25.8 C
Jakarta
Jumat, 12 Agustus, 2022

Kenali Tipe Investor Berdasarkan Profil Risiko dan Pilihan Investasinya

Tipe investor sangat penting untuk diketahui agar pilihan investasinya dapat ditemukan. Hal itu karena profil risiko masing-masing orang dalam berinvestasi tentu juga berbeda-beda.

Adapun profil risiko satu orang dan orang lainnya pada umumnya diketahui memang berlainan dan tidak pula dapat dipaksakan untuk menjadi seragam.

Pengertian profil risiko, secara umum, yaitu tingkatan seberapa besar seseorang mampu menoleransi suatu risiko investasi.

Penting diketahui, memang ada orang yang bisa menghadapi risiko tinggi, tetapi di sisi lain juga terdapat orang yang hanya mampu menghadapi risiko rendah. Namun, penting digarisbawahi, satu profil risiko tidak lebih baik ketimbang yang lain.

Seseorang dapat menentukan sarana investasi yang akan dipilihnya berdasarkan profil risiko itu. Pasalnya, tidak semua sarana investasi cocok bagi orang dengan profil risiko tertentu. Meski demikian, bukan berarti risiko tersebut harus dihindari, tetapi seharusnya justru dikelola dengan baik dan tepat.

Tipe Investor Berdasarkan Profil Risiko

Secara umum, profil risiko yang diketahui adalh konservatif, moderat, dan agresif. Inilah tipe-tipe investor berdasarkan profil risiko dan pilihan investasinya:

1. Investor dengan Profil Risiko Agresif

Berani menempatkan sebagian besar dananya dalam sarana investasi yang berisiko tinggi, seperti saham atau reksa dana saham, merupakan salah satu ciri dari investor dengan profil risiko agresif.

Biasanya, investor agresif mengincar keuntungan yang juga tinggi, sebagaimana risikonya yang juga tinggi. Potensi kerugian yang dihadapi oleh investor agresif pun tidak kalah tinggi. 

Pada investor tipe ini, prinsip high risk high return bisa dengan “mudah” dicermati. Investor agresif dalam beberapa kasus diketahui tidak menempatkan seluruh dananya ke instrumen investasi yang berisiko tinggi sebab sebagian kecil dananya juga akan ditempatkannya di instrumen lain dengan risiko lebih rendah. Misalnya, di deposito, sebagai bagian dari diversifikasi.

Adapun dana disimpan di deposito atau simpanan juga dilakukan sebagai antisipasi apabila terjadi gejolak pasar saham. Dana ini digunakan untuk berbagai tujuan, antara lain, membeli saham di harga rendah ketika terjadi market crash. Di sisi lain, juga sebagai dana cadangan bagi keperluan sehari-hari.

2. Investor dengan Profil Risiko Moderat

Biasanya, investor dengan profil risiko moderat ini akan memadukan pilihan investasinya dalam sarana investasi yang berisiko tinggi serta berisiko rendah.

Melalui strategi tersebut, sang investor akan mengincar keuntungan yang relatif tinggi dan juga dalam upaya menekan risiko yang ada. Investor ini pun biasanya bukan hanya berinvestasi saham, melainkan juga membeli obligasi atau reksa dana campuran.

Di samping potensi pendapatan tinggi dari saham, investor moderat pun mengincar pendapatan tetap dari obligasi. Adapun jenis investor moderat ini tidak lebih berani ketimbang investor agresif, tetapi ia akan cenderung lebih berani daripada investor konservatif.

Pada umumnya, investor moderat ini menginginkan keuntungan yang lebih tinggi ketimbang produk simpanan bank, tetapi dengan risiko yang terjaga.

3. Investor dengan Profil Risiko Konservatif

Memilih sarana investasi yang berisiko rendah, seperti deposito atau reksa dana pasar uang, adalah ciri dari investor dengan profil risiko konservatif.

Tujuan investasi dari investor tipe ini, yaitu mengupayakan uangnya terus tumbuh, setidaknya di atas inflasi tahunan, tetapi tidak dengan pertumbuhan yang sangat tinggi. Biasanya, produk investasi yang dipilih investor konservatif adalah deposito atau reksa dana pasar uang.

Bunga deposito, khususnya di bank Badan Usaha Milik Negara atau BUMN, diketahui lebih rendah ketimbang kupon atau imbalan dari Surat Berharga Negara (SBN). Adapun bunga deposito sering kali mengikuti besaran suku bunga acuan, yang secara berkala diumumkan oleh Dewan Gubernur Bank Indonesia.

Ringkasnya, ketika suku bunga acuan naik, bunga deposito ikut naik, demikian sebaliknya.  Deposito ini bukan hanya di bank umum, melainkan juga terdapat di Bank Perkreditan Rakyat atau BPR.

Di sisi lain, sejumlah produk reksa dana pasar uang pun memiliki kinerja yang lebih tinggi ketimbang deposito. Meski begitu, risikonya paling rendah di antara berbagai jenis reksa dana lainnya, seperti reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, atau reksa dana campuran.

 

Penulis: Kontributor
Editor: Anju Mahendra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Cara Bayar Indihome Pakai Shopee PayLater, Gampang Loh!

JAKARTA, duniafintech.com – Cara bayar Indihome pakai Shopee PayLater dalam ulasan di bawah ini penting untuk diketahui. Caranya pun gampang loh! Tentunya, sebagai pelanggan Shopee,...

Berita Kripto Hari Ini: Harga Kripto Ngegas, Pasar Kembali Pulih? 

JAKARTA, duniafintech.com - Berita kripto hari ini mengulas kondisi pasar kripto yang merangkak naik. Harga kripto jajaran teratas tampak terus menguat. Bitcoin, Ethereum hingga Dogecoin...

Berita Fintech Indonesia: Pinjaman Uang Bisa Dicicil Bulanan

JAKARTA, duniafintech.com – Berita fintech Indonesia terbaru akan membahas tentang pinjaman uang secara online yang bisa kamu cicil secara bulanan. Seperti diketahui, keperluan yang mendesak...

Cara Buka Tabungan BCA Dollar Terbaru dan Daftar Biayanya

JAKARTA, duniafintech.com – Cara buka Tabungan BCA Dollar berikut ini penting diketahui jika kamu memang tertarik dengan jenis tabungan yang satu ini. Sebagaimana diketahui, BCA...

OJK Keluarkan 671 Sanksi Kepada Pelaku Pasar Modal

JAKARTA, duniafintech.com - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar mengungkapkan sebanyak 671 surat sanksi, serta selain itu, OJK juga menerbitkan 12...
LANGUAGE