25 C
Jakarta
Sabtu, 28 Januari, 2023

Apa Itu Resesi Ekonomi Global? Sektor Inilah yang akan Naik, Turun, dan Stabil saat Resesi

JAKARTA, duniafintech.com – Apa itu resesi ekonomi global? Ini memang menjadi salah satu istilah yang sering kali muncul dan terdengar.

Kabar soal resesi global ini kian santer terdengar sebab hal ini sejatinya memang akan menjadi ancaman serius bagi seluruh negara di dunia.

Tahun 2023 diperkirakan akan terjadi resesi global, yang dipicu oleh kenaikan suku bank sentral secara global.

Untuk memahami lebih jauh soal resesi global, simak ulasan selengkapnya berikut ini.

Baca juga: Apa Itu Resesi Ekonomi Global: Gejala dan Cara Menanggulanginya

Mengenal Apa Itu Resesi Ekonomi Global

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendefinisikan resesi sebagai suatu kondisi di mana perekonomian suatu negara sedang memburuk, yang terlihat dari produk domestik bruto (PDB) negatif, pengangguran meningkat, maupun pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal berturut-turut. 

Mengutip Forbes, resesi adalah penurunan signifikan dalam kegiatan ekonomi yang berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.

Selama resesi ekonomi, orang kehilangan pekerjaan, perusahaan membuat lebih sedikit penjualan dan output ekonomi negara secara keseluruhan menurun. 

Sementara itu, melangsir Google Arts & Culture, menurut International Monetary Fund (IMF), resesi global adalah sebuah keadaan kenaikan (inflasi) Produk Domestik Bruto (PDB) dunia sesuai dengan indikator ekonomi makro dunia. 

Adapun termasuk di dalamnya tingkat pengangguran, produksi dalam industri, arus modal, konsumsi minyak, dan perdagangan saham.

Jika resesi global ini terjadi maka negara-negara maju akan menghadapi kontraksi, perekonomian negara-negara berkembang cenderung melambat, dan terjadi penurunan perdagangan saham dengan sangat cepat.

Meski sebenarnya tidak ada definisi yang resmi akan resesi global, tetapi sejumlah indikator di atas tadi sudah ditetapkan oleh IMF.

Adapun IMF adalah sebuah organisasi yang cukup memiliki kendali mengenai ekonomi moneter di seluruh dunia.

Apa Itu Resesi Ekonomi Global: Sektor yang Naik, Turun, dan Stabil

Melangsir koperasi.kulonprogokab.go.id, menurut Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin, ada beberapa sektor yang naik, turun, dan stabil saat resesi. Berikut ini penjelasannya.

  1. Sektor yang Naik

Eddy menyebut, beberapa sektor juga akan bersifat defensif ketika resesi.  Sektor-sektor ini diprediksi akan mengalami kenaikan ketika resesi, seperti barang baku dan konsumen primer.  Kemudian, kata dia lagi, energi kemungkinan juga naik, demikian halnya dengan kesehatan.

  1. Sektor yang Turun

Diterangkannya, sektor-sektor yang turun ketika resesi akan bergerak pada tiga kondisi, yakni cyclical, defensif, dan stabil atau stagnan. 

“Cyclical itu sangat sensitif terhadap perekonomian, kata dia, sehingga kalau perekonomian naik maka ia ikut naik, demikian sebaliknya.

Ia berpandangan, sektor properti jelas akan masuk kategori ini atau mengalami penurunan harga karena properti bukan kebutuhan prioritas pada saat-saat resesi. 

Transportasi dan logistik pun cyclical, sambung Edy, apalagi produk investasi kemungkinan menurun.

  1. Sektor yang Cenderung Stabil 

Eddy menambahkan, sektor perindustrian saat resesi akan tetap stabil, bahkan cenderung turun di kala terjadi resesi.  Di samping itu, sektor konsumen non-primer, teknologi, dan infrastruktur pun akan tetap stagnan sebab cukup kuat.

Apa Itu Resesi Ekonomi Global

Dampak dari Terjadinya Resesi Ekonomi Global

Dilangsir dari DailySocial.id, berikut ini beberapa dampak yang ditimbulkan oleh resesi.

1. Kenaikan Harga

Adapun salah satu dampak resesi yang langsung dirasakan oleh masyarakat Indonesia, yakni naiknya harga barang, baik dalam bentuk produk maupun layanan. 

Kenaikan harga dipicu oleh meningkatnya permintaan barang, tetapi suplainya tidak mencukupi sehingga rantai pasokan pun terganggu.

Baca juga: Apa Itu Resesi Ekonomi Global? Ketahui Penyebab dan Akibatnya di Sini

Sebenarnya, masyarakat Indonesia sendiri telah merasakan kenaikan harga kebutuhan pokok sejak awal tahun ini.

Hal itu lantas disusul oleh naiknya harga BBM sejak awal September lalu. Kenaikan harga ini juga mendorong tingkat inflasi tahunan Indonesia menyentuh angka 6 persen bulan lalu.

2. Nilai Tukar Rupiah Melemah

Di samping harga barang yang terus meningkat, dampak lainnya adalah melemahnya nilai tukar rupiah.

Melemahnya nilai rupiah bisa dipicu oleh kepanikan investor sebagai imbas dari terjadinya resesi.

Kepanikan investor menyebabkan mereka berbondong-bondong untuk menarik uangnya dari saham Indonesia maupun pasar obligasi.

Saat resesi terjadi, investor lebih memilih untuk menginvestasikan uang mereka ke aset investasi yang lebih aman, seperti emas.

3. Bisnis Terancam Gulung Tikar – Apa Itu Resesi Ekonomi Global

Adapun kenaikan harga barang sebagai dampak akibat terjadinya resesi membuat para pelaku bisnis harus memutar otak untuk mencari strategi agar dapat tetap bertahan

Berbagai upaya yang dilakukan, mulai dari menekan upah karyawan hingga terpaksa harus melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Kalau upaya itu masih belum berhasil menekan kerugian dan membuat mereka bertahan maka para pelaku bisnis bisa terpaksa menutup operasional bisnisnya. Hal itu dapat dilihat dari beberapa gerai ritel yang terpaksa harus ditutup.

4. Lapangan Pekerjaan Semakin Menipis

Saat resesi sudah mulai berimbas pada sektor bisnis, potensi terjadinya PHK akan semakin besar.

Hal itu yang lantas membuat lapangan pekerjaan kian menipis akibat daya saing untuk mendapatkan pekerjaan semakin tinggi.

Tentunya, angka pengangguran yang meningkat akan menimbulkan berbagai masalah baru.

5. Melemahnya Daya Beli Masyarakat

Dengan melambungnya harga barang dan meningkatnya jumlah pengangguran, konsumen menjadi kehilangan daya beli.

Kondisi itu cenderung membuat masyarakat lebih selektif dalam membelanjakan uangnya. Hal itu lantas akan menyebabkan penurunan omzet yang cukup signifikan bagi para pelaku bisnis, yang tentu saja berimbas terhadap operasional bisnisnya secara menyeluruh.

6. Meningkatnya Tingkat Suku Bunga – Apa Itu Resesi Ekonomi Global

Lazimnya, menaikkan tingkat suku bunga dilakukan oleh bank sentral di hampir setiap negara sebagai upaya dalam mengendalikan inflasi.

Menaikkan tingkat suku bunga dimaksudkan untuk menahan konsumsi masyarakat sehingga kenaikan harga bisa dikendalikan.

Akan tetapi, hal itu akan berdampak buruk terhadap masyarakat umum dan pelaku usaha yang melakukan pinjaman.

Baca juga: Apa Itu Resesi Ekonomi Global? Ini Jurus Ampuh Perkuat Strategi Bisnis di Tengah Resesi

Sekian ulasan tentang apa itu resesi ekonomi global yang perlu diketahui. Semoga bermanfaat.

Baca terus berita fintech Indonesia dan kripto terkini hanya di duniafintech.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Normalisasi APBN, Pemerintah tidak Tanggung Biaya Pasien Covid-19

JAKARTA, duniafintech.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa seluruh belanja APBN 2023 telah dinormalisasi atau normalisasi APBN. Artinya, seluruh belanja APBN...

Masa PPKM Dicabut, Pemerintah Rumuskan Kebijakan Pasca Pandemi

JAKARTA, duniafintech.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan terkendalinya laju kasus pandemi Covid-19 di Indonesia saat ini telah mendorong perbaikan kondisi perekonomian nasional yang...

Apa Itu Crypto Winter dan Bagaimana Dampaknya terhadap Investor?

JAKARTA, duniafintech.com – Apa itu crypto winter? Istilah ini kian santer terdengar belakangan ini, utamanya di kalangan peminat kripto. Sebagai informasi, saat ini di dunia...

AFPI Salurkan Pendanaan Mencapai Rp495,51 Triliun

JAKARTA, duniafintech.com - Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) mencatat sejak 2018 hingga November 2022, agregat penyaluran pendanaan mencapai Rp495,51 triliun yang disalurkan oleh...

Berita Ekonomi Hari Ini: Mulai Juni, RI Setop Ekspor Timah dan Tembaga

JAKARTA, duniafintech.com – Berita ekonomi hari ini mengulas terkait larangan ekspor timah dan konsentrat tembaga dan mineral lainnya. Menurut Presiden Joko Widodo (Jokowi), dipastikan bahwa...
LANGUAGE