30.7 C
Jakarta
Kamis, 8 Oktober, 2026

Harga Bitcoin Anjlok di Bawah US$83.000, Harga Minyak dan Yield Obligasi AS Melonjak

Harga Bitcoin turun di bawah US$83.000 pada 8 Oktober 2026. Lonjakan harga minyak, yield obligasi AS dan penguatan dolar menekan pasar kripto.

Harga Bitcoin kembali mengalami tekanan pada perdagangan Kamis, 8 Oktober 2026. Aset kripto terbesar di dunia tersebut turun menembus level US$83.000 seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi global.

Pelemahan Bitcoin terjadi bersamaan dengan lonjakan harga minyak mentah, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, serta penguatan dolar AS.

Berdasarkan laporan CoinDesk, Bitcoin diperdagangkan sekitar US$82.965, melemah hampir 1% dalam 24 jam terakhir.

Sementara itu, minyak mentah Brent melonjak menuju US$105 per barel dan yield Treasury AS tenor 10 tahun meningkat menjadi 5,352%.

Kombinasi tersebut membuat investor semakin berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin, Ethereum, dan saham teknologi.

Harga Bitcoin Turun di Bawah US$83.000

Bitcoin kembali kehilangan momentum setelah sebelumnya diperdagangkan di atas US$86.000 pada awal pekan.

Tekanan jual meningkat ketika pasar global mulai merespons kenaikan harga energi dan imbal hasil obligasi.

Dalam laporan terbaru, BTC berada di kisaran US$82.965, turun hampir 1% dalam sehari.

Penurunan tersebut menempatkan Bitcoin di bawah level psikologis US$83.000 yang sebelumnya menjadi salah satu area penting dalam pergerakan harga jangka pendek.

Sejumlah analis memperingatkan bahwa pelemahan berkelanjutan di bawah level tersebut dapat meningkatkan kemungkinan Bitcoin menguji area US$80.000.

Namun, target tersebut masih merupakan skenario teknikal, bukan kepastian harga berikutnya.

Prediksi Harga Bitcoin saat Ramadan 2026 (3)

Harga Minyak Dunia Melonjak hingga US$105

Salah satu faktor utama yang menekan pasar kripto adalah kenaikan harga minyak dunia.

Minyak mentah Brent dilaporkan naik sekitar 4% menjadi US$105 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat lebih dari 4% dalam 24 jam menjadi sekitar US$92,40 per barel.

Kenaikan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Harga energi yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya transportasi, distribusi, serta produksi barang dan jasa.

Akibatnya, tekanan inflasi berpotensi bertahan lebih lama.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pasar karena inflasi memiliki hubungan erat dengan kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve.

Mengapa Harga Minyak Naik Bisa Membuat Bitcoin Turun?

Hubungan antara harga minyak dan Bitcoin tidak selalu bergerak secara langsung.

Namun, keduanya dapat terhubung melalui ekspektasi inflasi dan kebijakan moneter.

Ketika harga minyak meningkat, investor mulai memperhitungkan kemungkinan inflasi kembali naik.

Jika inflasi tetap tinggi, Federal Reserve dapat mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama atau mengambil kebijakan yang lebih ketat.

Suku bunga tinggi biasanya mengurangi daya tarik aset berisiko.

Investor dapat memilih instrumen yang memberikan imbal hasil lebih stabil dibandingkan aset volatil seperti Bitcoin.

Karena itu, kenaikan harga minyak dapat menciptakan tekanan tidak langsung terhadap pasar kripto.

Meski demikian, hubungan tersebut bukan aturan mutlak. Bitcoin tetap dapat naik ketika minyak menguat apabila terdapat faktor permintaan lain yang lebih dominan.

harga Bitcoin di persimpangan

Yield Treasury AS Naik ke 5,352%

Selain harga minyak, pasar juga menghadapi tekanan dari kenaikan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Yield Treasury AS tenor 10 tahun meningkat menjadi 5,352%.

Sementara yield obligasi tenor 30 tahun bergerak di atas 5,73%.

Kenaikan yield tersebut mencerminkan tekanan jual di pasar obligasi.

Ketika harga obligasi turun, yield atau tingkat imbal hasilnya cenderung meningkat.

Situasi ini penting bagi Bitcoin karena yield obligasi pemerintah AS sering digunakan sebagai salah satu acuan imbal hasil dalam pasar keuangan global.

Ketika imbal hasil obligasi meningkat, investor memiliki alternatif investasi yang relatif lebih defensif dibandingkan aset berisiko.

Akibatnya, sebagian modal dapat berpindah dari saham pertumbuhan dan kripto menuju instrumen pendapatan tetap.

Dollar ke Rupiah Hari Ini

Dolar AS Menguat, Pasar Kripto Tertekan

Tekanan terhadap Bitcoin semakin besar setelah dolar Amerika Serikat kembali menguat.

Indeks Dolar AS atau US Dollar Index (DXY) meningkat menuju 102,4.

DXY digunakan untuk mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama dunia.

Ketika dolar menguat, kondisi likuiditas global dapat menjadi lebih menantang bagi sejumlah aset berisiko.

Bitcoin yang diperdagangkan secara global dalam denominasi dolar juga dapat merasakan dampaknya.

Namun, penguatan dolar tidak selalu menyebabkan Bitcoin turun.

Hubungan keduanya dapat berubah tergantung kondisi pasar, aliran modal, serta permintaan investor terhadap aset digital.

Dalam perdagangan kali ini, penguatan dolar terjadi bersamaan dengan kenaikan yield obligasi dan harga minyak.

Kombinasi ketiganya menjadi faktor yang memperburuk sentimen investor.

Saham Teknologi Ikut Mengalami Tekanan

Pelemahan tidak hanya terjadi di pasar cryptocurrency.

Saham teknologi Amerika Serikat juga menghadapi tekanan.

Kontrak berjangka Nasdaq 100 dilaporkan turun hampir 1%.

Hal tersebut menunjukkan investor sedang mengurangi eksposur terhadap sejumlah aset yang sensitif terhadap suku bunga dan kondisi likuiditas.

Saham teknologi biasanya memiliki valuasi yang sangat bergantung pada ekspektasi pertumbuhan keuntungan masa depan.

Ketika yield obligasi meningkat, nilai sekarang dari proyeksi keuntungan masa depan dapat menurun.

Kondisi ini dapat memberikan tekanan terhadap valuasi saham teknologi.

Bitcoin juga sering mengalami pergerakan searah dengan aset berisiko dalam periode ketika faktor makroekonomi mendominasi pasar.

Karena itu, koreksi Bitcoin saat ini tidak dapat dilihat hanya sebagai persoalan internal industri kripto.

Ethereum dan Altcoin Ikut Melemah

Pelemahan Bitcoin juga terjadi bersamaan dengan tekanan pada sejumlah aset kripto berkapitalisasi besar.

Dalam perdagangan sebelumnya, Ethereum sempat turun menuju kisaran US$2.570.

XRP juga mengalami koreksi menuju sekitar US$1,42, sedangkan Dogecoin turun ke bawah US$0,09.

Solana dan sejumlah altcoin lainnya turut menghadapi tekanan.

Kondisi tersebut menunjukkan pelemahan pasar bersifat cukup luas.

Ketika investor mengurangi risiko, altcoin dapat mengalami koreksi lebih tajam karena likuiditas dan kapitalisasi pasar yang berbeda dari Bitcoin.

Namun, persentase penurunan masing-masing aset tetap bergantung pada aktivitas perdagangan dan faktor spesifik setiap proyek.

Likuidasi Kripto Capai Sekitar US$550 Juta

Tekanan pasar juga diperburuk oleh likuidasi posisi perdagangan berleverage.

Menurut data CoinGlass yang dilaporkan CoinDesk, sekitar US$550 juta posisi perdagangan kripto berleveragedilikuidasi dalam periode sebelumnya.

Sebagian besar likuidasi menimpa trader yang memasang posisi long atau memperkirakan harga aset kripto akan naik.

Likuidasi terjadi ketika posisi trader tidak lagi memiliki jaminan yang cukup untuk menahan kerugian.

Exchange kemudian dapat menutup posisi tersebut secara otomatis.

Ketika banyak posisi long ditutup secara bersamaan, tekanan jual dapat meningkat.

Hal ini berpotensi menciptakan efek domino yang mempercepat penurunan harga Bitcoin dan altcoin.

Karena itu, penggunaan leverage tinggi dapat memperbesar risiko kerugian ketika pasar mengalami volatilitas mendadak.

Ketegangan Timur Tengah Menjadi Risiko Tambahan

Kondisi geopolitik juga menjadi perhatian investor.

Laporan mengenai kemungkinan peningkatan operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran, gangguan pasokan minyak, serta ancaman terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah meningkatkan ketidakpastian pasar.

Timur Tengah merupakan kawasan penting dalam perdagangan minyak global.

Gangguan terhadap produksi maupun distribusi energi dapat memicu perubahan harga minyak secara signifikan.

Jika ketegangan meningkat, harga minyak berpotensi tetap tinggi.

Sebaliknya, meredanya konflik dan pulihnya distribusi energi dapat membantu mengurangi tekanan terhadap harga minyak.

Bagi Bitcoin, perkembangan tersebut penting karena harga energi dapat memengaruhi ekspektasi inflasi, yield obligasi dan keputusan suku bunga.

Namun, arah konflik maupun dampaknya terhadap pasar masih sulit dipastikan.

Bitcoin US$80.000 Kembali Menjadi Perhatian

Setelah BTC turun di bawah US$83.000, investor mulai memperhatikan level US$80.000.

Analis FxPro sebelumnya menilai bahwa penurunan di bawah US$83.000 dapat membuka peluang pelemahan lebih lanjut menuju US$80.000.

Level tersebut menjadi area psikologis penting karena Bitcoin sebelumnya sempat membutuhkan momentum kuat untuk menembusnya.

Dalam analisis teknikal, area yang sebelumnya menjadi resistance dapat berubah menjadi support setelah harga berhasil melewatinya.

Namun, support tidak selalu mampu menahan tekanan jual.

Jika Bitcoin kembali mendekati US$80.000, trader akan memperhatikan apakah permintaan pembelian meningkat di area tersebut.

Sebaliknya, penurunan berkelanjutan di bawah US$80.000 dapat meningkatkan risiko koreksi yang lebih dalam.

Apakah Bitcoin Masih Bisa Kembali Naik?

Peluang pemulihan Bitcoin tetap terbuka, tetapi sangat bergantung pada perkembangan pasar.

Beberapa faktor yang dapat membantu pemulihan antara lain penurunan harga minyak, stabilisasi yield Treasury, pelemahan dolar AS, serta meningkatnya kembali permintaan investor terhadap Bitcoin.

Selain itu, arus dana ETF Bitcoin spot juga dapat menjadi salah satu indikator permintaan institusional.

Jika arus dana kembali meningkat, hal tersebut berpotensi memberikan dukungan terhadap pasar.

Namun, apabila harga minyak tetap tinggi dan yield obligasi terus meningkat, tekanan terhadap Bitcoin dapat bertahan lebih lama.

Karena itu, investor perlu memperhatikan faktor makroekonomi selain pergerakan grafik harga BTC.

Mengapa Bitcoin Belum Menjadi Safe Haven Sepenuhnya?

Bitcoin sering disebut sebagai emas digital karena memiliki suplai maksimal sebanyak 21 juta BTC.

Karakteristik tersebut membuat sebagian investor melihat Bitcoin sebagai aset yang berpotensi melindungi nilai kekayaan dalam jangka panjang.

Namun, perilaku harga Bitcoin tidak selalu sama dengan emas.

Ketika pasar menghadapi tekanan likuiditas, Bitcoin dapat mengalami penurunan bersamaan dengan saham teknologi.

Hal tersebut terlihat dalam perdagangan terbaru ketika yield obligasi, dolar, dan harga minyak meningkat.

Sementara Bitcoin melemah, emas tetap bertahan di atas US$4.100 per ons berdasarkan laporan pasar pada 8 Oktober.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa Bitcoin masih sering diperlakukan sebagai aset berisiko dalam kondisi pasar tertentu.

Narasi emas digital tidak berarti Bitcoin selalu menjadi tempat berlindung ketika pasar global mengalami tekanan.

Investor Perlu Memantau Tiga Indikator

Untuk memahami arah Bitcoin dalam beberapa hari ke depan, terdapat tiga indikator makroekonomi yang layak diperhatikan.

Pertama, harga minyak dunia. Penurunan harga Brent dapat membantu mengurangi kekhawatiran inflasi.

Kedua, yield Treasury AS. Stabilisasi imbal hasil obligasi dapat mengurangi tekanan terhadap aset berisiko.

Ketiga, kekuatan dolar AS. Perubahan indeks DXY dapat memberikan gambaran mengenai kondisi pasar valuta asing dan sentimen global.

Selain ketiga indikator tersebut, investor juga perlu memperhatikan volume perdagangan Bitcoin, likuidasi derivatif, serta perkembangan arus dana ETF.

Gabungan beberapa indikator biasanya memberikan gambaran yang lebih lengkap dibandingkan hanya mengandalkan satu faktor.

Kesimpulan

Harga Bitcoin turun di bawah US$83.000 pada Kamis, 8 Oktober 2026, di tengah meningkatnya tekanan terhadap aset berisiko global.

Bitcoin diperdagangkan sekitar US$82.965, sementara minyak mentah Brent naik menuju US$105 per barel.

Yield Treasury AS tenor 10 tahun meningkat menjadi 5,352% dan indeks dolar AS menguat ke sekitar 102,4.

Kombinasi kenaikan harga energi, yield obligasi dan dolar AS membuat investor lebih berhati-hati terhadap Bitcoin serta saham teknologi.

Pelemahan pasar kripto juga terjadi setelah likuidasi posisi perdagangan berleverage mencapai sekitar US$550 juta dalam periode sebelumnya.

Untuk jangka pendek, US$80.000 menjadi salah satu level penting yang diperhatikan analis.

Jika tekanan makroekonomi mereda dan permintaan Bitcoin kembali meningkat, peluang pemulihan tetap terbuka.

Namun, apabila harga minyak dan yield obligasi terus naik, Bitcoin dapat menghadapi tekanan tambahan.

Perkembangan ini memperlihatkan bahwa pergerakan Bitcoin tidak lagi hanya ditentukan oleh sentimen industri kripto, tetapi juga sangat dipengaruhi kondisi ekonomi dan pasar keuangan global.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi investasi. Harga Bitcoin dan aset kripto dapat berubah dengan cepat serta memiliki risiko volatilitas tinggi.

Iklan

mau tayang di media lain juga

ARTIKEL TERBARU