32.7 C
Jakarta
Senin, 28 September, 2026

Harga Bitcoin Menuju US$100.000? Sinyal Fidelity Muncul Setelah BTC Tembus US$80.000

Harga Bitcoin menembus US$80.000 dan memunculkan sinyal Fidelity menuju US$100.000. Simak analisis Jurrien Timmer, double bottom dan target BTC US$300.000 pada 2029.

Peluang harga Bitcoin menuju US$100.000 kembali menjadi perhatian pasar setelah BTC berhasil menembus level teknikal penting di US$80.000.

Level tersebut sebelumnya menjadi batas yang diperhatikan oleh Director of Global Macro Fidelity Investments, Jurrien Timmer.

Menurut analisis Timmer, keberhasilan Bitcoin melewati US$80.000 dapat mengonfirmasi terbentuknya pola double bottom yang membuka skenario pergerakan menuju US$100.000.

Sinyal itu kini telah muncul.

Bitcoin bahkan sempat menyentuh sekitar US$87.500 sebelum mengalami koreksi. Pada Minggu, 27 September 2026, Bitcoin diperdagangkan sekitar US$84.647.

Dengan harga tersebut, Bitcoin hanya membutuhkan kenaikan sekitar 18% untuk mencapai US$100.000.

Namun, US$100.000 tetap merupakan target berdasarkan analisis teknikal, bukan kepastian harga Bitcoin selanjutnya.

Harga Bitcoin menuju US$100000 4

Bitcoin Tembus Level Penting US$80.000

Jurrien Timmer sebelumnya mengidentifikasi US$80.000 sebagai salah satu resistance penting Bitcoin.

Analisis tersebut didasarkan pada terbentuknya pola double bottom dalam grafik mingguan Bitcoin.

Double bottom merupakan pola teknikal yang terbentuk ketika harga mengalami penurunan ke sebuah area rendah, mengalami pemulihan, kemudian kembali turun ke area serupa sebelum akhirnya naik.

Secara visual, pola tersebut menyerupai huruf “W”.

Dalam analisis Timmer, dua titik terendah Bitcoin tahun ini berada di sekitar US$60.033 pada Februari dan US$57.742 pada akhir Juni 2026.

Setelah bertahan dari area tersebut, Bitcoin mulai membangun tren pemulihan.

Level US$80.000 kemudian menjadi resistance yang perlu ditembus untuk memberikan konfirmasi lebih kuat terhadap pola tersebut.

Kini Bitcoin telah berhasil melewatinya.

Mengapa US$100.000 Jadi Target Bitcoin?

Target US$100.000 bukan angka yang muncul secara acak.

Dalam analisis teknikal, target pola double bottom dapat diperkirakan berdasarkan jarak antara titik terendah pola dengan resistance atau neckline.

Bitcoin memiliki area bottom sekitar US$58.000–US$60.000.

Sementara resistance pentingnya berada sekitar US$80.000.

Setelah resistance tersebut ditembus, proyeksi pergerakan teknikal dapat membawa Bitcoin menuju kisaran US$100.000.

Namun, analisis teknikal tidak dapat menjamin harga akan benar-benar mencapai target tersebut.

Bitcoin masih dapat mengalami koreksi, konsolidasi atau bahkan kembali turun ke bawah area breakout.

Karena itu, kemampuan BTC mempertahankan US$80.000 menjadi bagian penting dari skenario bullish tersebut.

Bitcoin Sempat Tembus US$87.500

Harga Bitcoin menuju US$100000 3

Sejak analisis Timmer menggunakan data hingga 20 September, Bitcoin telah bergerak jauh lebih tinggi.

BTC menembus US$80.000 kemudian melanjutkan kenaikan hingga sekitar US$87.500.

Setelah mencapai area tersebut, Bitcoin mengalami koreksi dan berada di sekitar US$84.647 pada Minggu.

Dengan harga tersebut, jarak menuju US$100.000 semakin kecil.

Secara matematis, Bitcoin membutuhkan kenaikan sekitar 18% dari US$84.647 untuk mencapai US$100.000.

Pergerakan 18% memang cukup besar untuk aset keuangan tradisional.

Namun, bagi Bitcoin yang memiliki volatilitas tinggi, perubahan harga sebesar itu dapat terjadi dalam periode relatif singkat.

Tetap saja, volatilitas bekerja ke dua arah. Bitcoin juga dapat mengalami koreksi tajam dalam waktu singkat.

Bukan Cuma US$100.000, Fidelity Soroti Bitcoin US$300.000

Analisis Jurrien Timmer tidak berhenti pada US$100.000.

Untuk jangka lebih panjang, Timmer juga menggunakan model power law Bitcoin.

Model tersebut mencoba membaca hubungan antara perkembangan harga Bitcoin dengan waktu menggunakan pola pertumbuhan jangka panjang.

Berdasarkan model tersebut, kemampuan Bitcoin bertahan di sekitar US$60.000 dinilai dapat menjadi indikasi terbentuknya siklus bull market baru.

Dalam skenario power law tersebut, Bitcoin berpotensi menuju sekitar US$300.000 pada 2029.

Artinya, target US$100.000 lebih berkaitan dengan pola teknikal double bottom saat ini.

Sementara US$300.000 merupakan proyeksi jangka panjang berdasarkan model power law.

Keduanya merupakan model analisis dan bukan jaminan harga Bitcoin di masa depan.

harga bitcoin menuju US100,000

Apa Itu Power Law Bitcoin?

Power law merupakan model matematis yang digunakan untuk melihat hubungan antara dua variabel ketika perubahan salah satunya mengikuti pola pertumbuhan tertentu terhadap variabel lainnya.

Dalam konteks Bitcoin, model ini mencoba melihat perkembangan harga BTC sepanjang sejarahnya menggunakan skala logaritmik.

Model tersebut menghasilkan beberapa area yang dapat digunakan untuk menggambarkan tren jangka panjang Bitcoin.

Timmer telah menggunakan pendekatan ini selama beberapa tahun untuk melihat apakah Bitcoin sedang berada dekat area support, tren rata-rata atau area harga yang relatif tinggi dibandingkan pola historisnya.

Pada Juli 2026, Bitcoin bahkan sempat mendekati garis support power law sekitar US$58.000.

Area tersebut menarik karena garis bawah model tersebut sebelumnya bertepatan dengan beberapa fase bottom besar Bitcoin sejak 2015.

Bitcoin kemudian berhasil bertahan dan mengalami pemulihan.

Namun, pola historis tetap tidak menjamin pola yang sama akan terjadi pada masa mendatang.

Sikap Fidelity Sebelumnya Lebih Berhati-hati

Analisis terbaru Timmer menjadi menarik karena Fidelity sebelumnya menunjukkan pandangan yang jauh lebih hati-hati terhadap Bitcoin.

Pada akhir 2025, Timmer memperingatkan adanya kemungkinan Bitcoin memasuki periode bearish.

Ia ketika itu melihat peluang BTC bergerak menuju kisaran US$65.000 hingga US$75.000.

Bitcoin kemudian bahkan turun lebih dalam.

Pada Februari 2026, BTC mencetak titik rendah sekitar US$60.033 dan kembali turun hingga sekitar US$57.742 pada akhir Juni.

Karena itu, perubahan struktur harga Bitcoin setelah bertahan di sekitar US$60.000 menjadi bagian penting dari analisis terbaru Timmer.

Kini, setelah BTC berhasil menembus US$80.000, struktur teknikal yang diamati Fidelity berubah menjadi lebih konstruktif.

Trader Futures Tambah Taruhan Bullish

Optimisme terhadap Bitcoin juga terlihat di pasar derivatif.

Tom McClellan, editor The McClellan Market Report, mengamati data Commitments of Traders (COT) yang diterbitkan Commodity Futures Trading Commission (CFTC) Amerika Serikat.

Data tersebut dapat memberikan gambaran mengenai posisi pelaku pasar futures.

Menurut McClellan, spekulan seperti hedge fund baru-baru ini mencapai posisi net long tertinggi.

Net long berarti jumlah taruhan terhadap kenaikan harga lebih besar dibandingkan taruhan terhadap penurunan.

Yang menarik, posisi long tersebut justru bertambah ketika harga Bitcoin mengalami kenaikan.

Dalam kondisi normal, sebagian trader mungkin memilih mengambil keuntungan setelah harga naik.

Namun, peningkatan posisi long menunjukkan sebagian spekulan masih memperkirakan adanya potensi kenaikan lebih lanjut.

Baca juga :

Tapi Posisi Bullish Terlalu Besar Juga Punya Risiko

Besarnya posisi long tidak selalu menjadi kabar positif.

Ketika terlalu banyak trader berada pada sisi yang sama, pasar dapat menjadi rentan terhadap long squeeze.

Misalnya Bitcoin mengalami penurunan mendadak.

Trader yang menggunakan leverage tinggi dapat mencapai batas likuidasi.

Exchange kemudian menutup posisi long tersebut secara otomatis.

Penjualan paksa itu dapat menekan harga lebih rendah.

Harga yang turun kemudian memicu likuidasi trader berikutnya.

Situasi tersebut dapat menghasilkan efek domino seperti yang sering terjadi dalam pasar derivatif kripto.

Karena itu, meningkatnya posisi bullish menunjukkan optimisme pasar, tetapi sekaligus dapat meningkatkan risiko volatilitas.

Arus ETF Bitcoin Juga Perlu Diperhatikan

Selain indikator teknikal dan futures, arus dana ETF Bitcoin menjadi salah satu faktor penting untuk melihat keberlanjutan reli.

Bitcoin sebelumnya mendapatkan dorongan dari kembalinya permintaan institusional.

Pada 21 September, ETF Bitcoin spot Amerika Serikat dilaporkan menerima arus masuk sekitar US$999 juta dalam satu hari, menjadi salah satu inflow harian terbesar sejak Oktober 2025.

Arus tersebut berasal dari sejumlah produk yang dikelola perusahaan besar seperti BlackRock, ARK dan Fidelity.

Permintaan melalui ETF berbeda dengan short squeeze.

Short squeeze dapat menciptakan kenaikan cepat karena trader dipaksa membeli kembali posisi.

Sementara inflow ETF dapat mencerminkan masuknya modal baru ke produk investasi Bitcoin.

Karena itu, keberlanjutan arus dana institusional menjadi salah satu indikator yang penting untuk diperhatikan apabila Bitcoin ingin mempertahankan reli.

Level US$81.700 Jadi Batas Penting Lain

Selain US$80.000 dari analisis Fidelity, terdapat level lain yang sedang diperhatikan pasar.

BeInCrypto sebelumnya menyoroti garis bull market CryptoQuant yang berada di sekitar US$81.700.

Level tersebut mencerminkan rata-rata harga penutupan Bitcoin selama satu tahun.

Bitcoin saat laporan terbaru diterbitkan berada sekitar US$3.000 di atas level tersebut.

Artinya, BTC memang berada di wilayah yang lebih konstruktif, tetapi jaraknya belum terlalu jauh.

Jika Bitcoin kembali turun melewati US$81.700 dan kemudian US$80.000, kekuatan breakout dapat dipertanyakan.

Sebaliknya, kemampuan bertahan di atas area tersebut dapat memperkuat struktur teknikal yang saat ini menjadi dasar target US$100.000.

US$80.000 Menjadi Support Baru?

Dalam analisis teknikal terdapat konsep sederhana: resistance yang berhasil ditembus dapat berubah menjadi support.

Sebelumnya, US$80.000 menjadi area yang sulit dilewati Bitcoin.

Setelah BTC berhasil menembusnya, trader dapat memperhatikan apakah area tersebut mampu bertahan ketika terjadi koreksi.

Jika harga turun menuju US$80.000 tetapi pembeli kembali masuk, hal itu dapat menunjukkan permintaan masih kuat.

Sebaliknya, jika Bitcoin jatuh kembali dengan cepat ke bawah US$80.000, breakout sebelumnya berpotensi dianggap gagal.

BeInCrypto juga menekankan risiko tersebut.

Penurunan kembali di bawah US$80.000 dapat membatalkan dasar teknikal yang digunakan dalam skenario target US$100.000.

Berapa Harga Bitcoin Jika Tembus US$100.000 dalam Rupiah?

Jika Bitcoin mencapai US$100.000, nilainya dalam rupiah akan bergantung pada kurs dolar AS saat itu.

Sebagai ilustrasi, jika kurs berada di sekitar Rp17.000 per dolar AS, maka:

1 Bitcoin = sekitar Rp1,7 miliar.

Jika dolar berada di Rp17.500, maka:

1 Bitcoin = sekitar Rp1,75 miliar.

Angka tersebut hanya ilustrasi karena harga Bitcoin dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus berubah.

Namun, level US$100.000 tetap memiliki nilai psikologis besar.

Selain menjadi angka bulat penting, level tersebut akan menempatkan Bitcoin semakin dekat dengan area harga yang pernah dicapai sebelum koreksi besar sebelumnya.

Apakah Bitcoin Benar-benar Bisa Tembus US$100.000?

Secara teknikal, skenario tersebut kini mendapat dukungan setelah Bitcoin berhasil melewati US$80.000.

Namun, ada perbedaan besar antara “memiliki target US$100.000” dengan “pasti mencapai US$100.000.”

Target Fidelity berasal dari pembacaan pola double bottom.

Bitcoin masih membutuhkan permintaan yang cukup besar untuk bergerak sekitar 18% dari harga US$84.647 menuju target tersebut.

Beberapa indikator saat ini memang mendukung.

Bitcoin telah menembus resistance US$80.000, posisi futures spekulatif meningkat dan permintaan institusional melalui ETF sebelumnya menunjukkan peningkatan.

Namun, risikonya juga belum hilang.

Arus ETF dapat kembali melemah, posisi leverage dapat mengalami likuidasi, kondisi makroekonomi dapat berubah dan Bitcoin dapat kehilangan area support US$80.000.

Karena itu, level US$100.000 sebaiknya dipandang sebagai skenario teknikal yang kini terbuka, bukan prediksi yang pasti terjadi.

Kesimpulan

Sinyal Bitcoin menuju US$100.000 yang sebelumnya diperhatikan Fidelity kini telah muncul setelah BTC berhasil menembus resistance US$80.000.

Jurrien Timmer dari Fidelity menggunakan pola double bottom dengan titik rendah sekitar US$60.033 pada Februari dan US$57.742 pada akhir Juni.

Breakout di atas US$80.000 menjadi konfirmasi teknikal yang menurut analisisnya membuka target sekitar US$100.000.

Bitcoin kemudian bahkan sempat menyentuh sekitar US$87.500 sebelum terkoreksi ke sekitar US$84.647.

Pada harga tersebut, BTC membutuhkan kenaikan sekitar 18% untuk mencapai US$100.000.

Untuk jangka lebih panjang, model power law yang digunakan Timmer bahkan menunjukkan skenario Bitcoin US$300.000 pada 2029 setelah BTC mampu bertahan dari area US$60.000.

Namun, kedua angka tersebut tetap merupakan proyeksi berdasarkan model.

Investor perlu memperhatikan apakah Bitcoin mampu mempertahankan area US$80.000–US$81.700, perkembangan arus ETF Bitcoin, posisi futures serta kondisi makroekonomi.

Jika Bitcoin kembali jatuh ke bawah US$80.000, dasar breakout yang digunakan dalam skenario menuju US$100.000 dapat melemah.

Sebaliknya, jika US$80.000 berubah menjadi support dan permintaan baru terus masuk, level psikologis US$100.000 akan semakin menjadi perhatian pasar.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Target harga Bitcoin merupakan proyeksi berdasarkan analisis dan model tertentu, bukan jaminan harga di masa mendatang.

Iklan

mau tayang di media lain juga

ARTIKEL TERBARU