29.6 C
Jakarta
Selasa, 16 April, 2024

3 Hal Ini Perlu Diatasi Agar Tak Terjadi NFT Bubble, Apa Itu? 

JAKARTA, duniafintech.com – Saat ini semakin banyak pelaku dan penikmat seni di Indonesia yang saat ini mulai sadar akan manfaat Non-Fungible Token (NFT). NFT juga masih menjadi perbincangan hangat di masyarakat, apalagi setelah karya Beeple “Everydays: The First 5000 Days” laku terjual sebesar USD 69,346,250 atau setara dengan Rp 9 triliun. 

Di sisi lain, NFT lokal dari Ghozali Everyday juga berhasil meraih popularitas dan terjual puluhan juta rupiah. Sejalan dengan perkembangan dan popularitas NFT, Chairwoman Asosiasi Blockchain Indonesia, Asih Karnengsih menyampaikan pandangannya tentang NFT.

Asih melihat fenomena NFT yang selalu menjadi perbincangan dan menimbulkan berbagai pertanyaan di masyarakat tentang apakah NFT ini hanya tren semata atau akan menjadi bubble ke depannya.

“Penting adanya literasi kepada masyarakat terkait implementasi dan manfaat dari teknologi blockchain dalam perkembangan ekonomi indonesia, salah satu contohnya adalah memanfaatkan NFT untuk membantu pelaku seni di Indonesia untuk mendapatkan apresiasi dan reward atas karyanya,” jelas Asih dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa (28/6/2022). 

Bubble adalah kondisi di mana sebuah aset yang bernilai tinggi akan turun drastis dan dengan cepat akan hilang dari pasaran.

Baca jugaProduk Dalam Negeri, Seniman dan Musisi Bisa Jual NFT di Artpedia

Oleh karena itu, Asosiasi Blockchain Indonesia mencatat ada tiga hal yang membuat NFT sangat mungkin menjadi bubble, apabila tidak segera diatasi dengan tepat. 

Pasar NFT Terus Menurun

Pasar NFT nyatanya mulai terlihat tenang dalam beberapa waktu terakhir. Menurut Bloomberg, nilai perdagangan rata-rata dari NFT telah turun drastis dalam beberapa waktu terakhir. 

Penjualan utama NFT yang turun secara nyata dalam satu bulan terakhir dan menurut data tercatat penjualan NFT turun sebesar 29 persen dan 1,17 persen dalam USD. Sedangkan, penjualan utama yakni penjualan yang berlangsung di website proyek NFT turun 73 persen, dan dalam USD turun 49 persen.

Menurut data Financial Times, volume transaksi harian untuk NFT di OpenSea turun 80 persen, yaitu menjadi USD 50 juta pada Maret 2022, dibandingkan pada Februari dengan total transaksi yang mencapai USD 284 juta. 

Pasa pelacak NFT DappRadar di OpenSea juga menunjukkan adanya penurunan jumlah trader dan volume secara keseluruhan, dimana volume perdagangan turun hampir 67 persen dan diikuti dengan trader yang turun sebanyak 23 persen.

Baca jugaKelas Standar BPJS Kesehatan, Apa Saja Fasilitas Ruang Inapnya?

Baca juga: Binance vs Indodax Dua Platform Jual Beli Kripto Raksasa, Manakah yang Lebih Baik? 

 

 

Penulis: Kontributor/Panji A Syuhada

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Iklan

ARTIKEL TERBARU

LANGUAGE