38%. Sementara pembelian pakaian menempati posisi ke-2 dengan torehan 34%. Posisi selanjutnya ditempati oleh penggunaan jual beli saham dengan persentase 29%. Sementara, penggunaan pembelian senjata api dan obat-obatan terlarang bahkan tidak melampaui 15% dari keseluruhan.

Beberapa survey lainnya pun mengatakan hal yang sama. Salah satunya yang dilakukan media harian The Economist dan Crypto.com yang mengatakan sebanyak 34,2% transaksi kripto dilakukan sebagai metode belanja online.

Lansiran cointelegraph menyebut, adanya survey ini dinilai Eric Anziani, COO Crypto.com sebagai potensi penyebar luasan manfaat mata uang kripto.

“Survey ini merupakan sebuah indikator yang baik atas tren yang menunjukkan mata uang digital merupakan hal yang tepat untuk diadopsi secara massif. Efisiensi dan infrastruktur pembayaran akan semakin potensial,”

DuniaFintech/FauzanPerdana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Makin Dilirik, Sandiaga Uno Ajak Jelajahi Keindahan Indonesia Lewat Metaverse

JAKARTA, duniafintech.com - Teknologi Metaverse kini semakin dilirik, Sandiaga Uno mengajak untuk menjelajahi keindahan Indonesia melalui Metaverse.  Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif atau Menparekraf ini...

OneAset, Aplikasi Investasi One Stop Solution Favorit Masa Kini

JAKARTA, duniafintech.com - Saat ini investasi sudah mulai dikenal luas oleh masyarakat, salah satunya karena munculnya berbagai aplikasi yang mendukung, yakni OneAset adalah suatu...

Asuransi Kesehatan Syariah untuk Keluarga, Inilah Produknya

JAKARTA, duniafintech.com – Asuransi kesehatan syariah untuk keluarga penting dimiliki sebagai upaya pertanggungan atas segala risiko yang akan terjadi. Tentu saja, setiap orang ingin memiliki...

10 Game NFT Terbaik, Seru dan Bisa Hasilkan Cuan Lho!

JAKARTA, duniafintech.com - Game NFT atau non-fungible token terbaik sepertinya penting untuk anda ketahui. Selain asyik dan seru, ternyata game non-fungible token terbaik juga...

Ada Sinyal dari Menteri ESDM, Harga Pertalite Bakal Naik?

JAKARTA, duniafintech.com - Harga BBM jenis pertalite diisukan bakal naik. Rencana kenaikan harga ini dilakukan di tengah keputusan Badan Anggaran (Banggar) DPR yang menolak...
LANGUAGE