31.8 C
Jakarta
Sabtu, 2 Juli, 2022

Memahami Pendekatan Value Investing dalam Analisis Saham

Sebagaimana diketahui, terdapat 3 strategi pendekatan dalam investasi saham, yakni value investing (membeli saham undervalue), growth investing, dan income investing.

Strategi atau membeli saham undervalue sendiri termasuk sudah populer di Indonesia. Hal itu karena banyak orang terkaya dunia, misalnya Warren Buffett, yang berhasil meraih kekayaannya lewat strategi investasi tersebut.

Menerapkan metode membeli saham undervalue dalam hal analisis saham bisa memberikan second opinion yang ideal bagi siapa saja. Diketahui, investasi saham saat ini sedang menjadi tren mendulang profit yang diminati banyak orang.

Terlebih lagi, membuka rekening efek atau rekening saham sudah sangat mudah. Karena itu, saat ini orang-orang dengan mudah dapat menjadi investor saham. Memang, berinvestasi saham itu sangat menguntungkan karena pengembalian atau return-nya bisa tembus hingga 20 persen per tahun.

Akan tetapi, keuntungan tersebut dapat dinikmati asalkan investor saham telah membekali diri dengan pengetahuan soal analisis fundamental dan analisis teknikal. Di samping itu, juga perlu ditambah dengan pengetahuan soal cara mengkategorikan saham berdasarkan kapitalisasi pasarnya.

Di sisi lain, investor saham pun harus tahu gaya berinvestasi alias cara berinvestasi yang dilakukannya. Terdapat beberapa gaya investasi yang membedakan investor yang satu dengan investor saham yang lainnya.

Investor Saham Gaya Value Investing

Strategi membeli saham undervalue ini adalah gaya berinvestasi saham dengan melihat saham dari fundamentalnya yang tercermin dari laporan tahunan (annual reports) dan laporan per kuartal (quarterly reports).

Investor saham dengan gaya ini umumnya mencari saham yang punya harga murah. Adapun metode ini menemukan saham yang sedang berada di kondisi “salah harga”, untuk kemudian menjualnya di pasar ketika harga telah normal.

Murah yang dimaksud sini bukan hanya dilihat dari nominalnya, melainkan juga dari nilai sahamnya apabila dibandingkan dengan indikator-indikator lain, seperti laba dan nilai buku perusahaan.

Alasan Memilih Value Investing

Strategi ini sudah teruji di pasar modal selama puluhan tahun. Di Indonesia, penerapannya sudah banyak dilakukan oleh para investor, individu, atau layanan berbayar yang menawarkan dan menjanjikan pengembalian tinggi atau bahkan keuntungan puluhan hingga ratusan persen hanya dalam beberapa bulan.

Keunggulan Membeli Saham Undervalue

  1. Bukan hanya untuk orang yang bermodal besar

Untuk diketahui, siapa saja dapat menggunakan teknik investing ini alias bukan hanya untuk mereka yang bermodal besar. Modal yang terbatas pun dapat digunakan pada teknik ini

Namun, perlu diingat bahwa Anda harus tetep dapat membaca dan belajar mengenai kondisi fundamental sebuah perusahaan.

  1. Mengoptimalkan the power of compounding

Compounding adalah kemampuan investasi untuk bunga yang berlipat ganda atau istilahnya bunga yang berbunga.  Anda perlu memahami bahwa seiring berjalannya waktu, investasi mengalami pertumbuhan eksponensial sebagai dampak pertumbuhan harga saham dan dividen yang dibagikan.

  1. Investasi yang teruji

Metode investing yangs satu ini telah diimplementasikan oleh Warren Buffet selama berpuluh-puluh tahun dan menjadikannya salah satu orang terkaya di dunia. 

  1. Risiko lebih rendah

Dengan metode ini, Anda akan memperoleh risiko yang lebih rendah dengan memaksimalkan nilai yang diperoleh. Adapun implementasinya tentu saja khusus untuk jangka panjang sehingga Anda dapat terbebas dari fluktuasi pasar yang sering terjadi dalam jangka pendek.

Keterbatasan Membeli Saham Undervalue

  1. Sulit mengukur intrinsic value

Pada dasarnya, intrinsic value merupakan nilai sebenarnya yang ada di sebuah saham yang Anda beli. Biasanya, disebut nilai wajar yang penentuannya sulit untuk diukur, terlebih adanya penggunaan metode yang berbeda.

Adapun cara pengukurannya sangat bergantung pada informasi yang dapat diakses oleh investor. Anda mungkin memakai data A, B, dan C, tetapi investor lain justru menggunakan data X, Y, dan Z.

  1. Keterbatasan historical valuation

Untuk diketahui, salah satu alat yang digunakan pada strategi ini adalah laporan keuangan. Penyusunannya dilakukan berdasarkan kinerja historis atau kinerja masa lalu perusahaan. Kinerja masa lalu ini tidak dapat menjamin kinerja di masa mendatang dan ada hal yang bisa diukur oleh estimasi dari manajemen. 

Perhatikan Hal Ini untuk Menjadi Value Investor

Adapun keberhasilan seorang investor tidak lepas dari penerapan metode ini yang dilakukan dengan sebaik-baiknya, dengan poin-poin sebagai berikut.

  1. Memilih teknik analisis

Teknik analisis sangat mempengaruhi keberhasilan dan teknik yang biasa dipakai, yakni analisisi top-down untuk melihat kondisi fundamental perusahaan yang menjadi incaran yang dilanjutkan dengan pengamatan pergerakan saham hingga daya beli masyarakat.

Sementara itu, analisis bottom-up adalah menilai saham dari bawah ke atas yang bergantung pada investor yang bertanggung jawab atas dana investasi Anda.

  1. Pemantauan bidang yang sedang tren

Adapun memilih saham perusahaan yang sedang tren sangat membantu, misalnya pemilihan saham perusahaan perkapalan yang sahamnya melambung berkat masifnya pembangunan infrastruktur di periode presiden saat ini.

  1. Timing pembelian saham yang tepat

Untuk diketahui, waktu membeli saham yang pas untuk strategi membeli saham undervalue adalah sewaktu harganya telah murah.

  1. Melakukan pemantauan

Di samping memahami cara analisis dalam membeli saham, Anda juga harus bisa mengawasi saham yang ada di portofolionya. Yang sejatinya harus dipantau dalam hal ini adalah kinerja perusahaan.

Adapun yang dimaksud dengan kinerja di sini adalah laporan keuangan, yang bisa diperoleh dari website perusahaan dan sumber lainnya, misalnya website IDX atau RTI Infokom.

  1. Menentukan waktu yang tepat untuk menjual saham

Untuk waktu yang tepat untuk menjual saham adalah ketika ada salah satu perusahaan yang sahamnya sudah dibeli mengalami kerugiaan dan masalah serius. Meski demikian, Anda tidak boleh gegabah dan harus tetap melakukan analisis mendalam.

Demikianlah uraian tentang tipe investor saham dengan metode value investing. Anda pun bisa memilih tipe-tipe lainnya sesuai dengan kondisi masing-masing.

 

Penulis: Kontributor

Editor: Anju Mahendra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Tak Konsisten, Rusia Batalkan Rencana Pembayaran Ekspor Minyak Pakai Bitcoin

JAKARTA, duniafintech.com - Pemerintah Rusia membatalkan rencana sebelumnya untuk menerima pembayaran Bitcoin untuk ekspor minyak. Kementerian keuangan negara itu menganggap bitcoin sebagai opsi pembayaran...

Dijuluki Ratu Kripto, Ternyata Perempuan Ini Tipu Investor Sampai Rp60 Triliun

JAKARTA, duniafintech.com - FBI menambahkan Dr. Ruja Ignatova, yang memproklamirkan diri sebagai 'Cryptoqueen' atau ratu kripto ke dalam daftar Sepuluh buronan Paling Dicari. Bahkan lembaga...

Menyasar Timur Indonesia, Pemerintah Tambah Kuota Ekspor Produsen Minyak Goreng 

JAKARTA, duniafintech.com - Pemerintah akan memberikan insentif berupa penambahan kuota ekspor bahan baku minyak goreng bagi produsen yang memasok minyak goreng ke wilayah Indonesia...

Asuransi Mobil Bekas, Segini Besaran Preminya

JAKARTA, duniafintech.com – Kehadiran asuransi mobil bekas tentunya akan memberikan proteksi sekaligus kenyamanan bagi pemilik kendaraan. Bukan hanya untuk mobil baru, asuransi mobil memang sangat...

HFIS BPJS Kesehatan, Begini Cara Menggunakannya

JAKARTA, duniafintech.com – Aplikasi HFIS BPJS Kesehatan merupakan aplikasi yang digunakan untuk menghimpun data milik fasilitas kesehatan mitra BPJS. Aplikasi ini adalah akronim dari Health...
LANGUAGE