Harga Bitcoin (BTC) kembali bergerak menguat setelah Federal Reserve atau The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan Amerika Serikat pada kisaran 3,50% hingga 3,75%.
Keputusan tersebut diambil dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu, 29 Juli 2026 waktu Amerika Serikat, atau Kamis, 30 Juli 2026 waktu Indonesia.
Tak lama setelah keputusan diumumkan, harga Bitcoin bergerak dari sekitar US$63.700 menuju level intraday US$64.700. Setelah itu, BTC diperdagangkan di kisaran US$64.300, atau mencatat kenaikan sekitar 1,1% dalam 24 jam.
Pergerakan positif juga terlihat pada pasar emas yang sempat menembus level US$4.084 per ons. Reaksi pasar tersebut menunjukkan bahwa investor menyambut keputusan The Fed yang memilih untuk tidak menaikkan suku bunga.
Keputusan FOMC Diwarnai Perbedaan Pendapat
Keputusan mempertahankan suku bunga kali ini tidak sepenuhnya mendapatkan dukungan bulat dari anggota FOMC.
Hasil pemungutan suara menunjukkan perbandingan 9 banding 3. Sebanyak sembilan anggota mendukung keputusan untuk mempertahankan suku bunga, sedangkan tiga pejabat lainnya menginginkan kenaikan sebesar 25 basis poin.
Tiga pejabat yang berbeda pendapat tersebut adalah Presiden Federal Reserve Cleveland Beth Hammack, Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari, dan Presiden Federal Reserve Dallas Lorie Logan.
Mereka menilai tekanan inflasi masih menjadi perhatian karena tingkat inflasi belum sepenuhnya kembali ke target bank sentral Amerika Serikat sebesar 2%.
Meski terdapat perbedaan pandangan, mayoritas anggota FOMC tetap memilih untuk mempertahankan kebijakan suku bunga pada pertemuan Juli. The Fed juga menegaskan bahwa keputusan berikutnya akan sangat bergantung pada perkembangan ekonomi dan data terbaru.
Mengapa Harga Bitcoin Justru Naik?
Salah satu alasan Harga Bitcoin menguat setelah keputusan FOMC adalah karena pasar sebelumnya sempat memperkirakan adanya kemungkinan kenaikan suku bunga.
Sehari sebelum pengumuman, sejumlah indikator pasar menunjukkan bahwa peluang kenaikan suku bunga sempat meningkat. Data CME FedWatch bahkan sempat menunjukkan probabilitas kenaikan mendekati 30%, sedangkan pasar prediksi Kalshi memperkirakan peluang sekitar 23%.
Ketika The Fed akhirnya memilih untuk mempertahankan suku bunga, kekhawatiran mengenai potensi kenaikan bunga pun mereda.
Situasi tersebut memberikan sentimen positif bagi aset berisiko seperti Bitcoin. Investor yang sebelumnya bersiap menghadapi kebijakan moneter lebih ketat kemudian melihat keputusan The Fed sebagai perkembangan yang relatif lebih positif bagi pasar kripto.
Ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga pada pertemuan berikutnya juga mengalami perubahan. Pasar swap suku bunga tidak lagi sepenuhnya memperkirakan kenaikan suku bunga pada pertemuan September.
Sikap The Fed Masih Cenderung Hawkish
Meskipun suku bunga tidak mengalami perubahan, komunikasi The Fed masih dinilai memiliki nada hawkish.
Sikap hawkish menunjukkan bahwa bank sentral masih memberikan perhatian besar terhadap risiko inflasi dan belum memberikan sinyal yang jelas mengenai pelonggaran kebijakan moneter.
Inflasi yang masih berada di atas target 2% menjadi salah satu alasan utama The Fed tetap berhati-hati. Selain itu, perkembangan harga energi akibat konflik geopolitik di Timur Tengah juga menjadi faktor yang berpotensi memengaruhi tekanan inflasi.
Respons pasar obligasi turut menunjukkan adanya kekhawatiran bahwa suku bunga tinggi dapat bertahan lebih lama. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun sempat menembus 5,2%, sementara yield Treasury 10 tahun berada di sekitar 4,67%.
Kenaikan imbal hasil obligasi biasanya mencerminkan meningkatnya ekspektasi investor bahwa kebijakan suku bunga ketat masih akan berlangsung dalam waktu yang lebih lama.
Apa Dampaknya bagi Bitcoin?
Keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga memberikan ruang bagi Bitcoin untuk mendapatkan sentimen positif dalam jangka pendek.
Pasar sebelumnya telah memperhitungkan risiko kenaikan suku bunga. Ketika risiko tersebut tidak terwujud, investor dapat kembali meningkatkan eksposur terhadap aset berisiko, termasuk aset kripto.
Namun, kondisi tersebut belum tentu menjadi sinyal bahwa Bitcoin akan langsung memasuki tren kenaikan berkelanjutan. Kebijakan moneter The Fed masih sangat bergantung pada perkembangan inflasi, pasar tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi, serta harga energi.
Karena itu, investor Bitcoin perlu mencermati data ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis dalam beberapa pekan mendatang. Data tersebut dapat memengaruhi ekspektasi pasar mengenai arah kebijakan The Fed pada pertemuan FOMC berikutnya.
Investor Menanti Data Ekonomi Berikutnya
Setelah keputusan FOMC Juli, perhatian pelaku pasar kini beralih pada sejumlah indikator ekonomi utama Amerika Serikat.
Data inflasi seperti CPI dan PCE, perkembangan pasar tenaga kerja, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), serta pergerakan harga minyak akan menjadi beberapa faktor penting yang dapat memengaruhi kebijakan bank sentral.
Jika tekanan inflasi terus menurun, peluang pelonggaran kebijakan moneter dapat meningkat. Kondisi tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi aset berisiko seperti Bitcoin.
Sebaliknya, jika inflasi kembali meningkat dan The Fed mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama, pasar kripto dapat menghadapi tekanan.
Dengan demikian, meskipun Bitcoin menguat setelah keputusan FOMC, investor tetap perlu melihat perkembangan data ekonomi secara keseluruhan sebelum mengambil kesimpulan mengenai arah harga BTC berikutnya.
Kesimpulan
Bitcoin merespons positif keputusan The Fed yang mempertahankan suku bunga di level 3,50%–3,75%. Kenaikan tersebut terjadi setelah pasar sebelumnya sempat mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga.
Meski demikian, perbedaan suara di internal FOMC dan sikap komunikasi yang masih hawkish menunjukkan bahwa risiko kebijakan moneter ketat belum sepenuhnya hilang.
Dalam beberapa pekan ke depan, data inflasi, tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi, dan harga energi akan menjadi perhatian utama pasar. Perkembangan indikator tersebut dapat menentukan apakah sentimen positif terhadap Bitcoin mampu berlanjut atau justru kembali menghadapi tekanan.
Bagi investor, keputusan FOMC sebaiknya tidak dilihat sebagai satu-satunya faktor penentu harga Bitcoin. Kondisi likuiditas global, sentimen pasar, arus dana institusional, dan perkembangan ekonomi makro juga perlu menjadi bagian dari pertimbangan dalam membaca pergerakan pasar kripto.





