Harga Bitcoin (BTC) berhasil melewati September 2026 dengan performa positif. Aset kripto terbesar di dunia tersebut mencatat kenaikan 6,33% sepanjang September, sekaligus mematahkan reputasi bulan tersebut yang secara historis kerap menjadi periode buruk bagi Bitcoin.
Namun, memasuki Oktober, muncul pertanyaan baru: apakah permintaan terhadap Bitcoin masih cukup kuat untuk mempertahankan reli?
Sejumlah indikator mulai memberikan sinyal yang perlu diperhatikan. Arus dana exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot di Amerika Serikat mulai melemah, permintaan spot menurun, sementara holder jangka panjang mulai meningkatkan aksi ambil untung.
Pada saat yang sama, Bitcoin menghadapi tembok jual cukup besar di sekitar US$85.000-US$85.500.
Bitcoin Berhasil Patahkan “Kutukan September”
September secara historis bukan bulan yang ramah bagi Bitcoin.
Data Coinglass yang dikutip BeInCrypto menunjukkan sejak 2013 Bitcoin rata-rata mengalami kerugian sekitar 2,41% selama September.
Namun, tren tersebut mulai berubah.
Bitcoin kini berhasil mencatatkan kenaikan pada September selama empat tahun berturut-turut, yakni dari 2023 hingga 2026.
Pada September 2026, Bitcoin bahkan membukukan kenaikan 6,33%.
Kinerja tersebut juga membuat Bitcoin mengungguli sejumlah aset tradisional. Menurut data Santiment yang dikutip BeInCrypto, emas turun lebih dari 6% selama September, sementara indeks S&P 500 juga mengalami penurunan ringan.
Performa Bitcoin selama September juga menghasilkan sinyal positif dari sisi teknikal.
CryptoQuant menilai kenaikan terbaru berpotensi menjadi awal fase bull market baru.
Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah kemampuan Bitcoin menutup perdagangan mingguan di atas moving average 365 hari.
CryptoQuant melihat kondisi tersebut sebagai konfirmasi perubahan tren. Bull Score Index miliknya juga telah mencapai 90 dari 100, menunjukkan sejumlah indikator on-chain berada dalam kondisi yang mendukung pasar bullish.
Meski demikian, indikator bullish tidak berarti harga Bitcoin pasti terus meningkat.
Kekuatan reli masih akan sangat bergantung pada permintaan baru yang masuk ke pasar.
Oktober Secara Historis Positif bagi Bitcoin
Oktober memiliki reputasi yang jauh lebih baik dibandingkan September di kalangan investor kripto sehingga kerap dijuluki sebagai “Uptober.”
Data historis menunjukkan Bitcoin menutup 10 dari 13 Oktober terakhir dengan kenaikan harga.
Median kenaikannya mencapai sekitar 12,73%.
Data tersebut memang memberikan gambaran menarik mengenai pola historis Bitcoin.
Namun, performa masa lalu tidak menjamin pergerakan harga yang sama akan terjadi pada Oktober 2026.
Justru terdapat satu persoalan yang mulai muncul: pembeli Bitcoin mulai berkurang.
Permintaan ETF Bitcoin Mulai Melemah
Salah satu sinyal paling jelas terlihat dari ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat.
Pada 21 September, ETF Bitcoin spot berhasil mencatat arus masuk mencapai US$998,95 juta, berdasarkan data SoSoValue.
Angka tersebut merupakan arus masuk harian terbesar dalam hampir satu tahun.
Namun, momentum tersebut secara perlahan menghilang.
Pada 28 September, arus masuk turun drastis menjadi hanya US$31,07 juta.
Kemudian pada 30 September, ETF Bitcoin spot justru mencatat arus keluar bersih US$148,69 juta.
Lebih menarik lagi, tidak satu pun dari 12 ETF Bitcoin yang dipantau mencatatkan arus masuk pada hari tersebut.
Perubahan ini menjadi penting karena ETF telah berkembang menjadi salah satu sumber permintaan institusional terbesar bagi Bitcoin.
Permintaan Spot Bitcoin Turun 170.000 BTC
Pelemahan tidak hanya terlihat dari ETF.
Data CryptoQuant memperkirakan permintaan spot Bitcoin yang terlihat berkurang sekitar 170.000 BTC dalam periode 30 hari.
Permintaan di pasar futures juga mengalami penurunan tajam.
Pertumbuhan permintaan futures yang sebelumnya mencapai sekitar 164.000 BTC pada 14 September, turun menjadi hanya sekitar 16.000 BTC menjelang akhir bulan.
Volume perdagangan juga belum menunjukkan peningkatan berarti.
Glassnode memperkirakan kombinasi volume perdagangan spot dan ETF hanya sekitar US$6,4 miliar per hari.
Angka tersebut berada di bagian bawah kisaran volume perdagangan setelah peluncuran ETF.
Dengan kata lain, harga Bitcoin memang naik, tetapi aktivitas pembelian yang menopang kenaikan tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan.
Baca juga :
- Prediksi Bitcoin di Bulan Oktober 2026: Akankah “Uptober” Kembali Terjadi?
- Harga Bitcoin Menuju US$100.000? Sinyal Fidelity Muncul Setelah BTC Tembus US$80.000
- Bitget Diretas Rp6,29 Triliun, Hacker Korea Utara Diduga Jadi Dalang
- Mengenal Microsoft dan Peluang Saham Microsoft di Tengah Perkembangan AI
Holder Bitcoin Jangka Panjang Mulai Ambil Untung
Ketika permintaan baru mulai melemah, kelompok investor lainnya justru mulai menjual.
Holder Bitcoin lama mulai memanfaatkan kenaikan harga untuk merealisasikan keuntungan.
Menurut CryptoQuant, holder Bitcoin membukukan profit sekitar 25.700 BTC pada 22 September.
Jumlah tersebut menjadi realisasi keuntungan harian terbesar sepanjang 2026.
Aktivitas holder jangka panjang juga meningkat.
Glassnode mendefinisikan holder jangka panjang sebagai investor yang telah menyimpan Bitcoin selama lebih dari 155 hari.
Persentase keuntungan yang direalisasikan kelompok tersebut meningkat dari 34% menjadi 55% dalam satu minggu hingga 29 September.
Artinya, semakin banyak investor lama yang memanfaatkan kenaikan Bitcoin untuk mengambil keuntungan.
Profit Trader Bitcoin Sudah Mencapai 33%
CryptoQuant juga menemukan bahwa margin keuntungan belum terealisasi yang dimiliki trader telah mencapai sekitar 33%.
Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak Desember 2024.
Dalam analisisnya, CryptoQuant memperingatkan bahwa margin keuntungan yang semakin besar secara historis sering diikuti peningkatan aksi jual dan tekanan terhadap harga.
Logikanya cukup sederhana.
Semakin besar keuntungan yang dimiliki investor, semakin besar pula insentif untuk merealisasikan sebagian profit tersebut.
Namun, Glassnode mencatat bahwa aktivitas profit-taking saat ini masih jauh lebih rendah dibandingkan tingkat yang terlihat ketika Bitcoin mencapai puncak pasar pada 2024 dan 2025.
Karena itu, aksi jual holder lama belum tentu menunjukkan bahwa reli Bitcoin telah berakhir.
Bitcoin Hadapi Tembok Jual US$85.000
Tantangan terdekat Bitcoin kini berada pada level harga sekitar US$85.000.
Ketika laporan BeInCrypto diterbitkan pada 1 Oktober, Bitcoin diperdagangkan sekitar US$84.198, naik 0,9% dalam 24 jam.
Glassnode menemukan terdapat konsentrasi order jual cukup besar di Binance pada kisaran US$85.000-US$85.500.
Tembok jual tersebut mulai muncul sejak 24 September dan ukurannya dilaporkan telah meningkat hingga sekitar tiga kali lipat.
Kondisi tersebut menjadikan US$85.000 sebagai salah satu resistance penting Bitcoin pada awal Oktober.
Jika pembeli mampu menyerap order jual tersebut, BTC berpeluang mencoba melanjutkan kenaikannya.
Namun, apabila permintaan tetap melemah, resistance tersebut dapat menjadi area terjadinya tekanan jual.
US$80.000 Jadi Support Penting Bitcoin
Sementara resistance berada di sekitar US$85.000-US$85.500, investor juga perlu memperhatikan area support.
CryptoQuant menempatkan support pertama Bitcoin di sekitar US$80.000, berdekatan dengan moving average 365 hari.
Jika level tersebut gagal bertahan, area berikutnya berada di sekitar US$77.200.
Glassnode menyebut level tersebut sebagai True Market Mean, yakni perkiraan harga rata-rata yang dibayarkan oleh investor Bitcoin aktif.
Dengan demikian, Bitcoin memasuki Oktober dengan rentang teknikal yang cukup jelas.
Area US$85.000-US$85.500 menjadi ujian bagi pembeli, sedangkan US$80.000 dan US$77.200 menjadi zona yang perlu diperhatikan apabila tekanan jual meningkat.
ETF Bisa Menentukan Arah Bitcoin Selanjutnya
Pergerakan ETF menjadi salah satu indikator terpenting untuk melihat apakah Bitcoin mampu menembus resistance tersebut.
Glassnode menilai breakout yang lebih meyakinkan membutuhkan kembalinya arus masuk ETF sekaligus peningkatan volume perdagangan ketika Bitcoin melewati resistance.
Hal ini menjadi penting karena kondisi pasar saat ini memperlihatkan dua kekuatan yang berlawanan.
Di satu sisi, Bitcoin memiliki momentum positif setelah naik 6,33% selama September dan sejarah Oktober yang cenderung kuat.
Di sisi lain, arus ETF melemah, permintaan spot berkurang dan holder jangka panjang mulai merealisasikan keuntungan.
Pertarungan antara permintaan baru dan pasokan dari investor lama kemungkinan akan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan pergerakan Bitcoin sepanjang Oktober.
Apakah “Uptober” Bitcoin Akan Terjadi Lagi?
Secara historis, Oktober memang merupakan salah satu bulan yang cukup kuat bagi Bitcoin.
Namun, data 2026 menunjukkan investor sebaiknya tidak hanya mengandalkan pola musiman tersebut.
Kondisi pasar sekarang sangat bergantung pada apakah permintaan institusional kembali meningkat.
Jika ETF Bitcoin kembali mencatat arus masuk besar dan volume perdagangan meningkat, Bitcoin berpotensi mendapatkan tenaga untuk menghadapi resistance US$85.000-US$85.500.
Sebaliknya, apabila permintaan ETF terus melemah sementara holder jangka panjang meningkatkan aksi ambil untung, Bitcoin dapat kembali menguji area support.
Karena itu, Uptober 2026 bukan hanya persoalan sejarah harga Bitcoin, tetapi juga persoalan siapa yang masih bersedia membeli BTC pada level saat ini.
Kesimpulan
Bitcoin berhasil menutup September 2026 dengan kenaikan 6,33%, sekaligus melanjutkan tren positif September selama empat tahun berturut-turut.
Sejarah juga memberikan sentimen positif menjelang Oktober. Bitcoin mencatat kenaikan dalam 10 dari 13 Oktober terakhir dengan median kenaikan sekitar 12,73%.
Namun, kondisi permintaan memberikan sinyal yang lebih hati-hati.
ETF Bitcoin spot AS berbalik mencatat arus keluar bersih US$148,69 juta pada 30 September, sementara CryptoQuant memperkirakan permintaan spot berkurang sekitar 170.000 BTC selama 30 hari. Holder jangka panjang pada saat yang sama mulai meningkatkan aksi ambil untung.
Bitcoin kini menghadapi resistance penting di US$85.000-US$85.500, sementara area US$80.000 menjadi support awal yang perlu diperhatikan.
Dengan demikian, prospek Bitcoin pada Oktober 2026 akan sangat bergantung pada apakah permintaan ETF dan pasar spot kembali meningkat sehingga mampu menyerap tekanan jual dari holder lama.








