26.7 C
Jakarta
Minggu, 26 Juni, 2022

Inilah Bagaimana Fintech Mengubah Industri Keuangan Beberapa Tahun ke Depan

duniafintech.com – Semakin pesat dan majunya teknologi di industri keuangan telah sangat mengubah bagaimana peta bisnis dari sektor perbankan maupun lembaga keuangan tradisional lainnya. Dalam dunia internasional, sangat sulit saat ini jika masyarakat harus membayangkan jika tidak ada yang namanya salah satu perusahaan Financial Technology (Fintech) terlama asal Amerika Serikat, Paypal.

Di Indonesia, dompet digital yang seperti Paypal pun sudah mulai bermunculan yang menjadi dasar dari gerakan Indonesia tanpa uang tunai, sebut saja Go-Pay milik Go-Jek, OVO, Dana, LinkAja, dan lain-lainnya.

Baca juga: Kebutuhan Sektor Produktif: Fintech Lending Naikkan Batas Pemberian Pinjaman

Berdasarkan prediksi dari beberapa ahli keuangan dunia, inilah bagaimana Fintech dan perusahaan teknologi keuangan lainnya akan mengubah industri keuangan dalam beberapa tahun mendatang:

Pembayaran Real-Time

CEO dari Fig Loans, Jeff Zhou, memprediksi bahwa pembayaran real-time akan secara radikal meningkatkan kemampuan pelanggan untuk mengelola arus kas dan saldo akun mereka. Hari ini, ada penundaan (terkadang hingga 3 hari kerja) antara melakukan pembayaran dan ketika dana tersebut muncul di saldo akun Anda.

Ini berarti pelanggan yang mengelola anggaran dengan ketat harus melompati serangkaian kekacauan mental untuk merekonsiliasi semua tempat dimana mereka menggunakan uang mereka. Hasilnya adalah waktu yang jauh lebih sulit untuk menghindari cerukan yang mahal dan biaya untuk pembayaran kembali.

Apapun yang Kurang dari Lima Bintang akan Bangkrut

Pendiri dan CEO Mylo, Phil Barrar, memprediksi bahwa produk keuangan dengan nilai (rating) kurang dari 5 bintang akan bangkrut.

Pengguna modern dan milenial saat ini lebih menginginkan kesederhanaan dan kemudahan dalam penggunaan produk, tetapi lembaga keuangan tradisional masih terkenal buruk dalam memberikan produk yang sesuai dengan ringkasan tersebut.

Fintech mengembangkan generasi baru inovator yang berfokus pada penetapan standar yang lebih tinggi untuk UX / UI dalam hal pengalaman finansial.

Itu sebabnya, kita akan melihat perusahaan Fintech menciptakan pengalaman pengguna yang hebat bagi pelanggan mereka dengan memprioritaskan orientasi cepat dan tanpa gesekan serta menjadikan pencarian layanan keuangan dan produk menjadi lebih menyenangkan dan mudah.

Baca Juga: Fintech Indonesia Gunakan SOP International: Belum Adanya UU Perlindungan Data Pribadi

Kecerdasan Buatan

CEO EarnUp, Matthew Cooper memprediksi bahwa industri keuangan terbaru akan menggunakan kecerdasan buatan untuk membantu konsumen.

Kecerdasan Buatan akan digunakan untuk membantu menemukan jadwal pembayaran terbaik, menawarkan konsumen produk baru yang sesuai dengan mereka, meningkatkan produk yang ada, meningkatkan efisiensi operasional proses bisnis dan mengejar penemuan baru yang menawarkan peluang bisnis yang inovatif.

Blockchain

CEO dan Pendiri Helcim, Nicolas Beique memprediksi bahwa Blockchain akan memainkan peran lebih besar dalam transaksi B2B (Bisnis ke Bisnis). Saya percaya bahwa itu bukan transaksi P2P (Peer-to-Peer) atau B2C (Bisnis ke Konsumen) yang akan melihat implementasi utama pertama dari teknologi blockchain. Ini akan menjadi transaksi B2B antara mitra dagang dan jaringan bank yang akan mengimplementasikannya dalam beberapa tahun mendatang (mungkin 2-3 tahun mendatang di benua Amerika Serikat).

Rebundling menjadi satu

CEO dan Co-Founder STASH, Brandon Krieg memprediksi bahwa kita akan melihat rebundling dari semua bagian lanskap Fintech/keuangan menjadi satu produk untuk membantu konsumen disepanjang hidup mereka yang benar-benar akan menjadi tren yang kuat di masa mendatang. One stop shopping untuk kehidupan finansial konsumen.

Robot Penasihat

Alexander Lowry, seorang profesor keuangan di Gordon Colleg memprediksi bahwa Robot Penasihat (Robo Advisor) akan banyak menjadi andalan di berbagai perusahaa, khususnya di industri keuangan.

Sekedar informasi, Robot Penasihat yang dimaksud oleh Lowry adalah Fund Manager tanpa tingkat komisi yang tinggi (layaknya Fund Manager manusia).

Image by Maklay62 from Pixabay

-Syofri Ardiyanto-

5 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Bursa Kripto Masih Belum Terealisasi, Langkah Mendag Zulkifli Hasan Ditunggu

JAKARTA, duniafintech.com - Keberadaan bursa kripto sebagai bagian dari ekosistem perdagangan legal aset kripto di Indonesia hingga kini belum berujung atau terealisasi.  Meski pucuk pimpinan...

Segera Siapkan Regulasi Investasi Kripto, Zulkifli Hasan Bilang Biar Lebih Aman

JAKARTA, duniafintech.com - Investasi aset kripto saat ini banyak digandrungi masyarakat Indonesia. Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus beradaptasi dengan tren ekosistem ekonomi digital itu. Hal itu...

Harga Volkswagen Polo hingga Daftar Dealernya

JAKARTA, duniafintech.com – Volkswagen Polo hingga kini masih menjadi salah satu mobil asal Jerman yang paling banyak diminati oleh masyarakat. Baik di Indonesia maupun di...

Estimasi Biaya Laparoskopi, Mahal Enggak Ya?

JAKARTA, duniafintech.com – Estimasi biaya laparoskopi di rumah sakit memang terbilang cukup menguras kantong, bahkan bisa mencapai puluhan juta. Laparoskopi sendiri adalah tindakan medis berupa...

Sesuai Syariat Islam, Begini Prinsip P2P Lending Syariah

JAKARTA, duniafintech.com - Pastinya P2P lending sudah tidak asing lagi di telinga, bukan? Seiring perkembangan zaman dan teknologi, dunia fintech syariah terus mengalami peningkatan....
LANGUAGE