26.3 C
Jakarta
Selasa, 29 September, 2020

Waspada! Kenali Tindak Kejahatan Siber Cybersquatting

DuniaFintech.com – Situs atau domain dari berbagai brand serta layanan digital lainnya kerap menjadi peluang untuk para pelaku kejahatan siber melancarkan aksinya. Salah satunya cybersquatting.

Jenis kejahatan virtual ini membangun domain dengan menggunakan nama yang mirip atau mendekati domain berbagai brand terkemuka dengan tujuan mengambil keuntungan dari para pengguna yang melakukan kesalahan akibat ketidakcermatan dalam menuliskan nama domain yang seharusnya. 

Meski pun saat ini cybersquatting tidak selalu bahaya bagi para pengguna internet, namun upaya ini termasuk ilegal di Amerika Serikat. Squatting domain seringkali dilakukan untuk tujuan penyerangan atau tindak kejahatan siber. 

Palo Alto Networks menemukan 13.857 squatting domain telah teregistrasi pada Desember 201 dengan rata-rata 450 squatting domain teregistrasi setiap harinya. Palo Alto Networks menemukan sebanyak 2.595 (18,59%) nama-nama squatting domain berbahaya, kerap mendistribusikan malware atau menyebarkan serangan phishing.

Ditemukan juga sebanyak 5.104 (36,57%) squatting domain yang berdasarkan hasil studi menghadirkan risiko tinggi bagi pengguna yang mengunjunginya. Disimpulkan, terdapat bukti kumpulan URL-URL berbahaya di dalam domain tersebut atau menggunakan bulletproof hosting.

Baca juga:

Jenis-jenis Cybersquatting

Palo Alto mempelajari teknik domain squatting termasuk typosquatting, combosquatting, level-squatting, bitsquatting dan homograph-squatting. Para aktor kejahatan dapat menggunakan teknik-teknik ini untuk mendistribusikan malware atau untuk melakukan kegiatan-kegiatan penipuan dan phishing.

Pslo Alto menyarankan perusahaan melakukan pemblokiran dan memantau lalu lintas mereka dengan cermat. Sementara, konsumen harus memastikan bahwa mereka mengetik nama domain dengan benar dan memeriksa ulang apakah pemilik domain terpercaya sebelum memasuki situs apa pun.

Palo Alto juga menemukan bahwa pembuat domain squatting mengincar target-target yang menguntungkan, seperti media sosial dan search engines populer, finansial, situs web bank maupun perbelanjaan. Di segmen tersebut para penggunanya dijadikan target pencurian dokumen-dokumen yang sangat penting melalui phishing dan scam

DuniaFintech/Fauzan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Ant Group Milik Jack Ma Naikkan Target IPO Jadi US$ 35 Miliar

DuniaFintech.com – Perusahaan afilisiasi Alibaba milik Jack Ma, Ant Group dikabarkan segera melantai di bursa efek (IPO) dan membidik dana segar US$35...

Seberapa Penting Pemanfaatan Teknologi di Bidang Asuransi? Simak!

DuniaFintech.com - Kemajuan dan digitalisasi melalui teknologi dinilai mampu mengubah sektor industri asuransi. Setidaknya hal itulah yang dikatakan oleh Presiden Direktur Mandiri...

Targetkan Milenial, MCAS Bersama Telkomsel Luncurkan DigiSaham Berbasis Whatsapp

Duniafintech.com - PT M Cash Integrasi Tbk, perusahaan distribusi digital  di Indonesia, MCAS mengumumkan peluncuran DigiSaham, platform informasi saham real-time berbasis WhatsApp...

Aplikasi TikTok Paling Banyak Diunduh Warga Indonesia Saat Pandemi

Duniafintech.com - Pada periode Agustus 2020, aplikasi selain non-game, TikTok paling banyak diunduh warga Indonesia. Data yang dirilis Sensor Tower menunjukkan jumlah...

Aplikasi Cicilan Tanpa Kartu Kredit ini Memudahkan Anda Dalam Bertransaksi Online, Ini Pilihannya

Duniafintech.com - Cicilan tanpa kartu kredit adalah salah satu produk Fintech yang popular saat ini. Hadirnya fintech dengan aplikasi kredit online yang...
LANGUAGE