Berita fintech kali ini membahas Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menyatakan penyaluran pembiayaan fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman daring (pindar) akan meningkat menjelang Ramadan. Proyeksi ini menjadi sorotan utama dalam Berita fintech, mengingat adanya pola kenaikan permintaan pembiayaan setiap tahun.
Ketua Umum AFPI, Entjik Djafar, menjelaskan bahwa lonjakan pembiayaan biasanya didorong oleh meningkatnya kebutuhan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk menopang aktivitas usaha. Menurutnya, tren ini lazim terjadi di berbagai segmen industri keuangan dan kembali menjadi perhatian dalam Berita fintech terkini.
“Seperti industri keuangan lainnya, pembiayaan pindar cenderung meningkat menjelang Ramadan, khususnya pada sektor UMKM dan ultra mikro,” ujar Entjik, dikutip dari Kontan, Selasa (27/1/2026).

Seiring potensi kenaikan tersebut, Entjik menekankan pentingnya langkah mitigasi risiko agar tingkat kredit macet atau TWP90 tidak ikut melonjak. Ia mengimbau seluruh penyelenggara fintech lending untuk tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan kepatuhan dalam melakukan analisis kelayakan kredit, sebuah pesan yang kerap digaungkan dalam Berita fintech.
Pandangan serupa juga disampaikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Regulator menilai Ramadan kerap menjadi momentum pendorong pertumbuhan pembiayaan fintech lending, sebagaimana tercermin dari data historis pada tahun-tahun sebelumnya. Pernyataan ini kembali menguatkan optimisme dalam Berita fintech nasional.
Agusman menjelaskan bahwa pada Ramadan 2024 atau Maret 2024, penyaluran pembiayaan fintech lending tumbuh 8,90% secara bulanan (month to month/mtm). Sementara pada Ramadan 2025 atau Maret 2025, pertumbuhan pembiayaan tercatat sebesar 3,80% mtm. Tren tersebut menunjukkan meningkatnya kebutuhan pembiayaan masyarakat selama periode Ramadan, menurut keterangan tertulis RDK OJK yang banyak dikutip dalam Berita fintech.
Pengamat sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menilai momentum Ramadan dan Lebaran memang berpotensi meningkatkan permintaan pembiayaan fintech lending. Pembiayaan tersebut umumnya digunakan untuk kebutuhan konsumsi harian, mudik, hingga kegiatan wisata, sebagaimana kerap dibahas dalam Berita fintech.
Baca juga :
Namun demikian, Nailul mengingatkan bahwa lonjakan permintaan juga berisiko diikuti peningkatan kredit macet. Siklus tersebut dinilainya terjadi hampir setiap tahun, sehingga penyelenggara fintech lending perlu memiliki strategi antisipasi yang matang.
Terkait kinerja industri, OJK mencatat outstanding pembiayaan fintech P2P lending mencapai Rp 94,85 triliun per November 2025, tumbuh 25,45% secara tahunan (YoY). Sementara itu, tingkat risiko kredit macet agregat atau TWP90 tercatat sebesar 4,33%, meningkat tajam dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 2,76%, sebuah data penting yang terus menjadi perhatian dalam Berita fintech.





