27 C
Jakarta
Selasa, 21 Maret, 2023

BANK SENTRAL QATAR BERENCANA ADOPSI TEKNOLOGI MATA UANG VIRTUAL

duniafintech.com – Dalam satu tahun ke belakang, banyak negara tak hanya mengizinkan penggunaan mata uang virtual di dalam negeri. Tak sedikit juga yang menciptakan mata uang virtual sendiri untuk keperluan ekonomi negaranya. Israel, Rusia, China dan Dubai adalah beberapa di antaranya.

Berita terbaru datang dari Bank Sentral Qatar yang disebut-sebut akan melakukan langkah serupa. Dilansir dari Reuters, Bank Sentral Qatar akan mempertimbangkan topik mata uang virtual dan mungkin ada kesempatan di masa depan untuk mengenalkannya di Qatar, Gubernur Bank Sentral H E Sheikh Abdullah bin Saud al-Thani mengemukakan hal tersebut pada hari Selasa lalu.

Baca juga: duniafintech.com/digiro-in-aplikasi-baru-pt-pos-indonesia-yang-gunakan-sistem

Sheikh Abdullah membuat pernyataan tersebut saat menyampaikan pidato mengenai rencana Qatar untuk membangun sebuah pusat teknologi keuangan.

Ditanya mengenai sikapnya terhadap Bitcoin, Sheikh Abdullah mengatakan bank sentral tidak akan fokus pada mata uang virtual tunggal, namun akan melihat bagaimana cara terbaik untuk menerapkan teknologi mata uang semacam itu.

Gubernur juga mengatakan bank sentral tengah mengembangkan strategi untuk menciptakan pusat fintech untuk start-up.

Baca juga: duniafintech.com/kodak-mulai-terjun-ke-dunia-mata-uang-virtual-saham-naik-pesat

Sheikh Abdullah mengatakan bahwa pertumbuhan fintech bisa memaksa bank untuk mengubah model bisnis mereka. Setelah menghadapi persaingan, gangguan dari fintech bisa berarti meningkatnya tantangan bagi sektor perbankan ritel Qatar, katanya.

Bitcoin mengalami penurunan 18 persen pada hari Selasa dengan cukup drastis selama empat minggu berturut-turut mendekati $11.000 setelah adanya larangan perdagangan kripto di Korea Selatan. Ini merupakan peristiwa yang mendorong kekhawatiran tumbuh dari para pemilik mata uang virtual.

Baca juga: duniafintech.com/arab-saudi-masuki-ranah-blockchain-dan-cryptocurrency

Turunnya harga Bitcoin ini memicu aksi jual besar-besaran di pasar cryptocurrency secara umum, dengan saingan terbesar Ethereum yang juga turun 23 persen pada hari itu. Menurut situs perdagangan Coinmarketcap, Ripple yang dianggap mata uang ketiga terbesar juga mengalami penurunan sebanyak 33 persen.

Source: thepeninsulaqatar.com

Written by: Dita Safitri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Tips Beli Rumah KPR yang Perlu Dipertimbangkan, Cek Yuk!

JAKARTA, duniafintech.com – Tips beli rumah KPR atau Kredit Pemilikan Rumah (KPR) tentu penting diketahui jika kamu ingin mencoba skema ini. KPR sendiri telah menjadi...

Pinjol Cepat Cair dan Mudah Berizin OJK, Inilah Daftarnya

JAKARTA, duniafintech.com – Pinjol cepat cair adalah layanan finansial yang wajib diketahui saat mencari pendanaan cepat dan anti ribet. Saat ini, pengajuannya pun terbilang mudah...

BPH Migas Jamin Ketersediaan dan Akses Energi hingga Pelosok Negeri

JAKARTA, duniafintech.com - Produksi energi fosil yang terbatas BPH Migas jamin akses energi membuat ketahanan energi Indonesia cenderung rentan menyesuaikan dengan kondisi perekonomian global....

OJK Dorong Industri Jasa Keuangan Berikan Akses Pendanaan untuk Petani Sawit

JAKARTA, duniafintech.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong peningkatan pendanaan oleh Industri Jasa Keuangan (IJK) kepada kelompok petani khususnya perkebunan kelapa sawit dengan...

Transfer Makin Murah, ShopeePay dan DANA Gabung BI-FAST

JAKARTA,duniafintech.com - Bank Indonesia mencatat jumlah peserta BI-FAST bertambah, termasuk ShopeePay dan DANA, sebanyak 16 yang terdiri 14 bank dan 2 Lembaga Selain Bank...
LANGUAGE