32.7 C
Jakarta
Rabu, 25 Mei, 2022

Tak Main-main! Aplikasi Pinjol Kredivo Targetkan 10 Juta Pengguna di 2025

Platform resmi pinjaman online atau P2P lending Kredivo menargetkan 10 juta member pada tahun 2025. Kini, jumlah member Kredivo sudah mencapai 4 juta orang. 

Platform pinjaman berbasis aplikasi Kredivo melaporkan bahwa kinerja perusahaan secara tahunan (year on year/yoy) terus mengalami perbaikan.

Bahkan, menurut General Manager Kredivo Indonesia Lily Suriani, jumlah pengguna kredit dari Kredivo tersebut telah mencapai 50% dari total pemegang kartu kredit yang dikeluarkan oleh bank konvensional yang ada di Indonesia.

“Secara yoy kinerja Kredivo sangat baik, potensinya 4 juta user, jadi kalau dibandingkan kartu kredit akses kredit yang kita berikan Kredivo sudah 50% dari total kredit holder di Indonesia,” katanya dalam media briefing, Jumat (8/10).

Adapun, dengan potensi pasar yang terus bertumbuh tersebut dan permintaan yang semakin tinggi. Lily mengungkapkan, perusahaan menargetkan pada 2025 akan ada sebanyak 10 juta pengguna dari layanan buy now pay later (BNPL) tersebut.

“Pertumbuhan kredit dari Kredivo secara yoy signifikan terutama di masa apandemi banyak masyarakat yang butuh akses kredit, dan di 2025 kita mungkin bisa menyasar 10 juta pengguna,” ujarnya.

Menyasar Kelompok Underbanked dan Unbanked

Lily menjelaskan, permintaan kredit terus meningkat dari waktu ke waktu, terutama di masa pandemi Covid-19. Ketika pandemi, lanjutnya, kebutuhan masyarakat untuk memperoleh kredit terus bertumbuh.

Sebagian besar berasal dari segmen Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan masyarakat umum yang underbanked atau nasabah yang telah mendapatkan akses perbankan, namun belum dapat menikmati layanan seutuhnya. 

Kemudian masyarakat unbanked atau nasabah yang belum terjangkau perbankan atau layanan keuangan konvensional sehingga membutuhkan layanan keuangan alternatif seperti Kredivo dan financial technology (fintech) lending lainnya.

Segmen yang tak menikmati layanan keuangan konvensional inilah yang menjadi pasar utama dari Kredivo, yang potensinya sangat besar.

“Kredivo itu fokusnya ke masyarakat underbanked, bukan (hanya) unbanked. Potensinya besar harapannya kita bisa terus meningkatkan inklusi keuangan ini,” ucapnya.

Mendapatkan Suntikan Dana Dari Investor

Sebelumnya, guna mendukung komitmen Kredivo untuk meningkatkan pangsa pasarnya, Bank DBS Indonesia memberikan pendanaan bersama atau joint financing sebesar Rp1 triliun kepada nasabah kredit digital Kredivo.

Consumer Banking Director, PT Bank DBS Indonesia Rudy Tandjung mengatakan, kerja sama ini merupakan wujud komitmen dari DBS Indonesia untuk mengadopsi open banking dengan bersinergi bersama penyelenggara jasa sistem pembayaran, fintech, atau pelaku industri digital lainnya. 

Di sisi lain, kerja sama ini juga merupakan wujud komitmen Kredivo untuk memperluas akses kredit serta meningkatkan layanan, guna memenuhi target untuk dapat melayani puluhan juta pengguna dalam beberapa tahun ke depan. 

Hal ini dilakukan guna memenuhi kebutuhan nasabah yang semakin berkembang seiring dengan kemajuan teknologi, khususnya dalam penyaluran kredit pembiayaan pada masyarakat Indonesia. 

“Dengan ekspansi terhadap limit skema kerja sama dari Rp500 miliar menjadi Rp1 triliun kami berharap mampu menjangkau masyarakat lebih luas dan meningkatkan inklusi keuangan,” katanya, Selasa (5/10).

Membidik Pasar Digital

Kehadiran DBS ini dalam ekosistem digital melalui Kredivo dapat dilihat sebagai upayanya untuk membidik pasar digital. Lebih lagi, sektor digital mampu jadi ujung tombak perekonomian nasional selama pandemi. 

Berdasarkan laporan Blooming e-Commerce in Indonesia pada Juni 2021, gross market value (GMV) atau nilai transaksi yang dihasilkan oleh marketplace besar di Indonesia meningkat sebesar 91% menjadi US$40,1 miliar selama tahun 2020. 

Hal ini tentunya akan mendorong reformasi digital industri keuangan salah satunya dengan mengadopsi open banking. Seiring dengan perubahan tersebut dan guna mendukung inisiatif Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) dalam mendorong perekonomian yang inklusif, untuk itu DBS melakukan pendanaan bersama dengan Kredivo.

Beri Kemudahan Kredit Kepada Nasabah

Kerjasama antara DBS Indonesia dan Kredivo ini, lanjutnya, dapat menjadi solusi pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan pendanaan bagi nasabah, dengan fasilitas kredit yang mudah, cepat, dan terjangkau terutama untuk segmen masyarakat emerging affluent atau orang kaya baru.

Dengan menggabungkan keahlian bank dan fintech, kerja sama ini menjadi cara bagi kedua belah pihak untuk menyediakan produk dan layanan keuangan yang inovatif dan lebih efisien. 

Tah hanya itu, kerja sama ini juga dapat membantu nasabah dalam merealisasikan impian dan perencanaan keuangannya yang lebih baik di masa mendatang.

Penulis: Nanda Aria

Editor: Anju Mahendra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Ramah Lingkungan, Indodax Jalin Kerjasama Pengelolaan Sampah dengan Startup Waste Management

JAKARTA, duniafintech.com – Indodax, perusahaan crypto exchange yang sudah berdiri selama delapan tahun lamanya, baru saja menjalin kerjasama Corporate Social Responsibility dengan Jangjo, perusahaan...

Bengkel Rekanan Autocillin se-Indonesia, Ini Daftar Lengkapnya

JAKARTA, duniafintech.com – Pada dasarnya, bengkel rekanan Autocillin termasuk ke dalam layanan asuransi mobil Adira. Artinya, bengkel-bengkel rekanan asuransi mobil Adira bisa juga melayani...

Rekomendasi Ide Bisnis Kekinian 2022 dengan Modal Rp1 Juta

JAKARTA, duniafintech.com – Ide bisnis kekinian 2022 menjadi sebuah hal yang penting bagi Anda yang sedang mencari peluang usaha dengan modal Rp1 juta. Saat...

Mau Beli Kacamata Pakai BPJS? Intip Cara dan Daftar Optiknya di Sini

JAKARTA, duniafintech.com – Tertarik untuk beli kacamata pakai BPJS Kesehatan? Sejatinya, caranya sangatlah gampang. Pasalnya, Anda bisa langsung datang ke optik yang bekerja sama...

Investasi Digital Mulai Tercoreng dan Perlu Segera Dipulihkan

JAKARTA— Ekosistem investasi digital tampaknya sekarang menjadi tercoreng karena beberapa pemberitaan buruk yang terjadi belakangan ini. Ini tentunya mengancam literasi keuangan digital. Padahal, masih...
LANGUAGE