26.3 C
Jakarta
Selasa, 21 Mei, 2024

FEEDR.ID BANTU BRAND LOKAL MELEBARKAN SAYAP HINGGA PASAR INTERNASIONAL

duniafintech.com – Pada september 2017 lalu, lahirlah Feedr.id dari tangan Hadi Kuncoro dan tiga rekannya. Hadi selaku Chief Executive Officer Feedr.id  berharap, melalui Feedr.id, brand lokal dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan ikut terlibat di pasar internasional. Perusahaan startup  dengan moto We Feed The Globe ini menawarkan platform enabler solution dan service company untuk industri yang mau masuk ke dunia digital.

Baca juga : http://duniafintech.com/kumpulan-startup-pengelola-keuangan-pribadi-dan-bisnis-anda-tahun-2017/

Lebih dari sekadar membantu memasarkan produk, Feedr.id menyediakan solusi dari awal hingga akhir, agar perusahaan atau UMKM siap memasuki dunia digital. Oleh karena itu, dilansir dari kontan.co.id, Feedr.id menawarkan lima solusi dan rencananya akan ada solusi yang keenam pada akhir tahun nanti.

Baca juga : http://duniafintech.com/empat-manfaat-ini-ditawarkan-untuk-pengguna-dari-revo-pos/

Pertama, konsultasi membangun merek dan digital (branding and digital consulting). Hadi mengatakan, 25 Januari 2018 besok, startup-nya akan meresmikan Feedr Academy yang menawarkan pelatihan e-commerce dan digital. Meski belum diresmikan, Feedr.id sudah membuka kelas. Beberapa perusahaan besar telah bergabung di akademi ini, misalnya, Unilever, Wardah Cosmetics, dan Eigerindo Multi (Eiger).

Selain mendirikan akademi yang pesertanya mendapatkan sertifikasi, solusi pertama ini juga memberikan konsultasi bagi perusahaan tentang desain bisnis, teknologi, dan aplikasi bergerak apa yang cocok dengan produk mereka.

Kalau untuk akademi dan konsultasi, klien kami perusahaan. Sedangkan untuk UMKM, kami tawarkan training,” ungkapnya

Biaya pelatihan untuk UMKM sekitar Rp 3 juta hingga Rp 4 juta per modul. Sementara untuk akademi tergantung dari produk dari perusahaan.

Tidak ada yang gratis, memang. Karena menurut kami, jika kami gratiskan, maka mereka tidak akan serius,” tambahnya.

Kedua, pengembangan teknologi (technology development). Setelah model bisnisnya jadi, saatnya membangun teknologi. Solusi Feedr.id antara lain dengan membangun website, aplikasi,  metode pembayaran, bahkan hingga mengelola pengalaman pelanggan (customer experience).

Ketiga, pemasaran digital (digital marketing). Lewat solusi ini, Feedr.id akan berkontribusi dalam membantu perusahaan untuk memasarkan produknya lewat situs maupun akun sosial media mereka, seperti Instagram dan Facebook.

Keempat, pengelolaan saluran online/offline (multi online/offline channel management). Feedr.id, dalam hal ini akan membantu memasarkan produk ke saluran lainnya.

Misalnya, Manja Hijab milik Ivan Gunawan yang dikelola oleh Feedr.id juga dijual di toko online lain, seperti Lazada, Shopee, Bukalapak, serta Blibli.

Tapi nanti, tetap ada nama Feedr.id di balik produk yang kami bantu jual di saluran online tersebut,” ungkap Hadi.

Baca juga : http://duniafintech.com/action-pemerintah-terhadap-perkembangan-industri-digital-dan-startup/

Terdapat empat model saluran penjualan yang ditawarkan Feedr.id. Satu, saluran di marketplace. Dua, saluran di media sosial yang dilengkapi dengan fitur percakapan langsung (live chat), sehingga konsumen yang mau membeli tinggal pilih produk. Tiga, feeder.works yang merupakan reseller platform milik Feedr.id. Bagi pelaku usaha yang mau menjual produk ke dalam maupun luar negeri bisa menggunakan servis ini. Keempat, global cross border, warehousing & order fulfillment dan shipping management delivery. Menurut Hadi,  kemampuan melakukan transaksi ke dunia internasional menjadi alasan mengapa Feedr.id ada.

Hadi dan rekannya berharap bisa memasarkan produk lokal ke luar negeri.

Kami sudah masuk ke sembilan negara (termasuk Indonesia) dan sudah bekerjasama dengan 24 marketplace,” kata Hadi.

Feedr.id pun menggandeng 19 perusahaan logistik. Sebanyak 15 perusahaan di antaranya merupakan perusahaan domestik dan sisanya internasional.

Kelima, enabler manufacturing dan agregator UMKM. Layanan ini masih tahap pembicaraan dan penggodokan. Hadi menjelaskan solusi ini muncul dari keresahan UMKM yang kesulitan memproduksi barang ketika order semakin banyak.

Kami seperti penghubung antara UMKM dan industri manufaktur. Rencananya dirilis semester II dan bisa beroperasi kuartal IV tahun ini,” tambah Hadi.

Written by : Dinda Luvita

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Iklan

ARTIKEL TERBARU