Industri fintech Indonesia mulai memasuki fase pertumbuhan yang lebih matang. Hal tersebut tercermin dari hasil Annual Member Survey (AMS) 2025–2026 Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH), yang menunjukkan 43 persen anggota telah berhasil membukukan laba.
Survei tersebut melibatkan 141 perusahaan anggota AFTECH. Capaian profitabilitas ini menjadi sinyal bahwa sebagian pelaku fintech mulai meninggalkan fase ekspansi agresif dan pembakaran modal menuju model bisnis yang lebih berkelanjutan.
Kondisi tersebut juga membuka peluang bagi perusahaan fintech untuk mengakses pendanaan melalui pasar modal, termasuk melalui penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO).
43 Persen Anggota AFTECH Sudah Cetak Laba
Berdasarkan hasil AMS 2025–2026, sebanyak 43 persen dari 141 perusahaan anggota AFTECH telah mencatatkan keuntungan.
Angka tersebut menjadi salah satu indikator penting mengenai perkembangan industri fintech nasional. Setelah sebelumnya banyak perusahaan fintech berfokus pada pertumbuhan pengguna dan ekspansi layanan, kini profitabilitas mulai menjadi salah satu perhatian utama.
Perubahan tersebut juga dapat membuka jalan bagi perusahaan fintech yang telah memiliki fundamental kuat untuk berkembang menjadi perusahaan terbuka.
Dengan menjadi perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), perusahaan fintech memiliki alternatif sumber pendanaan selain modal dari investor privat maupun perusahaan modal ventura.
BEI Buka Peluang Pendampingan Fintech Menuju IPO
Peluang tersebut mendapat respons positif dari BEI. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan pihaknya terbuka untuk bekerja sama dengan AFTECH dalam mempersiapkan perusahaan fintech yang memiliki kesiapan untuk masuk ke pasar modal.
Jeffrey mengatakan BEI dapat memberikan pendampingan kepada anggota AFTECH yang berpotensi melakukan IPO dalam satu hingga dua tahun mendatang.
“BEI bisa memberikan pendampingan kepada anggota AFTECH yang memang sudah siap untuk IPO.”
Menurutnya, kolaborasi antara BEI dan AFTECH dapat menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan proses go public kepada perusahaan fintech sekaligus mempersiapkan aspek-aspek yang diperlukan sebelum pencatatan saham.
Pendampingan menjadi penting karena keputusan melakukan IPO bukan hanya berkaitan dengan kebutuhan pendanaan, tetapi juga kesiapan tata kelola, transparansi, struktur perusahaan, hingga kemampuan memenuhi kewajiban sebagai perusahaan publik.
Adopsi AI Fintech Makin Tinggi
Selain profitabilitas, perkembangan industri fintech juga terlihat dari semakin luasnya pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Hasil survei AFTECH menunjukkan sebanyak 86 persen anggota telah mengadopsi AI dalam kegiatan operasional bisnisnya.
AI dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari analisis data, otomatisasi layanan pelanggan, manajemen risiko, hingga mendukung proses pengambilan keputusan.
Tingginya tingkat adopsi tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital tidak lagi sekadar menjadi strategi tambahan bagi perusahaan fintech, tetapi telah menjadi bagian dari operasional bisnis.
Bagi perusahaan yang nantinya melantai di bursa, pemanfaatan teknologi juga dapat menjadi salah satu faktor yang memperkuat daya saing dan efisiensi bisnis.
Fintech Mulai Berpeluang Masuk Bursa
Meningkatnya jumlah perusahaan fintech yang mencatatkan laba dapat mengubah persepsi terhadap industri tersebut.
Selama beberapa tahun terakhir, fintech kerap dikaitkan dengan strategi pertumbuhan cepat yang membutuhkan investasi besar. Namun, meningkatnya jumlah perusahaan yang mulai menghasilkan laba menunjukkan adanya pergeseran menuju model bisnis yang lebih berkelanjutan.
Jika tren tersebut berlanjut, perusahaan fintech berpotensi menjadi sumber emiten baru bagi pasar modal Indonesia.
Bagi BEI, kehadiran lebih banyak perusahaan teknologi finansial di bursa juga dapat memperluas pilihan investasi bagi investor sekaligus meningkatkan representasi sektor ekonomi digital dalam pasar modal nasional.
Namun, tidak semua perusahaan yang telah mencatatkan laba otomatis siap melakukan IPO. Perusahaan tetap harus memenuhi berbagai persyaratan dan memiliki kesiapan dari sisi tata kelola, laporan keuangan, manajemen, serta strategi bisnis jangka panjang.
Baca juga :
BEI Sudah Dorong Program Go Public
Upaya BEI untuk mendorong perusahaan masuk ke pasar modal juga telah dilakukan melalui berbagai program pendampingan.
Salah satunya adalah kerja sama dengan Kementerian Ekonomi Kreatif melalui program roadshow Workshop Go Public dan coaching clinic bagi pelaku usaha ekonomi kreatif melalui program KreatIPO.
Program tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman pelaku usaha mengenai pasar modal sekaligus membuka akses pendanaan melalui bursa.
Pendekatan serupa berpotensi diterapkan kepada industri fintech melalui kolaborasi BEI dan AFTECH. Dengan adanya pendampingan sejak awal, perusahaan dapat memahami berbagai persiapan yang diperlukan sebelum menjadi perusahaan publik.
Prospek IPO Fintech Indonesia
Dengan 43 persen anggota AFTECH telah mencatatkan laba dan 86 persen telah mengadopsi AI, industri fintech Indonesia menunjukkan perkembangan yang semakin matang.
Jika perusahaan-perusahaan dengan fundamental kuat mulai memanfaatkan pasar modal, IPO dapat menjadi tahap lanjutan dalam ekspansi bisnis fintech di Indonesia.
Kerja sama antara AFTECH dan BEI dalam satu hingga dua tahun ke depan juga berpotensi menjadi momentum penting untuk menghadirkan lebih banyak perusahaan teknologi finansial sebagai emiten di Bursa Efek Indonesia.
Pada akhirnya, semakin banyak fintech yang mampu mencatatkan laba dan memenuhi standar perusahaan publik akan memperkuat posisi industri tersebut sebagai bagian penting dari ekosistem keuangan Indonesia.







