Vanuatu Pelopori Penggunaan Uang Digital Sebagai Bantuan Bencana

0
147
Vanuatu

DuniaFintech.com – Vanuatu dikabarkan menggunakan teknologi untuk menghadapi berbagai masalah di negara mereka. Rentan terhadap topan, memiliki banyak gunung berapi aktif serta seriusnya dampak perubahan iklim di negara Kepulauan Pasifik tersebut membuat mereka harus sigap berinovasi. Salah satunya adalah dengan menggunakan teknologi Blockchain untuk memberikan bantuan langsung kepada keluarga yang terdampak agar segera pulih dari bencana alam.

Sebagai negara dengan risiko bencana alam tertinggi di dunia, Vanuatu telah mengalami dua letusan gunung berapi besar dan dua topan kategori lima dalam dua setengah dekade terakhir. Bencana alam ini telah memengaruhi lebih dari setengah populasi.

Melalui penutupan perbatasan yang tegas, kepulauan Pasifik telah lolos dari infeksi Covid-19, tetapi hilangnya pendapatan pariwisata yang diakibatkannya telah menghancurkan ekonomi lokal. Meskipun mereka sudah terbiasa melawan bencana, namun tak membuat Vanuatu berhenti mencari jalan baru untuk menuju pemulihan.

Baca juga:

Peluncuran dan Penggunaan Unblocked Cash

Vanuatu memelopori Unblocked Cash, sebuah proyek pengembangan berbasis seluler menggunakan teknologi Blockchain bersama dengan kartu ketuk dan bayar, untuk memberikan bantuan langsung kepada keluarga yang pulih dari bencana atau kesulitan keuangan akut.

Kartu tersebut dapat ‘diisi’ dengan uang, untuk berfungsi seperti kartu debit, memungkinkan keluarga yang terdampak bencana untuk langsung membeli makanan, obat-obatan, pakaian, dan persediaan darurat lainnya, bahkan perangkat keras untuk membangun kembali rumah yang hancur.

Sarah Hart, kepala kas Pasifik dan mata pencaharian untuk Oxfam di Vanuatu, mengatakan kepada Guardian bahwa proyek tersebut muncul dari upaya untuk mengubah model pengiriman bantuan kemanusiaan dari barang menjadi uang tunai dan voucher.

Pendekatannya lebih ramah pasar dan memberikan fleksibilitas kepada keluarga yang terdampak bencana di Vanuatu.

Menurut para pendukungnya, metode pembayaran ini jauh lebih efisien. Secara tradisional, biasanya dibutuhkan biaya antara $ 2 – $ 3 untuk menyebarkan bantuan senilai $ 1 pasca bencana. Model digital mengurangi biaya distribusi bantuan hingga 75%. Menurut klaim Oxfam, hanya membutuhkan tiga menit untuk mendaftarkan setiap penerima baru di jaringan. Pendekatan yang lama bisa memakan waktu lebih dari satu jam.

(DuniaFintech/ Dita Safitri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here