Staking crypto menjadi salah satu strategi populer untuk mendapatkan penghasilan pasif. Namun, tidak semua aset digital mendukung mekanisme ini karena hanya blockchain berbasis Proof-of-Stake yang bisa digunakan. Oleh karena itu, memahami pilihan aset terbaik sangat penting agar kamu bisa memperoleh reward optimal sekaligus menjaga risiko tetap terkendali.
Sekarang ini banyak aplikasi crypto yang menyediakan fitur staking, salah satunya adalah Pintu. Selain itu, Pintu dikenal sebagai aplikasi all in one yang menyediakan fitur trading crypto, investasi emas crypto, fitur xStocks yang memungkinkan kamu membeli saham tertokenisasisa dari perusahaan teknologi luar negeri, hingga ETF perak tertokenisasi.
Selain itu, Pintu banyak digunakan investor untuk memantau sinyal kripto hari ini, sehingga kamu bisa melakukan analisa teknikal dan fundamental untuk memprediksi pergerakan harga aset crypto di masa yang akan datang.
Apalagi jika kamu melakukan trading futures yang memiliki resiko lebih besar. Karena itu Pintu dikenal sebagai aplikasi trading future crypto Indonesia yang memberikan leverage hingga 25 kali. Namun jika kamu ingin menghindari resiko yang besar maka bisa melakukan staking.
Dalam beberapa tahun terakhir, staking semakin diminati karena memberikan alternatif selain trading aktif. Dengan mengunci aset pada jaringan tertentu, kamu bisa memperoleh reward secara berkala tanpa harus terus memantau pasar.
Meski demikian, setiap aset memiliki karakteristik berbeda, sehingga pemilihan koin menjadi faktor yang sangat menentukan hasil investasi. Berikut 10 aset crypto terbaik untuk staking di tahun 2026 yang bisa kamu pertimbangkan, diantaranya adalah:
1. Ethereum (ETH)
Ethereum tetap menjadi pilihan utama bagi banyak investor karena reputasinya sebagai jaringan terbesar kedua setelah Bitcoin. Saat ini, lebih dari sepertiga total suplai ETH telah di-stake, yang menunjukkan tingkat kepercayaan tinggi dari komunitas global.
Imbal hasil staking ETH memang tidak terlalu besar, biasanya berada di kisaran 2–4 persen per tahun. Namun, kekuatan utama Ethereum terletak pada stabilitas dan ekosistemnya yang luas, mulai dari DeFi hingga NFT.
Dengan demikian, ETH cocok untuk kamu yang mencari investasi jangka panjang dengan risiko relatif lebih rendah dibanding altcoin lainnya.
2. Polkadot (DOT)
Polkadot menawarkan salah satu reward staking tertinggi di antara aset besar, dengan rata-rata APY mencapai dua digit. Hal ini membuat DOT sangat menarik bagi investor yang mengejar imbal hasil tinggi.
Jaringan ini juga memiliki konsep unik berupa parachain yang memungkinkan berbagai blockchain saling terhubung. Namun, staking DOT membutuhkan komitmen lebih karena periode penguncian bisa mencapai hampir satu bulan.
Oleh karena itu, DOT lebih cocok bagi investor yang siap mengunci dana dalam jangka waktu tertentu demi mendapatkan reward maksimal.
3. Solana (SOL)
Solana dikenal dengan kecepatan transaksi tinggi dan biaya yang sangat rendah. Hal ini membuat jaringan ini semakin banyak digunakan, terutama untuk aplikasi DeFi dan NFT.
Dari sisi staking, SOL menawarkan imbal hasil yang cukup menarik, yaitu sekitar 6–9 persen per tahun. Selain itu, tidak ada batas minimum staking, sehingga sangat ramah bagi pemula.
Namun, proses unstaking membutuhkan waktu beberapa hari, sehingga kamu perlu mempertimbangkan likuiditas sebelum berinvestasi.
4. Cosmos (ATOM)
Cosmos sering disebut sebagai salah satu aset dengan imbal hasil staking tertinggi. APY yang ditawarkan bahkan bisa mencapai sekitar 20 persen, tergantung kondisi jaringan.
Konsep utama Cosmos adalah menciptakan “internet of blockchains”, di mana berbagai jaringan dapat saling terhubung. Meskipun menarik, risiko volatilitas harga tetap perlu diperhatikan.
Selain itu, proses unbonding membutuhkan waktu sekitar tiga minggu, sehingga dana tidak bisa langsung dicairkan.
5. Avalanche (AVAX)
Avalanche menjadi salah satu pesaing Ethereum yang terus berkembang. Dengan dukungan ekosistem DeFi dan proyek tokenisasi aset, AVAX memiliki potensi jangka panjang yang cukup besar.
Reward staking AVAX berada di kisaran 6–7 persen, yang tergolong kompetitif. Kamu juga bisa memilih menjadi validator atau delegator sesuai kemampuan.
Namun, periode penguncian yang cukup lama menjadi salah satu hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memulai staking.
6. Cardano (ADA)
Cardano menawarkan sistem staking yang fleksibel karena tidak mengunci aset secara penuh. Dengan kata lain, kamu tetap bisa mengontrol dana di wallet pribadi.
Imbal hasilnya memang tidak terlalu tinggi, biasanya sekitar 2–3 persen. Namun, pendekatan berbasis riset yang digunakan Cardano membuatnya dikenal sebagai proyek yang stabil dan aman. Oleh karena itu, ADA cocok bagi investor yang lebih konservatif.
7. TRON (TRX)
Selanjutnya ada TRON menjadi pilihan menarik bagi kamu yang ingin staking dengan risiko moderat. Dengan reward sekitar 3 persen, TRX menawarkan pendapatan yang cukup stabil.
Selain itu, jaringan TRON banyak digunakan untuk transaksi stablecoin karena biaya yang sangat rendah. Hal ini membuat ekosistemnya tetap aktif dan relevan. Namun, tingkat desentralisasi jaringan masih menjadi perdebatan di kalangan investor.
8. Polygon (POL/MATIC)
Pilihan lain yang bisa kamu pertimbangkan adalah Polygon berfungsi sebagai solusi scaling untuk Ethereum, sehingga membantu meningkatkan kecepatan transaksi dengan biaya lebih rendah.
Reward staking Polygon berada di kisaran 3–4 persen. Meskipun tidak terlalu tinggi, keunggulan utamanya adalah integrasi dengan ekosistem Ethereum yang sangat luas.
Dengan demikian, Polygon cocok bagi investor yang ingin mendapatkan eksposur ke ekosistem Ethereum dengan risiko lebih rendah.
9. Tezos (XTZ)
Tezos menawarkan pendekatan unik dengan sistem governance on-chain yang memungkinkan pembaruan jaringan tanpa hard fork.
Imbal hasil staking XTZ berada di kisaran 7–8 persen, yang cukup menarik. Proses staking juga relatif mudah karena kamu bisa mendelegasikan token tanpa menjalankan node sendiri. Namun, pertumbuhan ekosistemnya tidak secepat beberapa kompetitor lainnya.
10. BNB (BNB)
Pilihan terakhir yang bisa kamu pertimbangkan adalah BNB memiliki peran penting dalam ekosistem Binance. Meskipun reward staking hanya sekitar 1–2 persen, manfaat tambahan yang ditawarkan cukup besar.
Dengan staking BNB, kamu bisa mendapatkan diskon biaya trading serta akses ke berbagai produk eksklusif. Oleh karena itu, BNB lebih cocok digunakan sebagai aset utilitas dibandingkan sekadar instrumen yield.
Kesimpulannya, staking menjadi salah satu cara efektif untuk menghasilkan pendapatan pasif di dunia kripto. Namun, setiap aset memiliki karakteristik yang berbeda, mulai dari tingkat imbal hasil hingga risiko yang menyertainya.
Jika kamu mengutamakan keamanan, Ethereum dan Cardano bisa menjadi pilihan utama. Namun, jika ingin mengejar reward tinggi, Cosmos dan Polkadot lebih menarik. Sementara itu, Solana dan Avalanche menawarkan keseimbangan antara pertumbuhan dan imbal hasil.
Dengan memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing aset, kamu bisa membangun strategi staking yang lebih optimal dan sesuai dengan tujuan investasi kamu di tahun 2026.








