Harga Bitcoin (BTC) kembali mengalami tekanan setelah laporan inflasi Amerika Serikat (AS) menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar. Kondisi tersebut membuat investor semakin berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk mata uang kripto terbesar di dunia.
Pada perdagangan Rabu, 14 Oktober 2026, Bitcoin sempat jatuh ke bawah US$82.000 setelah data Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS diumumkan.
Berdasarkan laporan FXStreet, Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$81.707, melemah 1,6% dalam 24 jam pada saat laporan diterbitkan.
Penurunan tersebut membuat perhatian investor tertuju pada level psikologis US$80.000, yang menurut perusahaan analisis blockchain Glassnode menjadi salah satu area support paling penting bagi Bitcoin.
Namun, tantangan Bitcoin tidak hanya berasal dari inflasi. Pelemahan permintaan ETF Bitcoin spot dan potensi tekanan jual dari investor yang ingin mencapai titik impas juga dapat menghambat pemulihan harga.
Inflasi AS Naik 3,7%, Bitcoin Langsung Tertekan
Tekanan terhadap Bitcoin meningkat setelah Amerika Serikat mengumumkan data inflasi September 2026.
Inflasi utama AS tercatat sebesar 3,7% secara tahunan atau year-on-year (YoY), lebih tinggi dibandingkan proyeksi pasar sebesar 3,6%.
Sementara itu, inflasi inti yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi berada di level 2,6% secara tahunan.
Hasil tersebut memperlihatkan bahwa tekanan harga di Amerika Serikat masih bertahan.
Bagi pasar keuangan, inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.
Ketika inflasi meningkat, bank sentral berpotensi mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat untuk mengendalikan kenaikan harga.
Situasi tersebut dapat mengurangi daya tarik aset berisiko seperti Bitcoin.
Tidak lama setelah laporan CPI dirilis, harga BTC bergerak turun dan kehilangan level US$82.000.
Mengapa Inflasi Tinggi Bisa Membuat Bitcoin Turun?
Hubungan antara inflasi dan harga Bitcoin tidak selalu berlangsung secara langsung.
Namun, terdapat beberapa mekanisme yang dapat menjelaskan mengapa data inflasi AS memengaruhi pasar kripto.
Ketika inflasi meningkat, investor dapat memperkirakan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau mempertimbangkan pengetatan tambahan.
Suku bunga yang lebih tinggi dapat membuat obligasi pemerintah AS menjadi lebih menarik dibandingkan aset yang tidak menghasilkan bunga secara langsung.
Selain itu, kondisi keuangan yang lebih ketat dapat membatasi likuiditas dan mengurangi selera investor terhadap risiko.
Bitcoin termasuk aset yang sensitif terhadap perubahan sentimen pasar global.
Karena itu, data inflasi yang melampaui ekspektasi dapat memicu penyesuaian posisi investor, terutama pada pasar yang sebelumnya telah menghadapi volatilitas.
Meski demikian, pergerakan Bitcoin juga dipengaruhi faktor lain seperti permintaan ETF, aktivitas perdagangan derivatif, serta perubahan kepemilikan investor jangka panjang.

Glassnode Soroti Support Bitcoin US$80.000
Perusahaan analisis on-chain Glassnode mengidentifikasi US$80.000 sebagai salah satu level terpenting dalam struktur harga Bitcoin saat ini.
Menurut Glassnode, terdapat konsentrasi permintaan beli di sekitar US$80.000 hingga US$81.500.
Area tersebut menjadi perhatian karena banyak investor menempatkan order pembelian pada kisaran harga tersebut.
Dalam buku order perdagangan spot Binance, kelompok order beli terbesar dilaporkan telah bergeser dari sekitar US$81.000 menuju US$80.000.
Perpindahan tersebut menunjukkan bahwa sebagian permintaan pasar terkonsentrasi pada harga yang lebih rendah.
Namun, keberadaan order beli tidak otomatis menjamin bahwa support akan bertahan.
Order dapat berubah atau dibatalkan, sementara tekanan jual yang besar tetap dapat mendorong harga menembus area tersebut.
Karena itu, investor perlu memperhatikan respons harga Bitcoin ketika mendekati US$80.000.
Mengapa US$81.500 Juga Penting bagi Bitcoin?
Selain US$80.000, Glassnode menyoroti level US$81.500 sebagai area penting lainnya.
Level tersebut merupakan perkiraan basis biaya rata-rata kepemilikan Bitcoin oleh ETF spot yang terdaftar di Amerika Serikat.
Basis biaya menggambarkan rata-rata harga akuisisi aset.
Apabila Bitcoin diperdagangkan di atas basis biaya tersebut, rata-rata posisi kepemilikan yang dihitung melalui indikator itu berada dalam kondisi keuntungan belum terealisasi.
Sebaliknya, ketika harga turun di bawahnya, posisi tersebut secara agregat dapat memasuki wilayah kerugian belum terealisasi.
Hal ini penting karena perubahan posisi keuntungan dan kerugian dapat memengaruhi psikologi investor.
Glassnode mencatat Bitcoin sempat turun di bawah US$81.500 pada 8 Oktober dan 13 Oktober.
Namun, pada kedua kesempatan tersebut, BTC masih berhasil menutup perdagangan harian di atas level itu.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa area US$81.500 sebelumnya masih mampu dipertahankan pada penutupan harian.
Jika Bitcoin Jebol US$80.000, Harga Bisa Menuju US$78.000
Glassnode juga mengidentifikasi risiko apabila Bitcoin kehilangan support US$80.000.
Menurut analisis perusahaan, terdapat kelompok posisi perdagangan dengan risiko likuidasi di bawah level tersebut.
Apabila Bitcoin turun menembus US$80.000, tekanan jual tambahan dapat muncul akibat penutupan posisi leverage.
Kondisi tersebut berpotensi mempercepat penurunan harga.
Dalam skenario bearish, perhatian berikutnya akan tertuju pada area US$78.000, yang berada di sekitar indikator True Market Mean.
True Market Mean merupakan metrik on-chain yang digunakan untuk memperkirakan tingkat harga acuan berdasarkan aktivitas ekonomi jaringan Bitcoin.
Indikator tersebut dapat membantu analis memahami apakah harga pasar berada di atas atau di bawah tingkat valuasi tertentu.
Namun, US$78.000 bukan target penurunan yang pasti.
Level tersebut lebih tepat dipandang sebagai area yang berpotensi diuji apabila tekanan jual meningkat dan support sebelumnya gagal bertahan.
Resistance US$88.000 Jadi Hambatan Pemulihan Bitcoin
Di sisi atas, Glassnode menilai Bitcoin menghadapi hambatan penting di sekitar US$88.000.
Level tersebut berkaitan dengan basis biaya rata-rata investor yang membeli Bitcoin sekitar enam hingga 12 bulan sebelumnya.
Ketika harga mendekati basis biaya tersebut, sebagian investor berpotensi menjual aset untuk keluar dari posisi tanpa mengalami kerugian.
Fenomena tersebut dikenal sebagai tekanan jual dari investor yang berada di dekat titik impas atau break-even.
Jika banyak investor melakukan penjualan pada area harga yang sama, pemulihan Bitcoin dapat menghadapi resistance.
Karena itu, Glassnode menilai bahwa penutupan perdagangan di atas US$88.000 akan menjadi perkembangan penting untuk memperkuat prospek kenaikan.
Namun, breakout di atas resistance tetap perlu didukung oleh permintaan yang cukup kuat agar dapat bertahan.

Investor Bitcoin di US$100.000 Juga Berpotensi Menjual
Selain kelompok investor dengan basis biaya US$88.000, terdapat kelompok pemegang Bitcoin lainnya yang memiliki harga akuisisi lebih tinggi.
Glassnode mencatat investor yang membeli Bitcoin sekitar satu hingga dua tahun sebelumnya memiliki basis biaya rata-rata mendekati US$100.000.
Kelompok tersebut juga dapat menjadi sumber tekanan jual apabila harga BTC mengalami pemulihan lebih besar.
Sebagian investor mungkin memilih menjual ketika harga kembali mendekati modal awal mereka.
Kondisi tersebut dapat menciptakan lapisan resistance tambahan.
Dengan demikian, perjalanan Bitcoin menuju harga yang lebih tinggi tidak hanya ditentukan oleh kondisi makroekonomi.
Distribusi kepemilikan dan perilaku investor berdasarkan harga pembelian juga menjadi faktor penting.
Kerugian Holder Jangka Panjang Turun 85%
Di tengah tekanan harga, Glassnode menemukan perkembangan yang relatif positif dari kelompok holder jangka panjang.
Menurut laporan tersebut, kerugian yang direalisasikan oleh pemegang jangka panjang telah menurun sekitar 85% sejak mencapai puncaknya pada 12 Agustus 2026.
Kerugian terealisasi terjadi ketika investor menjual aset pada harga lebih rendah dibandingkan harga pembeliannya.
Penurunan metrik tersebut menunjukkan bahwa aktivitas penjualan Bitcoin dalam kondisi rugi oleh holder jangka panjang telah berkurang secara signifikan.
Hal ini dapat mengindikasikan meredanya sebagian tekanan jual dari kelompok investor tersebut.
Namun, penurunan kerugian terealisasi tidak otomatis berarti investor kembali melakukan pembelian besar-besaran.
Untuk mengonfirmasi pemulihan permintaan, pasar tetap membutuhkan indikator tambahan seperti arus dana ETF dan aktivitas akumulasi on-chain.
Bitcoin Masih Menunjukkan Struktur Bullish?
Meskipun harga Bitcoin mengalami penurunan, Glassnode mencatat bahwa sejumlah indikator on-chain masih memperlihatkan struktur pasar yang relatif konstruktif.
Bitcoin dilaporkan masih berada di atas indikator True Market Mean dan Short-Term Holder Cost Basis.
Kedua indikator tersebut dapat digunakan untuk mengukur posisi harga Bitcoin dibandingkan basis biaya kelompok investor tertentu.
Menurut Glassnode, BTC telah berada di atas kedua indikator sejak 18 September 2026.
Periode tersebut dikategorikan perusahaan sebagai kondisi pasar bullish berdasarkan kerangka analisisnya.
Namun, struktur bullish tersebut dapat melemah apabila Bitcoin terus mengalami penurunan dan kehilangan level-level penting.
Karena itu, kemampuan BTC mempertahankan US$80.000 hingga US$81.500 menjadi faktor penting untuk menilai apakah tekanan terbaru masih merupakan koreksi sementara.
ETF Bitcoin Catat Arus Keluar US$760 Juta
Salah satu tantangan terbesar Bitcoin saat ini berasal dari melemahnya permintaan institusional melalui produk ETF spot.
Menurut Glassnode, ETF Bitcoin spot AS sebelumnya mencatat arus masuk hampir US$3 miliar sepanjang 21 September hingga 6 Oktober 2026.
Periode tersebut menjadi salah satu fase akumulasi yang kuat, bahkan disebut sebagai laju arus masuk tercepat sejak November 2025.
Namun, situasi berubah setelah 7 Oktober.
ETF Bitcoin spot AS kemudian mencatat sekitar US$760 juta arus keluar bersih.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa permintaan melalui instrumen ETF melemah setelah sebelumnya memberikan dukungan besar terhadap pasar.
Arus keluar ETF tidak selalu berarti seluruh investor institusional meninggalkan Bitcoin.
Namun, kondisi tersebut dapat mengurangi salah satu sumber permintaan yang sebelumnya membantu menopang harga BTC.
Mengapa Arus Dana ETF Penting?
ETF Bitcoin spot memungkinkan investor memperoleh eksposur terhadap Bitcoin melalui instrumen pasar modal tanpa harus mengelola aset kripto secara langsung.
Ketika ETF menerima arus masuk bersih, mekanisme pembentukan unit ETF dapat menciptakan kebutuhan pembelian Bitcoin oleh pihak terkait.
Sebaliknya, arus keluar bersih dapat mengurangi permintaan atau menciptakan tekanan penjualan melalui mekanisme penebusan.
Karena itu, pergerakan arus dana ETF menjadi salah satu indikator penting untuk memahami minat investor terhadap Bitcoin.
Namun, arus dana ETF bukan satu-satunya penentu harga.
Bitcoin juga diperdagangkan secara global melalui bursa spot dan derivatif, sehingga perubahan harga mencerminkan interaksi banyak kelompok investor.
Meski demikian, Glassnode menilai kembalinya arus masuk ETF secara konsisten akan menjadi salah satu tanda paling jelas bahwa permintaan terhadap Bitcoin mulai pulih.
Apakah Bitcoin Akan Rebound atau Turun Lebih Dalam?
Prospek Bitcoin dalam jangka pendek masih menghadapi dua kemungkinan utama.
Dalam skenario pemulihan, Bitcoin perlu mempertahankan support US$80.000 hingga US$81.500.
Jika permintaan kembali meningkat dan ETF mencatat arus masuk bersih yang konsisten, BTC berpotensi bergerak menuju resistance US$88.000.
Namun, investor juga perlu memperhatikan potensi penjualan dari pemegang yang memiliki basis biaya di sekitar level tersebut.
Sebaliknya, apabila Bitcoin gagal mempertahankan US$80.000, risiko likuidasi posisi leverage dapat meningkat.
Dalam skenario tersebut, area US$78.000 menjadi salah satu level berikutnya yang diperhatikan berdasarkan analisis Glassnode.
Selain faktor teknikal, perkembangan inflasi AS dan kebijakan The Fed tetap dapat memengaruhi arah pasar.
Karena itu, pergerakan Bitcoin pada periode ini membutuhkan perhatian terhadap kombinasi data makroekonomi, permintaan ETF, dan struktur harga.

Kesimpulan
Harga Bitcoin turun ke sekitar US$81.707 pada 14 Oktober 2026, melemah 1,6% setelah inflasi Amerika Serikat tercatat lebih tinggi dibandingkan perkiraan.
Inflasi utama AS mencapai 3,7% secara tahunan, melampaui proyeksi 3,6%, sementara inflasi inti berada pada 2,6%.
Menurut Glassnode, US$80.000 menjadi support paling penting karena terdapat konsentrasi order beli dan potensi tekanan likuidasi di bawah level tersebut.
Sementara itu, US$81.500 merupakan area basis biaya rata-rata ETF Bitcoin spot AS.
Jika Bitcoin kehilangan US$80.000, risiko koreksi menuju US$78.000 dapat meningkat.
Di sisi atas, US$88.000 menjadi resistance utama karena terdapat kelompok investor dengan basis biaya di sekitar harga tersebut.
Meskipun kerugian terealisasi holder jangka panjang telah turun sekitar 85%, permintaan institusional masih menghadapi tantangan setelah ETF Bitcoin spot mencatat arus keluar bersih sekitar US$760 juta sejak 7 Oktober.
Dengan demikian, arah Bitcoin selanjutnya akan sangat bergantung pada kemampuan harga mempertahankan support, kembalinya permintaan ETF, dan perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Harga aset kripto memiliki risiko dan volatilitas tinggi.
CEK SELENGKAPNYA ARTIKEL BERITA KRIPTO TERBARU DI SINI >>





